Ketahanan Stres

STRESS RESILIENT

Oleh: Mas Gunggung


“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Ruum 54)

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yasin 68)

Siapa yang dipanjangkan umurnya sampai usia lanjut akan dikembalikan menjadi lemah seperti keadaan semula. Keadaan itu ditandai dengan rambut yang mulai memutih, penglihatan mulai kabur, pendengaran sayu sayup sampai, gigi mulai berguguran, kulit mulai keriput, langkahpun telah gontai. Ini adalah sunnatullah yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Siapa yang disampaikan oleh Allah pada usia lanjut bersiaplah untuk mengalami keadaaan seperti itu. Artinya, bahwa degeneratif itu adalah sunatullah atau hukum alamnya memang begitu.

Semua perubahan kondisi tersebut tentu akan melahirkan STRESS dengan kadarnya masing-masing. Ada yang stres dengan penyakitnya, ada yang stres dengan kesendiriannya, ada yang stres dengan kehilangan teman-temannya, ada yang stres dengan kehilangan banyak nikmat ragawinya, ada yang stres karena kekurangan uangnya, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana caranya membuat tubuh bertahan dalam kondisi stres tersebut?

Ada 3 (tiga) buah studi di Amerika mengenai stres sebagai berikut:

(1) Studi terhadap 30.000 orang dewasa selama 8 tahun yang menanyakan 3 hal sebagai berikut:

  1. Apakah Anda mengalami banyak stres dalam kadar yang tinggi, menengah, sedikit, atau hampir tidak ada stres?
  2. Apakah Anda percaya bahwa stres tersebut berpengaruh pada kesehatan Anda?
  3. Apakah Anda melakukan langkah-langkah tertentu untuk mengendalikan atau mengurangi stres tersebut?

Kemudian data responden dibandingkan dengan data kematian tercatat pada National Death Index (NDI) disana untuk melihat seberapa banyak responden yang meninggal akibat stres.

Hasilnya: Mereka yang mengalami stres yang tinggi pada tahun sebelumnya terjadi peningkatan resiko kematian sebesar 43%.

TAPI… Hal itu terjadi HANYA PADA MEREKA YANG PERCAYA bahwa stres berbahaya bagi kesehatan mereka. Jadi, sebesar 57% bisa hidup lebih lama karena mereka tidak percaya stres itu menyebabkan kematian bagi dirinya.

Pada riset tersebut, 182.000 kematian terjadi bukan karena stres namun pada MEREKA YANG PERCAYA bahwa stres itu buruk bagi mereka. Dan itu berarti rata-rata sekitar 20.000 kematian per tahunnya dan menjadi 15 besar penyebab kematian di Amerika Serikat mengalahkan Pneuomonitis (18.000 kematian/tahun).

Riset ini mengubah sudut pandang para Psikolog disana. Mereka yang dahulu selalu beranggapan bahwa stres itu lebih banyak menyebabkan kematian ternyata keliru. Yang menyebabkan kematian adalah mereka yang percaya bahwa stres itulah penyebab kematiannya.

(2) Studi di Harvard University, dimana responden akan diberikan suatu kondisi stres dalam bentuk Social Stress Test.

Namun sebelum pelaksanaan test, responden diberitahu bahwa respon tubuh terhadap stres itu memiliki manfaat yang baik bagi tubuh. Meminta responden untuk mengatur pada pikirannya bahwa kondisi stres itu justru akan memberikan manfaat pada tubuhnya. Misalnya, Jantung yang berdetak cepat itu dikarenakan responden siap untuk melakukan aksi. Jika responden mendadak bernapas dengan cepat, itu tidak masalah sebab itu adalah kondisi dimana oksigen akan dikirimkan lebih banyak ke otak. Dan banyak lagi fisiologi tubuh ketika stres dikondisikan untuk diubah ke dalam sudut pandang positif. Responden diminta untuk memandang bahwa kondisi stres yang muncul justru akan meningkatkan kemampuan penampilan mereka saat menjalani Social Stress Test.

Responden kemudian ditempeli alat pada beberapa bagian tubuhnya untuk mengukur beberapa parameter yang diinginkan seperti misalnya detak jantung, ukuran pembuluh darah (melebar atau menyempit), dan lain sebagainya.

Hasilnya: Pada kondisi umum pada jantung ketika berhadapan dengan stres adalah detak jantung lebih cepat dan pembuluh darah menyempit (vasokonstriksi). Sedangkan kondisi Jantung saat berhadapan dengan stres namun dipandang dan dihadapi sebagai sebuah kondisi yang menyenangkan dan menyehatkan ternyata membuat pembuluh darah melebar (vasodilatasi) meskipun detak jantungnya sama cepatnya.

Artinya, terjadi perubahan secara biologis disini hanya pada penyikapan yang berbeda!

(3) Studi di University of Buffalo yang melakukan pendataan pada sekitar 1000 orang responden dewasa di Amerika dengan usia 34 tahun hingga 93 tahun.

Studi ini berisikan dua pertanyaan yakni sebagai berikut:

  1. Seberapa besar stres yang dialami pada tahun terakhir, dan
  2. Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membantu orang lain seperti saudara, teman, tetangga, atau mereka yang tergabung di komunitas?

Kemudian data responden dibandingkan dengan angka kematian selama 5 tahun terakhir di wilayah responden berada.

Hasilnya: Mereka yang mengalami stres berat oleh karena masalah keuangan atau masalah keluarga memiliki peningkatan resiko kematian hingga 30%.

TAPI, hal itu tidak berlaku bagi semua responden.

Bagi mereka yang meluangkan waktu dengan membantu orang lain ternyata lebih banyak menunjukkan statistik penurunan stres yang signifikan sehingga menurunkan secara drastis angka kematian hingga 0 (nol).

Artinya, banyak membantu orang lain dapat meningkatkan ketahanan tubuh terhadap stres!

Darimana mereka tahu hal ini? Yakni dari pengukuran terhadap hormon stres bernama Oxytocin.

Di dalam tubuh kita ada beberapa jenis hormon stres yang dapat dibagi menjadi 2 (dua) aspek yakni:

  1. Aspek Individual, yakni hormon Cortisol, Adrenalin dan Noradrenalin.
  2. Aspek Sosial, yakni hormon Oxytocin.

Hormon Cortisol, Adrenalin dan Noradrenalin termasuk ke dalam jenis yang bersifat “Fight or Flight” sedangkan hormon Oxytocin termasuk ke dalam jenis yang bersifat “Tend and Befriend”. Ketika Cortisol keluar dari kelenjar Adrenal (maka dari itu disebut sebagai hormon Adrenalin/Epinephrine) maka ia akan mampu mematikan sementara fungsi Thyroid dan semua imunitas yang ada dalam tubuh. Pada saat stres terjadi, semua fungsi tersebut digantikan sementara oleh Cortisol. Artinya, jika kemampuan stres ini mampu di-manage dengan baik maka tubuh akan punya kemampuan untuk melakukan perbaikan pada banyak hal menggunakan daya yang ada pada hormon ini. Setelah kemudian stres menghilang, maka tubuh akan kembali menyerahkan semua fungsi imunitas kepada Thyroid dan yang lainnya.

Thyroid dan Cortisol tidak bisa dua-duanya tinggi dalam satu saat. Artinya, jika terdapat masalah pada kelenjar Thyroid itu artinya fungsi Cortisol meningkat. Dengan kata lain, stres tinggi pada diri orang itu. Demikian juga sebaliknya. Pada semua gejala dimana Cortisol meningkat, itu artinya fungsi Thyroid melemah. Terlihat korelasi antara keduanya.

Hormon Oxytocin ini sangat unik dan khas yakni satu-satunya hormon stres yang memiliki aspek sosial dan mampu memancarkan gelombang yang dapat mempengaruhi yang lainnya. Oxytocin tidak hanya mampu mempengaruhi sel-sel lain di dalam tubuh melainkan juga mampu mempengaruhi orang lain. Oleh karena itu hormon Oxytocin sering juga disebut sebagai hormon Cinta dan memiliki sifat “connected” atau mampu membuat terjadinya sebuah kondisi keterhubungan dan atau kemelekatan antara satu dengan yang lain. Oxytocin akan berfungsi dengan optimal justru ketika kondisi stres melanda tubuh. Disinilah pentingnya melakukan latihan olah napas yang selalu harus melakukan proses manajemen stres pada setiap bentuknya.

Oxytocin adalah satu-satunya jenis hormon stres yang punya beberapa “wajah”.

Mari kita lihat beberapa “kesaktian” fungsinya:

A. Fungsi secara Individual

  1. Meningkatkan pergerakan sperma (pada laki-laki)
  2. Meningkatkan ikatan antara ibu dan anak (pada wanita) membuat terjadinya hubungan kuat
  3. Meningkatkan rasa percaya diri
  4. Meningkatkan rasa murah hati
  5. Menyebabkan vasodilatasi
  6. Dikendalikan oleh mekanisme feedback positif
  7. Meningkatkan Lipolisis dan sensitivitas Insulin
  8. Berfungsi sebagai anti inflamatori
  9. Membalik efek kardiovaskular yang dihasilkan dari stres
  10. Pada jantung: meningkatkan regenerasi sel dan penyembuhan dari efek kerusakan stres sekaligus

B. Fungsi secara Sosial

  1. Memperbaiki naluri sosial
  2. Memperkuat hubungan sosial
  3. Meningkatkan empati
  4. Meningkatkan kecenderungan membantu dan mendukung orang-orang yang disayangi
  5. Meningkatkan rasa belas kasihan dan perhatian
  6. Meningkatkan motivasi untuk mencari dukungan orang-orang di sekitar yang peduli dengan kita

Jadi, manakala kita sedang mengalami stres dalam bentuknya masing-masing dan merasa sulit sekali keluar dari masalah stres tersebut maka ingatlah bahwa pada tubuh kita terdapat Oxytocin yang juga ikut muncul ketika stres melanda. Membantu orang lain akan dapat meningkatkan kadar Oxytocin dalam tubuh.

Manakala kita sakit dan sulit sekali sembuh dari sakit meskipun sudah berobat kemana-mana, maka cobalah tingkatkan fungsi Oxytocin ini dengan cara membantu orang lain. Itu adalah cara termudah yang sudah dibuktikan oleh sains. Barangkali saja dengan membantu orang lain membuat terjadinya perubahan pada tubuh kita.

KESIMPULAN

Apa yang akan saya katakan hari ini kepada diri saya sendiri dan kepada kita semua? Yakni tidak untuk menjauhi stres, tapi menghadapi stres. Menjadi lebih baik bersama stres. Lebih bertenaga dan lebih sehat.

Jika suatu hari nanti kita semua sedang berada dalam situasi stres, lalu detak jantung menjadi semakin cepat, ingatlah selalu tulisan ini dengan memikirkan dan mengatakan pada diri sendiri:

“Ini adalah tubuhku, yang membantuku untuk menghadapi tantangan didepanku dengan baik. Aku akan berteman dengan stres, dan stres akan membantuku menyelesaikan semua tantangan di depanku!”

Jika itu kita lakukan, maka tubuh akan percaya kembali kepada kita! Respon stres akan menyehatkan dan fisiologis tubuh akan berubah menjadi lebih baik!

Ketika kita mengubah pikiran terhadap stres maka Anda dapat mengubah respon tubuh terhadap stres. Ketika kita melakukannya, maka tubuh akan menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk menghadapi semuanya! Termasuk untuk melawan penyakit berat sekalipun!

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du 11)

“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Semoga bermanfaat.

Daftar Referensi:
[1]. Does the Perception that Stress Affects Health Matter? The Association with Health and Mortality. Abiola Keller, Kristin Litzelman, Lauren E. Wisk, Torsheika Maddox, Erika Rose Cheng, Paul D. Creswell, and Whitney P. Witt. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3374921/)
[2]. National Center for Health Statistic. (https://www.cdc.gov/nchs/fastats/deaths.htm)
[3]. Mind over Matter: Reappraising Arousal Improves Cardiovascular and Cognitive Responses to Stress. Jeremy P. Jamieson, Matthew K. Nock, and Wendy Berry Mendes. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3410434/)
[4]. Giving to Others and the Association Between Stress and Mortality. Michael J. Poulin, PhD, Stephanie L. Brown, PhD, Amanda J. Dillard, PhD, and Dylan M. Smith, PhD. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3780662/)
[5]. What is Oxytocin. Hormone Health Network. (https://www.hormone.org/hormones-and-health/hormones/oxytocin)
[6]. The orgasmic history of oxytocin: Love, lust, and labor. Navneet Magon and Sanjay Kalra. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3183515/)
[7]. The two faces of oxytocin. Tori DeAngelis. (http://www.apa.org/monitor/feb08/oxytocin.aspx)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →