Reversing Cancer Possibilities – Bagian 1

REVERSING CANCER POSSIBILITIES 
(Bagian 1 – Intro)

Oleh: Mas Gunggung

Ini adalah rangkaian tulisan berseri yang akan saya buat dalam 5 bagian dimana masing-masing akan berisi penjelasan dari apa yang saya lakukan terhadap peserta kanker yang saat ini sedang berlatih dengan jenis kanker paru-paru stadium 4.

Gambaran kanker peserta adalah kanker paru-paru stadium 4 dengan jenis sel kanker yang masuk kategori besar, ganas, dan metastasis cepat. Sebelum latihan, ukuran sel kanker di paru-paru sudah mencapai 3,5 cm dan diagnosanya terus menerus membesar. Melakukan medical check up di Singapore dengan vonis usia hanya 6 bulan lagi berdasarkan analisa medis mengingat kemampuan sel kankernya berkembang biak dan tingkat stadiumnya yang tinggi. Kalaupun dilakukan Kemoterapi itu hanya akan bersifat ‘prolonged life’ atau menambah usia hidup saja tetapi tidak menyembuhkan.

Kemudian kakak dari peserta yang sakit ini dulu pernah belajar metode kebugaran lalu ingin membantu dan berharap mudah-mudahan pendekatan metode kebugaran ini dapat menolong adiknya. Saya menyanggupi dan minta ketemuan sama pihak keluarganya terlebih dahulu untuk memperkenalkan apa dan bagaimana metode ini. Saat pertama kali ketemu, di kamar peserta terlihat ada 4 tabung oksigen besar. Peserta sangat lemah dan lunglai di tempat tidur yang diselingi oleh batuk setiap beberapa menit sekali. Bangun sedikit, dada sakit. Membungkuk, dada sakit. Menggeser ke kanan dan ke kiri, juga dadanya sakit. Paru-paru terendam air hingga 1 liter lebih sehingga perut membuncit besar sekali dan harus selalu dilakukan sedot cairan. Setiap kali bernapas, terdengar suara gemericik air akibat banyaknya cairan yang memenuhi rongga paru-parunya. Sungguh kondisi yang melelehkan air mata. Sesekali memasang selang di hidungnya agar oksigen dari tabung dapat dialirkan ke dalam tubuh.

Beruntungnya, peserta ini kesadarannya masih bagus dan nalarnya masih jalan. Maka saya ajak diskusi dan melakukan presentasi mengenai apa dan bagaimana metode kebugaran ini. Saya jelaskan bahwa metode kebugaran ini sesungguhnya bukan didesain untuk melakukan pemulihan pada kanker, namun dari teori yang saya yakini nampaknya ini bisa dilakukan untuk melakukan perbaikan kanker. Hal ini disebabkan beberapa komponen pendukung yang dirancang ada dalam metode ini memiliki keterkaitan terhadap pola perkembangan sel tubuh. Level-level yang ada dalam metode kebugaran ini (ndilalah/kebetulan) dirancang untuk berada pada lingkungan yang membuat sel berada pada kondisi yang terbaiknya yakni lingkungan Basa. Dan lingkungan ini rupanya dapat menjadi “musibah” bagi sel kanker yang memang hidup pada dominan Asam. Studi kasus saya pada penderita kanker hanyalah kanker payudara stadium 3 dengan peserta berusia 72 tahun yang saat ini sudah sangat jauh membaik kondisinya dan dengan hasil laboratorium yang juga stabil dan membaik dari waktu ke waktu.

Sepanjang pengetahuan saya, paling tidak ada 4 pendekatan yang dilakukan medis untuk melakukan pemulihan dari kanker. 4 pendekatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Operasi: membuang sel yang terkena kanker
2. Terapi gelombang radiasi: merusak DNA sel kanker
3. Kemoterapi: menyerang inti sel kanker ketika ia membelah diri
4. Target terapi: mencegah pertumbuhan sel kanker

Keempat pendekatan diatas sangat umum dilakukan oleh dunia medis dan memiliki tingkat keberhasilannya masing-masing dengan tujuan yang sama yakni menghancurkan struktur dari sel kanker. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai empat pendekatan medis diatas karena akan menjadi sangat panjang nantinya.

Dalam pengamatan saya, nampaknya pendekatan diatas bisa dilakukan oleh tubuh manusia. Kemudian saya merancang pendekatan yang dilakukan untuk membantu peserta yang kena kanker untuk melakukan 5 pendekatan sebagai berikut:

1. Terapi keseimbangan Asam Basa: melakukan alkalinasi sel kanker
2. Terapi bio-resonansi magnetik: mematikan sel kanker dengan gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh sumber elektromagnetik dalam tubuh
3. Terapi enzim dan hormonal: melarutkan lapisan protein sel kanker dan mempengaruhi sel kanker untuk melakukan apoptosis (membunuh dirinya sendiri)
4. Terapi ozone: ‘membombardir’ sel kanker dengan oksigen penuh
5. Diet rendah gula: ‘melaparkan’ sel kanker yang memang sangat rakus dengan gula dan insulin

Empat pendekatan yang pertama dapat dilakukan sepenuhnya melalui Olah Napas. Sedangkan pendekatan kelima dilakukan melalui pengubahan pola makan tertentu. Saya jelaskan satu persatu bagaimana olah napas dapat dilakukan untuk melakukan empat pendekatan yang pertama. Lalu saya ajak untuk berdiskusi apakah logis atau tidak? Jika dirasa logis, maka saya akan bantu melakukan pendampingan bagaimana cara berlatih teknik olah napas untuk mengkondisikan tubuh masuk pada empat zona diatas. Dan bahwa semuanya nanti tidak ada spekulasi dalam arti nanti akan saya siapkan alat ukur yang dipakai untuk mengkondisikan tiap fasenya. Jadi, ketika misalnya saya mengajarkan teknik ‘membombardir’ tubuh dengan oksigen tinggi maka mesti dapat dilihat dengan alat bahwa kadar oksigen dalam darah mencapai 99% terus selama beberapa menit. Dan seterusnya.

Keseluruhan pendekatan diatas bersifat pengetahuan yang dilakukan melalui Pengajaran dan bukan terapi energi. Dengan demikian peserta dapat melakukan sendiri asalkan mengikuti step by step setiap tahapannya dengan tertib dan tidak memodifikasi. Ini berbeda karakteristiknya dengan pendekatan terapi energi dimana peserta mengalami ketergantungan dengan terapis. Melalui pendekatan berbasis pengetahuan ini, peserta dapat berlatih secara mandiri dengan menjadikan patokan parameter-parameter tertentu yang sudah ditentukan sebagai target pencapaiannya. Ini menjadi realistis dan dapat melakukan percepatan pemulihan.

Masing-masing dari 5 pendekatan diatas (selain diet) memiliki beberapa level/tingkatan yang terbagi menjadi beberapa level. Peserta disepakati untuk berlatih dari level 1 hingga level 4. Kapan waktu nanti saya jelaskan mengenai pembagian level ini. Perbedaan level akan menentukan perubahan jenis metabolisme yang dihasilkan tubuh dan, berdasarkan pengalaman, pemulihannya menjadi lebih cepat dibanding sebelumnya.

Setelah berdiskusi cukup lama dengan pihak keluarganya, lalu diputuskan untuk mencoba semua levelnya dimana setiap level akan dilatihkan selama 16x pertemuan dengan secara paralel dilakukan medical check up untuk mengetahui perkembangannya. Terapi dilakukan pertama kali pada tanggal 22 Maret 2018 dengan sudah melakukan 2x medical check up di National University Hospital (NUH) di Singapore.

Pada Level 1 yang sudah diselesaikan dalam 16x pertemuan, didapati hasil:

– SpO2 yang pada mulanya selalu berada pada 89% – 90% saat ini sudah berada pada 95% keatas dan tidak pernah kurang dari itu.

– komponen parameter darah dominan normal, hanya ada 2 komponen saja yang L (low) dan H (high) dan itu dengan nilai yang bisa diperbaiki berikutnya

– kankernya stagnan! tidak berkembangbiak dan terhenti pada posisi 3,5 cm pada 2x medical check up selama 16 hari

– perubahan fisik pada peserta dimana ia sudah tidak lagi menggunakan tabung oksigen dengan sering seperti dulu. Memang peserta kadang-kadang menggunakan tabung oksigen namun jika dan hanya jika sangat kelelahan misalnya ditengok oleh banyak teman-temannya selama berjam-jam dan ngobrol lama dengan mereka. Atau ketika harus terpaksa naik turun tangga. Namun untuk aktivitas harian selain yang memberatkan sudah tidak lagi menggunakan tabung oksigen

– batuk yang dahulu selalu terjadi hampir dalam hitungan menit, kini sudah total berhenti dan dalam sehari hanya mungkin beberapa kali saja

– cairan berkurang dari 1200-1400 ml menjadi 600-700 ml sehingga menjadi lebih enteng pada badan dan ketika di Singapore dilakukan penyedotan total hingga habis tanpa ada gejala dan hambatan berarti

– melakukan kegiatan sholat sudah bisa berdiri, ruku’, dan sujud dengan normal

– tidur sudah bisa miring ke kanan dan ke kiri dengan normal tanpa ada batuk atau nyeri

– rasa percaya diri meningkat, semangat hidup menjadi lebih tinggi

– BPM jantung yang semula selalu diatas 120 kini untuk pertama kalinya berada pada kisaran 70 hingga 80 bpm

Oleh karena hasil yang dicapai pada level 1 sangat menggembirakan, maka diputuskan agar peserta masuk pada latihan di Level 2 selama 16x pertemuan berikutnya.

Mudah-mudahan Allah memudahkan dan menjadi jalan kesembuhan. Semoga berkah dan rahmat Allah tercurah kepada para pelatih, para guru, pewaris, dan sang Guru atas ilmu yang bermanfaat.

Salam hangat,
MG

(bersambung)

Kondisi awal BPM selalu tinggi menandakan stres yang tinggi
Setelah latihan rutin, BPM mulai masuk kategori normal. Artinya stres menurun drastis.
Benjolan putih pada baris pertama adalah lokasi kanker paru-paru

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →