RAAS dan ANP

RAAS dan ANP

Peserta laki-laki usia 75 tahun dengan diagnosa diabetes, Parkinson, dan degeneratif pada ginjal. Untuk diabetes dan Parkinson sudah kembali normal. Saya akan membahas mengenai kemungkinan perbaikan ginjal yang dilihat dari penurunan angka Creatinin.

Dari 4x uji laboratorium peserta terlihat data pergerakan Creatinin sebagai berikut:

  1. Tanggal: 06/07/2017 === Creatinin: 1.0
  2. Tanggal: 11/08/2017 === Creatinin: 1.07
  3. Tanggal: 22/08/2017 === Creatinin: 1.2
  4. Tanggal: 05/10/2017 === Creatinin: 0.8

Dalam waktu 3 bulan terjadi perbaikan pada fungsi faal ginjal. Parameter lain selain Creatinin adalah Ureum, BUN, dan GFR. Saya coba ulas singkat mengenai GFR.

GFR merupakan singkatan dari Glomerular Filtration Rate yang merupakan test terbaik untuk mengukur fungsi ginjal seseorang dan menentukan jenis stadium yang terjadi terhadapnya. Dokter akan menghitung nilai GFR berdasarkan nilai Creatinine, usia, ukuran tubuh, dan jenis kelamin. Beberapa menggunakan warna kulit dan ras. Nilai GFR ini akan menjelaskan kondisi fungsi ginjal berada pada stadium apa sehingga dokter dapat menentukan penangangan yang tepat untuk itu. Jika nilai GFR terbaca sangat rendah itu artinya ginjal tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Lebih cepat kondisi ginjal terdeteksi maka lebih besar peluang untuk memperlambat degeneratif dan bahkan menghentikan kecepatan laju kerusakannya.

Terdapat juga pengukuran yang disebut dengan eGFR yang merupakan singkatan dari “Estimated GFR” yang diambil dari persamaan MDRD sebagai berikut:

186 x (Creatinine/88.4)[-1.154] x (Usia)[0.203] x (0.742 jika wanita) x (1.210 jika berkulit hitam)

Catatan: tanda [] menyatakan ‘pangkat’. Jadi, (Usia)[0.203] artinya nilai usia dipangkatkan dengan 0.203.

Persamaan eGFR diatas diambil dari link berikut: https://ukidney.com/nephrology-resources/egfr-calculator, dengan penekanan apabila nilai eGFR dihitung berdasarkan nilai yang dirujuk rumah sakit maka gunakan nilai yang dirujuk oleh rumah sakit yang akan lebih akurat dibandingkan kalkulator GFR diatas. Meski demikian, persamaan diatas dapat digunakan sebagai rujukan data awal dan pembanding dari hasil yang nanti akan diberikan oleh rumah sakit.

Berdasarkan tingkat kerusakan ginjal dibagi menjadi beberapa stadium sebagai berikut:

  1. Stadium: 1
    GFR: 90+
    Ket: Fungsi ginjal normal, namun tetap diperhatikan adalah ketidaknormalan pada urine
  2. Stadium: 2
    GFR: 60-89
    Ket: Fungsi ginjal menurun ringan, dan temuan pada Stadium 1 tetap diperhatikan (jika ada)
  3. Stadium: 3A ~ 3B
    GFR: 45-59 ~ 30-44
    Ket: Fungsi ginjal menurun moderate
  4. Stadium: 4
    GFR: 15-29
    Ket: Fungsi ginjal menurun drastis
  5. Stadium: 5
    GFR: <15
    Ket: Gagal ginjal kronis, tahap akhir (hemodialisa)

Nilai GFR dibawah 60 selama tiga bulan atau lebih atau diatas 60 yang ditandai dengan tingginya kadar Albumin pada urin mengindikasikan amsalah ginjal kronis. Dokter akan melakukan investigasi penyebab kerusakan ginjal Anda dan memberikan saran penangangannya yang dirasa paling tepat.

Biasanya, sebuah uji tes urine diperlukan untuk melihat kadar Albumin (sejenis protein) pada urine. Ketika Anda memiliki Albumin pada urine maka kondisi ini diseut dengan Albuminuria. Darah atau protein pada urine dapat menjadi tanda-tanda awal dari masalah ginjal. Orang-orang yang memiliki kadar Albumin tinggi pada urine akan memiliki peluang terbesar kerusakan ginjal di masa yang akan datang.

Berdasarkan Usia, nilai GFR yang termasuk kategori normal adalah sebagai berikut:

  1. Usia: 20–29
    Rerata eGFR: 116
  2. Usia: 30–39
    Rerata eGFR: 107
  3. Usia: 40–49
    Rerata eGFR: 99
  4. Usia: 50–59
    Rerata eGFR: 93
  5. Usia: 60-69
    Rerata eGFR: 85
  6. Usia: 70+
    Rerata GFR: 75

Mari kita ambil contoh pada peserta diatas.

Usia 75 tahun maka kategori normal berada pada nilai eGFR sebesar 75. Jika dilihat berdasarkan data pergerakan Creatinine maka akan didapatkan pergerakan eGFR sebagai berikut:

  1. Creatinine: 1.00 == eGFR: 77 ml/min/1.73m2 > Stadium 2
  2. Creatinine: 1.07 == eGFR: 72 ml/min/1.73m2 > Stadium 2
  3. Creatinine: 1.20 == eGFR: 63 ml/min/1.73m2 > Stadium 2 (batas bawah menuju stadium 3)
  4. Creatinine: 0.80 == eGFR: 100 ml/min/1.73m2 > Stadium 1 (NORMAL)

Pada perhitungan eGFR ini selisih 0.2 saja sangat menentukan perbedaan pada penilaian tingkat stadium.

Pertanyaannya, bagaimana caranya melakukan perbaikan seperti itu?

Well, idenya sebenarnya dari pemahaman bahwa dalam tubuh manusia itu SUDAH ADA MEKANISME “OBAT” dalam bentuk keseimbangan (balance) antara satu dengan yang lain. Jika salah satu naik, maka salah satu yang lain mesti turun. Yang perlu saya cari adalah ini merupakan antagonis dari yang mana? Jika ada sesuatu yang naik, maka dicari antagonis unsur lainnya yang menurunkan. Demikian juga kebalikannya.

Saya ambil contoh, misalnya antara Thyroid dan Cortisol. Keduanya tidak mungkin sama-sama naik dan tidak mungkin sama-sama turun. Kenaikan Cortisol berarti terjadi penurunan pada fungsi Thyroid. Kenaikan fungsi Thyroid berarti terjadi penurunan pada fungsi Cortisol. Demikian seterusnya. Cortisol dan Thyroid merupakan antagonis satu dengan yang lain.

Penurunan fungsi GFR pada ginjal disebabkan oleh tingginya jalur RAAS. RAAS singkatan dari Renin-Angiotensin-Aldosterone-System. Renin, adalah hormon yang diproduksi pada ginjal. Angiotensin adalah hormon yang diproduksi di Liver. Aldosterone adalah hormon yang diproduksi pada kelenjar Adrenal yang melekat persis diatas ginjal. Perjalanan jalur RAAS ini yang dimulai dari Angiotensin -> Renin -> Angiotensin I -> Angiotensin II akan menghasilkan efek langsung sebagai berikut:

  1. Menyebabkan pembuluh arteri menyempit (vasokonstriksi) sehingga meningkatkan volume dan tekanan darah
  2. Menurunkan Glomerular Filtration Rate (GFR)
  3. Meningkatkan rasa haus

Jadi, terlihat bahwa jalur RAAS ini akan menyebabkan GFR menurun.

Faktor lain yang menyebabkan penurunan GFR adalah diabetes, hipertensi, pemakaian obat-obatan dalam jangka panjang, dan stres.

Jika ada faktor yang dapat menurunkan GFR maka ada sesuatu yang dapat menaikkan GFR. Prinsip keseimbangan, jika salah satu turun maka mesti ada yang dapat menaikkan. Yang dapat menaikkan GFR adalah hormon yang berasal dari Jantung dan Otak yang bernama ANP (Atrial Natriuretic Peptide) dan BNP (Brain Natriuretic Peptide). Kedua jenis hormon ini dilepaskan dan dipicu secara langsung dari Jantung (meskipun BNP diinisiasi oleh Otak namun dipicu oleh Jantung). Maka dengan mengerti bagaimana caranya mengkondisikan jantung untuk memunculkan kedua jenis hormon ini melalui suatu stimulus tertentu maka akan ada kemungkinan jalur RAAS bisa diperlambat atau diperbaiki.

ANP dan BNP merupakan antagonis dari jalur RAAS yang akan meningkatkan GFR dengan cara melakukan pelebaran pembuluh arteri (vasodilatasi). Dengan kata lain, hormon ANP dan BNP ini merupakan vasolidator bagi ginjal. Ini mirip dengan fungsi Oxytocin dan Dopamine yang merupakan vasodilator dari hormon stres lainnya yang jika difungsikan secara benar maka dapat membalik proses menuju perbaikan.

Perjalanan masih panjang. Kapan waktu nanti saya bahas mengenai ANP dan BNP dan bagaimana kedua jenis hormon ini berpeluang untuk meningkatkan GFR dan memperbaiki fungsi faal ginjal.

Sampai ketemu teman-teman baruku di Wisata Bugar! πŸ™‚

Semoga bermanfaat.

*DISCLAIMER: Semua tulisan diatas adalah sudut pandang pribadi yang sudah dijalankan di kolat dan tidak dimaksudkan untuk ditiru tanpa bimbingan.

Daftar Referensi:
[1]. Glomerular Filtration Rate (GFR). National Kidney Foundation. (https://www.kidney.org/atoz/content/gfr)
[2]. eGFR Calculator. https://ukidney.com/nephrology-resources/egfr-calculator
[3]. Glomerular Filtration Rate. University of Washington. (https://courses.washington.edu/conj/bess/gfr/gfr.htm)
[4]. Effects of angiotensin II and atrial natriuretic peptide alone and in combination on urinary water and electrolyte excretion in man. McMurray J, Struthers AD. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2965633)
[5]. Atrial natriuretic peptide (ANP) as a neuropeptide. Th. Unger, E. Badoer, C. Gareis, R. Girchev, M. Kotrba, F. Qadri, R. Rettig, and P. Rohmeiss. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1368103/)
[6]. Bio-Molecular Markers for Cardiovascular Disease: Significance of Natriuretic Peptides and Adrenomedullin. Takeshi Horio, MD, and Yuhei Kawano, MD. (https://synapse.koreamed.org/DOIx.php?id=10.4070/kcj.2008.38.10.507)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →