Reversing Cancer Possibilities – Bagian 4

REVERSING CANCER POSSIBILITIES
(Bagian 4 – pH, High Altitude, Physical Exercise, Glucose)

Oleh: Mas Gunggung

Segala sesuatu di alam ini memiliki lingkungan atau habitat tempat tinggal. Jika seseorang berada pada lingkungan yang dianggap buruk maka ia akan berusaha berpindah ke lingkungan yang dianggap baik. Proses ini sederhananya disebut dengan istilah “hijrah” yakni suatu keadaan dimana perpindahan terjadi yang buruk menjadi baik namun tidak kebalikannya.

Demikian juga dengan darah yang ada pada tubuh ini yang juga memiliki lingkungan. Secara umum, darah manusia hanya berada pada 2 (dua) kondisi yakni Asam atau Basa. Sesuatu yang menunjukkan kondisi Asam atau Basa dikenal dengan istilah pH.

pH, Basal Metabolic Panel (BMP) dan Analisa Arterial Blood Gasses (ABG)

pH singkatan dari “Power of Hydrogen” yakni suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dalam tubuh. Skala pH dari 1 hingga 14 dengan kategori sebagai berikut: pH = 7 ==> Netral, pH < 7 ==> Asam, dan pH > 7 ==> Basa.

Nilai pH normal pada darah manusia disepakati berada pada angka 7.35 hingga 7.45. Dengan kata lain, pH pada darah manusia selalu dijaga untuk berada pada kondisi cenderung Basa namun tidak terlalu Basa. Tubuh manusia akan berusaha melakukan penyeimbangan pH ini setiap saat dan akan terus dijaga hingga akhir hayat. Perubahan pH dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya makanan, aktivitas fisik, stres, pernafasan, dan lain sebagainya.

Untuk memahami detail mengenai teori Asam-Basa memang harus mempelajari ilmu yang disebut dengan Basal Metabolic Panel (BMP) dan analisa Arterial Blood Gasses (ABG). Analisa ABG merupakan bagian penting dari diagnosa dari sisi status oksigenasi dan keseimbangan Asam-Basa pada seseorang.

Pada BMP terdiri dari 7 (tujuh) pengukuran utama yang sering disebut dengan istilah “Chem-7” sebagai berikut:

  1. Na+ (sodium)
  2. K+ (potassium)
  3. Cl- (chloride)
  4. HCO3- (bicarbonate)
  5. BUN (blood urea nitrogen)
  6. Cr (creatinine)
  7. Glucose

Terdapat juga pengukuran yang menambahkan Ca++ (calcium), Mg++ (magnesium), Phos– (phosphate), Albumin, LDH (lactate dehydrogenase) dan lain-lain hingga 16 (enam belas) parameter yang dikenal dengan istilah “Comprehensive Metabolic Panel”. Yang sering dipakai umumnya Chem-7 diatas.

Sedangkan analisa Arterial Blood Gasses (ABG) dan nilai rujukannya terdiri dari:

  1. pH: 7.35-7.45
  2. CO2: 35-45
  3. pO2: 80-100
  4. HCO3: 22-26
  5. O2 saturation: 95-100%

Ada pendekatan pola yang dipakai ketika memahami analisa ABG dan BMP. Pada analisa ABG akan dilihat berdasarkan urutan nilai pH, CO2, dan HCO3. Dari ketiga nilai tersebut kemudian akan dapat dilihat bagaimana kelanjutan penangangannya. Apakah cukup dengan ABG ataukah masuk pada BMP.

Pada analisa ABG misalnya jika pH dibawah 7.35 (acidosis) maka dilihat nilai CO2 apakah tinggi atau rendah. Jika CO2 tinggi maka ia masuk pada kategori Respiratory Acidosis. Sedangkan jika nilai HCO3 (bikarbonat) rendah maka ia masuk pada kategori Metabolic Acidosis. Demikian juga apabila nilai pH diatas 7.45 (alkalosis) maka dilihat juga nilai CO2 apakah tinggi atau rendah? Jika nilai CO2 rendah maka ia masuk pada kategori Respiratori Alkalosis. Sedangkan jika nilai HCO3 (bikarbonat) tinggi maka ia masuk pada kategori Metabolic Alkalosis.

Setelah mendapatkan definisi tersebut, kemudian akan dilihat bagaimana caranya melakukan kompensasi terhadap nilai-nilai yang ada diatas. Misalnya, jika terjadi kondisi Acidosis (pH < 7.35) dengan nilai CO2 normal namun HCO3 (bikarbonat) rendah maka ia tergolonng pada Metabolic Acidosis. Pada jenis ini, kompensasi yang bisa dilakukan adalah via Respiratori (pernapasan).

Jika kemudian terjadi hal lain, maka digunakan uji tambahan via parameter BMP untuk melihat yang lainnya (misal Albumin, Lactate, Glucose, dll) agar didapat koreksi perbaikan dan solusi yang harus dilakukan sebagai penanganan pada pasien.

Jangan khawatir, saya tidak akan membahas semuanya karena akan menjadi sangat panjang dan Anda bisa pusing kepala melihatnya. 🙂

Saya akan bahas mengenai pH dulu. Seperti dijelaskan diatas bahwa pH terdiri dari dua kondisi yakni Asam atau Basa. Nilai pH yang berada pada angka 7.45 diatas sesungguhnya diturunkan dari persamaan Henderson-Hasselbalch (H-H) yang secara matematis mengilustrasikan bagaimana pH dipengaruhi oleh rasio HCO3- (bikarbonat) dan H2CO3 (sistem buffer bikarbonat) dengan rumus sebagai berikut:

pH = pK + log (HCO3- / H2CO3)

Nilai pK diturunkan dari konstanta diasosiasi dari Asam. Rasio pK adalah 6:1 dengan rasio HCO3- dan H2CO3 adalah 20:1 pada kondisi normal. Secara klinis, CO2 terlarut (pCO2 x 0.03) dapat digunakan sebagai denominator pada persamaan H-H. Hal ini dimungkinkan mengingat kesetimbangan CO2 terlarut dalam darah berbanding lurus dengan H2CO3. PaCO2 mudah diukur melalui analisa Arterial Blood Gasses (ABG) dan dapat dengan mudah dikonversi menjadi mmol/L (sama dengan mEq/L) sehingga rumus diatas akan menjadi sebagai berikut:

pH = 6.1 + log10 ( (HCO3- / (0.03xpCO2)) )

Penerapan persamaan H-H pada kondisi Normal ketika nilai HCO3- adalah 24 mEq/L dan pCO2 = 40 mmHg akan menghasilkan rasio 20:1 dengan perincian persamaan sebagai berikut:

pH = pK + log (( (HCO3- / (0.03xpCO2)) )
= 6.1 + log ((24 / (0.03 x 40)) )
= 6.1 + log (24/1.2)
= 6.1 + log (20)
= 6.1 + 1.3
= 7.4

Inilah asal mula nilai normal pH pada angka 7.4. 🙂

Sedangkan penerapan persamaan H-H pada kondisi Tidak Normal terbagi menjadi 2 (dua) yakni ketika nilai HCO3- = 29 mEq/L dan pCO2 = 80 mmHg, maka rasio menurun menjadi 12:1 dan nilai pH menjadi 7.18 (semakin Asam). Demikian juga kebalikannya, ketika nilai HCO3- = 20 mEq/L dan pCO2 = 20 mmHg maka rasio meningkat menjadi 33:1 dan nilai pH menjadi 7.62 (semakin Basa).

pH = pK + log (( (HCO3- / (0.03xpCO2)) )
= 6.1 + log ((29 / (0.03 x 80)) )
= 6.1 + log (29/2.4)
= 6.1 + log (12)
= 6.1 + 1.08
= 7.18 (semakin Asam)

pH = pK + log (( (HCO3- / (0.03xpCO2)) )
= 6.1 + log ((20 / (0.03 x 20)) )
= 6.1 + log (20/0.6)
= 6.1 + log (33)
= 6.1 + 1.52
= 7.62 (semakin Basa)

Jadi, dapat dilihat bahwa nilai HCO3- (bikarbonat) dan CO2 (karbondioksida) adalah yang berperan dalam pengubahan pH. Hal ini memiliki implikasi bahwa konsentrasi gas merupakan yang paling berpengaruh pada perubahan pH sekaligus yang paling cepat mempengaruhi perubahannya. Dengan kata lain, pernapasan adalah metode tercepat untuk mempengaruhi perubahan pH. Bukan makanan ataupun minuman seperti yang selama ini sering dipahami orang. Memang makanan dan minuman dapat menyebabkan terjadinya perubahan pH namun tidak secepat seperti pernapasan.

Asam dan Basa ada prinsip makanan dan minuman sesungguhnya didasarkan pada Potential Renal Acid Loads (PRALs) dan digolongkan pada 3 (tiga) hal yakni Pembentuk Asam, Pembentuk Basa, dan Potensial Netral. Pada makanan Pembentuk Asam didasarkan pada kehadiran Chlorine, Phosporus, dan Sulphur. Sedangkan pada makanan Pembentuk Basa didasarkan pada kehadiran Calcium, Magnesium, Potassium, dan Sodium. Apabila dalam jangka waktu lama terjadi maka akan menyebabkan Metabolik Acidosis atau Metabolik Alkalosis yakni suatu kondisi dimana metabolisme berubah menjadi terlalu Asam atau terlalu Basa.

Mengapa pH menjadi penting? Hal ini karena reaksi metabolisme sangat sensitif terhadap perubahan pH yakni fungsional protein, enzim, dan biokimia lainnya. Indikator tubuh yang sehat adalah pH yang optimal. Untuk itu, pemahaman mengenai cara menggeser Asam Basa memudahkan dalam mengembalikan kondisi tubuh menjadi optimal.

Sel Darah Merah dan Medan Listrik

Sel darah merah berbentuk seperti donat tak berlubang dimana bagian tengahnya lebih pipih. Bentuk seperti itu disebabkan karena adanya perbedaan muatan listrik antara bagian luar dan bagian tengah. Bagian terluar dari sel darah merah memiliki muatan negatif (-) sedangkan bagian dalamnya memiliki muatan positif (+). Sebagaimana prinsip magnet dimana jika ada dua muatan yang berbeda berdekatan maka akan terjadi kondisi tarik menarik. Itulah yang kemudian membuat bagian tengah darah menjadi pipih dan lebih cekung.

Bagian diluar sel darah merah dilingkupi oleh sebuah medan listrik yang disebut dengan Zeta Potensial yang memiliki muatan positif (+). Diluar Zeta Potensial itulah tersebar secara acak muatan positif (+) dan muatan negatif (-). Oleh karena bagian luar masing-masing individu sel darah merah memiliki muatan yang sama (+) maka semestinya antara satu sel darah merah dengan sel darah merah yang lain tidak akan saling menempel. Hal ini dikarenakan pada prinsip magnet dimana jika ada dua muatan yang sama berdekatan maka akan terjadi kondisi tolak menolak. Namun apabila kondisi muatan listrik ini berubah oleh satu dan lain hal maka terjadilah perubahan muatan listrik pada darah. Bagian diluar Zeta Potensial itu adalah plasma dan merupakan area yang dapat dipengaruhi oleh berbagai hal.

Dalam kaidah fluida, yang disebut dengan Asam adalah Proton Donor sedangkan Basa adalah Proton Acceptor. Jadi, manakala oleh karena kebiasaan hidup seseorang dimana ia banyak sekali memakan makanan penghasil Asam atau menghasilkan kondisi yang menyebabkan Asam (misalnya Stres berkepanjangan atau olahraga intens tanpa henti) maka cairan tubuhnya (plasma) akan lebih banyak menerima Proton sehingga menyebabkan terjadilah dominasi salah satu muatan pada plasma darah. Efeknya sudah jelas, perubahan sifat magnetisme pada plasma menjadi dominan bermuatan tertentu sehingga mempengaruhi muatan terluar pada sel darah merah. Terjadilah koagulasi dan berikutnya akan menyebabkan efek “Van Der Waals force” dimana sel darah merah akan saling tarik menarik dan melekat satu sama lain. Akhirnya mulailah terjadi perlengketan antara satu sel darah merah dengan sel darah merah yang lain. Makin lama perlengketan ini makin banyak hingga menjadi sebuah kondisi yang disebut dengan Rouleau. Apabila Rouleau ini terjadi sangat banyak maka akan menjadi Erithrocyte Aggregation. Pergerakan darah menjadi sangat lambat akibat penggumpalan.

Dan dimulailah permasalahan baru dimana darah menjadi ‘kental’, lengket, dan menggumpal. Efeknya, darah jenis ini jadi sulit untuk melewati pembuluh kapiler. Padahal pembuluh kapiler ini adalah pintu gerbang untuk pengiriman nutrisi dan oksigen. Otomatis jika darah tidak mampu melewati pembuluh kapiler maka jaringan organ akan mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen. Jika terjadi dalam jangka waktu lama maka menyebabkan masalah serius dan bahkan kematian misalnya pada pembuluh darah yang menyempit akibat penumpukan kolesterol. Oksigen yang semestinya masuk ke dalam jaringan tubuh dan melakukan reaksi biokimia untuk menghasilkan energi menjadi terhalang. Timbullah radikal bebas dan lebih banyak oksigen terperangkap pada sel lemak yang tidak dapat diproses.

Lingkungan plasma darah jenis ini mesti ‘dibersihkan’ dari dominasi Proton Donor yang menyebabkan Asam dan mesti diganti menjadi Basa dengan cara meningkatkan asupan Oksigen lebih banyak atau dengan cara menguras Karbondioksida. Cara memasukkan asupan oksigen lebih banyak adalah melalui olahraga fisik berjenis aerobik sedangkan cara menguras karbondioksida dapat dilakukan melalui olah napas. Namun olahraga fisik berjenis aerobik perlu waktu cukup lama untuk mengkondisikan perubahan cairan tubuh menjadi Basa. Apalagi jika tekniknya tidak dipahami dengan baik. Disinilah teknik olah napas mengambil peran penting sebagai sebuah teknik untuk mengkondisikan Oksigen dan Karbondioksida dalam tubuh untuk mengubah kondisi plasma menjadi cenderung Asam atau cenderung Basa.

Kanker dan Metabolisme Glukosa, pH, serta High Altitude

Secara umum, bukan dengan maksud menganggap remeh kanker, pada dasarnya kanker sangat suka dengan Insulin dan Glukosa. Artinya, sel kanker akan mengkondisikan dirinya untuk tidak mau berkompetisi dengan aktivitas lain yang menyebabkan terjadinya penyerapan Glukosa selain untuk dirinya. Maka seringnya sel kanker membuat tubuh inangnya menjadi melemah sehingga dominasi aktivitas Glukosa hanya untuk dirinya saja. Terdapat lebih dari 26.000 kasus pada sebuah studi dan lebih dari 30.000 kasus pada studi yang lain mengenai peningkatan resiko kanker akibat dari kondisi Hiperglikemia. Ini artinya, resiko kanker meningkat pada mereka yang menderita Diabetes!

Pada studi kasus kanker payudara, ketika sel kanker diberikan Insulin maka sel kanker tersebut tumbuh laksana bibit pada musim kemarau yang diberikan air. Pertumbuhannya menjadi sangat pesat. Sementara, ketika dia ‘dilaparkan’ dengan cara mengurangi atau menurunkan asupan Glukosa secara signifikan melalui diet sangat rendah karbohidrat, maka sel kanker menjadi tidak punya cukup makanan untuk berkembang biak. Sel kanker akan stagnan, mengecil, lalu pertumbuhannya mati. Terdapat 62 trial klinis mengenai diet sangat rendah karbohidrat sebagai terapi melawan kanker dimana 11 trial klinis menggunakan pendekatan Ketogenik.

Sel selalu berusaha untuk menjaga pH internal pada kondisi normal melalui plasma membrane. Mekanisme dalam melakukan penyeimbangan ini salah satunya pada proton transport. Kanker terjadi pada kondisi terlalu Asam (pH 6.5) dan kondisi lingkungan oksigen buruk. Intervensi atau netralisasi pH pada lingkungan plasma akan membuat tahap akhir pembentukan kanker tidak terjadi. Saat nilai pH dapat dikembalikan menjadi Normal pada angka 7.35-7.45 maka proses pembentukan kanker tidak terjadi. Data menunjukkan sel kanker akan mati pada kondisi pH normal dan mulai kembali berkembangbiak pada pH yang semakin Asam. Artinya, apabila didapati kondisi yang memungkinkan melakukan bombardir Oksigen pada tubuh hingga menyebabkan terjadinya kenaikan pH maka ada harapan untuk melakukan potensi pembalikan sel kanker menjadi sel normal. Sebab kondisi dimana Oksigen tinggi dalam tubuh menyebabkan terjadinya kenaikan pH.

Dari sisi High Altitude (ketinggian), pada studi kasus kanker paru-paru didapati data bahwa setiap kenaikan ketinggian 1000 meter terdapat penurunan potensi pembentukan kanker paru-paru sebesar 12.7%. Bahkan pada jenis kanker tertentu seperti kanker payudara memiliki efek yang sangat signifikan terhadap perubahan ketinggian. Dan oleh karena perubahan ketinggian ini dapat dipetakan melalui nilai SpO2 maka apabila didapati sebuah latihan yang dapat menurunkan SpO2 hingga mencapai ketinggian tertentu yang diharapkan ini berarti adanya potensi penurunan sel kanker paru-paru dan kanker yang lain.

Studi kasus lain mengenai High Altitude menunjukkan bahwa mereka yang tinggal di dataran yang tinggi memiliki resiko menderita kanker hanya 27% dibanding mereka yang tinggal di dataran normal. Ini menunjukkan adanya potensi perbaikan sel kanker bagi mereka yang berada di dataran normal jika sel kankernya “dibawa naik” menuju ketinggian tertentu.

Kanker dan Olah Napas

Perubahan keseimbangan Oksigen-Karbondioksida berpengaruh pada perkembangan kanker. Studi selama 10 tahun terhadap penderita Kanker Paru-paru (LC) dan Kanker Nasopharyngeal (NPC) yang berlatih olah napas setiap hari di pagi hari selama minimal 6 tahun dengan cara memaksimalkan Hiperventilasi memiliki tingkat bertahan hidup yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak berlatih hingga hampir 40%. Kemampuan ETBHT (end-tidal breath holding time) menjadi lebih baik pada mereka yang berlatih.

Pada studi mengenai kanker dan aktivitas fisik terhadap berbagai jenis kanker terdapat korelasi perbaikan kualitas hidup bagi mereka yang melakukan aktivitas fisik dibandingkan yang tidak melakukan aktivitas fisik. Pada studi tersebut dilakukan pengukuran 4 (empat) parameter sebagai berikut: 1) Hormon Reproduksi, 2) Hormon Metabolik, 3) Inflamasi, dan 4) Fungsi Imunitas. Randomized controlled trial sudah dilakukan pada 1), 2), dan 3) dan hingga dapat kesimpulan untuk menghasilkan pencegahan kanker. Khusus pada kanker paru-paru, terdapat 16 studi mengenai keterkaitan antara aktivitas fisik dan pengaruhnya pada kanker paru-paru yang menghasilkan terjadinya penurunan resiko sel kanker sebesar 23% hingga 38%.

Studi lain pada 12 orang dengan melakukkan olah napas yang mengkondisikan pesertanya melakukan serangkaian olah napas menghasilkan perubahan sebagai berikut: pH meningkat menuju Basa (menjadi 7.50 dari semula 7.4), Heart Rate turun, Temperatur turun, Karbondioksida menurun, Oksigen meningkat, Epinephrine dan Norepinephrine naik, Cortisol menurun, Inflamasi menurun drastis, Bikarbonat menurun, gejala sakit menurun drastis, penanda kanker menurun drastis.

Respirasi Acidosis dan Respirasi Alkalosis

Apabila Karbondioksida berada pada konsentrasi yang tinggi maka akan menyebabkan kondisi yang disebut dengan Respirasi Acidosis (pernapasan pembentuk asam). Sebaliknya, apabila Karbondioksida berada pada konsentrasi yang rendah akan menyebabkan kondisi yang disebut dengan Respirasi Alkalosis (pernapasan pembentuk basa).

Respirasi Alkalosis dihasilkan melalui mekanisme alveolar Hiperventilasi. Ia akan menurunkan kadar CO2 sekaligus meningkatkan kadar Oksigen. Kondisi ini juga akan membuat terjadinya peningkatan pH menjadi Basa. Pada beberapa jenis penyakit, Hiperventilasi dilakukan sebagai terapi. Hiperventilasi juga berpengaruh pada otak dari sisi Blood Oxygen Level Dependent (BOLD) di area Grey Matter dan White Matter. Grey Matter terkait pada fungsi pengendalian otot, dan persepsi sensorik seperti melihat dan mendengar, memori, emosi, ucapan, pengambilan keputusan, dan pengendalian diri. Sedangkan White Matter itu terkait pada tempat dimana pesan-pesan akan dilewatkan dari dan ke berbagai area Grey Matter. Hiperventilasi dilakukan dengan cara bernapas lebih cepat secara simultan.

Sebaliknya, Respirasi Acidosis dihasilkan melalui mekanisme alveolar Hipoventilasi yang meningkatkan kadar CO2 dan menurunkan kadar O2. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya penurunan pH menjadi Asam. Hipoventilasi terdiri dari 2 (dua) bagian yakni High Pulmonary Volume (HPV) dan Low Pulmonary Volume (LPV). HPV berada pada mekanisme Tarik-Tahan sedangkan LPV berada pada mekanisme Buang-Tahan. Pada kondisi ini, terjadi penurunan SpO2 dimana nilai SpO2 dapat dikaitkan dengan ketinggian tertentu (high altitude). Misalnya, pada teknik Hipoventilasi yang menghasilkan pengukuran SpO2 sebesar 65% itu setara dengan 20.000 feet (6.096 mdpl). Artinya, jika tubuh dapat dikondisikan untuk melakukan Hipoventilasi hingga ketinggian maksimum tertentu maka sel kanker akan ‘diangkat’ pada ketinggian tertentu dan fisiologisnya akan berubah. Seperti dijelaskan diatas, para kanker paru-paru setiap kenaikan ketinggian 1000 meter menyebabkan penurunan sel kanker sebesar 12.7%!

Periode olahraga fisik yang cukup lama akan menguras karbohidrat tersimpan (Glycogen) yang akan memaksa tubuh melakukan kompensasi dengan cara meningkatkan metabolisme Lemak. Ketika tubuh manusia membakar Lemak sebagai energi ia menggunakan 8% Oksigen lebih banyak dibandingkan saat melakukan pembakaran karbohidrat. Pada pembakaran lemak juga dihasilkan 30% karbondioksida yang lebih sedikit dibandingkan metabolisme karbohidrat. Oleh sebab itu, ketika masuk pada metabolisme Lemak menyebabkan mudah tercapainya kondisi Hypoxic akibat dari stimulus CO2 yang tertunda. CO2 sendiri merupakan stimulus yang menyebabkan seseorang menarik napas.

Selain dari rutinitas latihan olah napas, agar dapat meningkatkan kemampuan menahan napas dapat dilakukan puasa 18 jam dalam bentuk diet bebas karbohidrat atau diet sangat rendah karbohidrat. Kondisi ini dapat meningkatkan Maximal Breath-hold break-Point (MBP).

Untuk memahami faktor-faktor apa yang mempengaruhi kemampuan menahana napas dapat dilakukan dengan melihat Hypoxic Ventilatory Responses (HVR) dan Hypercapnic Ventilatory Responses (HCVR). Semakin sedikit saturasi Oxyhemoglobin (SpO2 makin rendah) maka pCO2 makin tinggi. Artinya, kondisi Hypoxic yang mampu dicapai oleh seseorang menunjukkan prediksi kemampuan menahan napas seseorang secara maksimal. Singkatnya, kemampuan tubuh bertoleransi terhadap CO2 merupakan tanda tingginya Oksigen pada tubuh orang itu dan tingginya kemampuan seseorang dalam menahan napas. Peningkatan toleransi terhadap kondisi Hypoxia dapat dicapai melalui peningkatan volume paru-paru.

Latihan berjenis Intermittent Hypoxia dapat menyebabkan terjadinya penurunan Gula Darah dan Insulin secara signifikan. Latihan itu juga meningkatkan pemecahan Lemak (lipolisis).

Jadi, dengan melihat keterkaitan diatas maka strategi yang saya tuliskan pada bagian 1 rangkaian tulisan berseri ini dapat dilakukan dan memiliki kemungkinan untuk membalik sel kanker menjadi sel normal khususnya pada tahap Alkalinasi Sel Kanker, ‘Memborbardir’ sel kanker dengan oksigen penuh selama beberapa waktu, dan melakukan Diet Rendah Karbohidrat. Adapun mengenai pendekatan bio-resonansi magnetik dan enzim serta hormonal akan saya tulis pada bagian terakhir rangkaian tulisan ini.

(bersambung)

Referensi:
[1]. Interpretation of arterial blood gas. Pramod Sood, Gunchan Paul, and Sandeep Puri. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2936733/)
[2]. The physiology and pathophysiology of human breath-hold diving. Peter Lindholm and Claes EG Lundgren. (https://www.physiology.org/…/10.1152/japplphysiol.90991.2008)
[3]. Effects of fasting and carbohydrate consumption on voluntary resting apnea duration. Peter Lindholm, Mary Conniff, Mikael Gennser, David Pendergast, Claes Lundgren. (https://link.springer.com/artic…/10.1007%2Fs00421-007-0442-7)
[4]. Hypoxic ventilatory response predicts the extent of maximal breath-holds in man. Feiner JR, Bickler PE, Severinghaus JW. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7481110)
[5]. Normal Values for Physiological Parameters. R. GregerM. Bleich. (https://link.springer.com/cha…/10.1007/978-3-642-60946-6_127)
[6]. Lung Volume Restriction as a Ventilatory Stimulus During Breath Holding. Mithoefer, J.C. Journal Applied Physiology 14: 701-705, 1959.
[7]. The Question of Acid and Alkali Forming Foods. James A. Tobey. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1562900/)
[8]. Reducing the Dietary Acid Load: How a More Alkaline Diet Benefits Patients With Chronic Kidney Disease. Passey C. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28117137)
[9]. Respiratory acidosis. Epstein SK, Singh N. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11262556)
[10]. Respiratory alkalosis. Foster GT, Vaziri ND, Sassoon CS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11262557)
[11]. Acid-Base Homeostasis. L. Lee Hamm, Nazih Nakhoul, and Kathleen S. Hering-Smith. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4670772/)
[12]. Electrical properties of the red blood cell membrane and immunohematological investigation. Heloise Pöckel Fernandes, Carlos Lenz Cesar, and Maria de Lourdes Barjas-Castro. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3415751/)
[13]. Effects of Hypoxia on Glucose, Insulin, Glucagon, and Modulation by Corticotropin-Releasing Factor Receptor Type 1 in the Rat. Xue-Qun Chen, Jing Dong, Chen-Ying Niu, Jun-Ming Fan, Ji-Zeng Du. (https://academic.oup.com/…/Effects-of-Hypoxia-on-Glucose-In…)
[14]. The local corticotropin-releasing hormone receptor 2 signalling pathway partly mediates hypoxia-induced increases in lipolysis via the cAMP–protein kinase A signalling pathway in white adipose tissue. Yanlei Xionga. Zhuan Qub. Nan Chena. Hui Gonga. Mintao Songa. Xuequn Chenb. Jizeng Dub. Chengli Xu. (http://www.sciencedirect.com/…/article/pii/S0303720714001543)
[15]. The Magic of Hyperventilation. G.M. Woerlee. (http://www.anesthesiaweb.org/hyperventilation.php)
[16]. Hyperventilation Therapy for Control of Posttraumatic Intracranial Hypertension. Daniel Agustín Godoy, Ali Seifi, David Garza, Lubillo-Montenegro and Francisco Murillo-Cabezas. (https://www.frontiersin.org/articles/…/fneur.2017.00250/full)
[17]. Mapping transient hyperventilation induced alterations with estimates of the multi-scale dynamics of BOLD signal. Vesa Kiviniemi, Jukka Remes, Tuomo Starck, Juha Nikkinen, Marianne Haapea, Olli Silven and Osmo Tervonen. (https://www.frontiersin.org/…/10.3389/neuro.11.018.2009/full)
[18]. Grey Matter and White Matter. Wikipedia. (https://en.wikipedia.org/wiki/White_matter)
[19]. Elevated insulin receptor content in human breast cancer. V Papa, V Pezzino, A Costantino, A Belfiore, D Giuffrida, L Frittitta, G B Vannelli, R Brand, I D Goldfine, and R Vigneri. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC296896/)
[20]. Ketogenic diets as an adjuvant cancer therapy: History and potential mechanism. Bryan G. Allen, Sudershan K. Bhatia, Carryn M. Anderson, Julie M. Eichenberger-Gilmore, Zita A. Sibenaller, Kranti A. Mapuskar, Joshua D. Schoenfeld, John M. Buatti, Douglas R. Spitz, and Melissa A. Fath. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4215472/)
[21]. pH sensing and regulation in cancer. Mehdi Damaghi, Jonathan W. Wojtkowiak, and Robert J. Gillies. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3865727/)
[22]. Imaging pH and metastasis. Hashim AI, Zhang X, Wojtkowiak JW, Martinez GV, Gillies RJ. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21387439/)
[23]. Acidity generated by the tumor microenvironment drives local invasion. Veronica Estrella, Tingan Chen, Mark Lloyd, Jonathan Wojtkowiak, Heather H. Cornnell, Arig Ibrahim-Hashim, Kate Bailey, Yoganand Balagurunathan, Jennifer M. Rothberg, Bonnie F. Sloane, Joseph Johnson, Robert A Gatenby, and Robert J Gillies. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3594450/)
[24]. Lung cancer incidence decreases with elevation: evidence for oxygen as an inhaled carcinogen. Kamen P. Simeonov?, Daniel S. Himmelstein. November 12, 2014. (https://peerj.com/preprints/587/)
[25]. Voluntary activation of the sympathetic nervous system and attenuation of the innate immune response in humans. Matthijs Kox, Lucas T. van Eijk, Jelle Zwaag, Joanne van den Wildenberg, Fred C. G. J. Sweep, Johannes G. van der Hoeven and Peter Pickkers. (http://www.pnas.org/content/111/20/7379.short)
[26]. Morning breathing exercises prolong lifespan by improving hyperventilation in people living with respiratory cancer. Wei-Jie Wu, MB, Shan-Huan Wang, MB, Wei Ling, MD, Li-Jun Geng, MPhil, Wei-Jie Wu, MB,a Shan-Huan Wang, MB,a,b Wei Ling, MD,a Li-Jun Geng, MPhil,a XiaXiao-Xi Zhang, PhD,aLan Yu, MPhil, Jun Chen, MPhil, Jiang-Xi Luo, MD and Hai-Lu Zhao, PhD. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5266177/)
[27]. Cancer, physical activity, and exercise. Brown JC, Winters-Stone K, Lee A, Schmitz KH. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4122430/)
[28]. Diabetes and cancer (1): evaluating the temporal relationship between type 2 diabetes and cancer incidence. J. A. Johnson, B. Carstensen, D. Witte, S. L. Bowker, L. Lipscombe, A. G. Renehan, on behalf of the Diabetes and Cancer Research Consortium (https://link.springer.com/artic…/10.1007%2Fs00125-012-2525-1)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →