Asam-Basa pada Makanan dan Pernapasan

ASAM DAN BASA PADA MAKANAN DAN PERNAPASAN

Oleh: Mas Gunggung


Tubuh manusia selalu berusaha untuk melakukan penyeimbangan dalam berbagai hal. Kompleksitas proses penyeimbangan ini merupakan sesuatu yang hingga kini belum pernah dapat ditiru dengan sempurna oleh sains. Ada bagian dari tubuh manusia yang hingga detik ini masih menjadi misteri oleh sains dan memiliki tingkat kompleksitas tertinggi dan belum mampu ditiru. Bagian itu adalah DARAH.

Darah terdiri dari plasma (cairan), sel darah putih, dan sel darah merah yang memiliki fungsi sangat kompleks mulai dari transport, regulasi, dan proteksi. Molekul sekecil itu namun memiliki kemampuan luar biasa untuk menyimpan, mengatur, mengirimkan, melindungi, banyak hal dalam tubuh. Hampir semua bagian dalam tubuh harus bersentuhan dengan darah karena sesuatu yang dibawa olehnya sangat dibutuhkan oleh jaringan tubuh yakni nutrisi dan oksigen.

Di dalam darah terdapat suatu kondisi yang dinamakan derajat asam basa atau biasa disingkat dengan pH yang merupakan kependekan dari “Power of Hydrogen”. pH merupakan ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dalam tubuh pada cairan atau fluida. Hal ini wajar saja mengingat darah sebagian besar terdiri dari plasma atau cairan. Skala pH berada pada angka 1 hingga 14 dimana angka 7 menunjukkan Netral, kurang dari 7 menunjukkan Asam, dan lebih dari 7 menunjukkan Basa.

Tubuh manusia selalu berusaha untuk menyeimbangkan pH yang berada pada angka 7.35 hingga 7.45. Proses penyeimbangan ini selalu dilakukan setiap saat. Perubahan pH dapat dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah makanan, minuman, pernapasan, aktivitas fisik, dan lain sebagainya. Meski demikian, makanan dan minuman tidak serta merta dapat langsung mempengaruhi pH. Hal ini dikarenakan tubuh memiliki Lambung yang akan menjadi sistem pertahanan pertama terhadap semua jenis makanan dan minuman yang akan dicerna. Asam Lambung akan bekerja untuk ‘menormalkan’ semua yang masuk ke dalamnya, bahkan apabila makanan dan minuman itu masuk dalam kategori ‘penghasil Basa’ ataupun ‘penghasil asam’ baik yang alamiah maupun komersil.

Asam dan Basa ada prinsip makanan dan minuman sesungguhnya didasarkan pada Potential Renal Acid Loads (PRALs) dan digolongkan pada 3 (tiga) hal yakni Pembentuk Asam, Pembentuk Basa, dan Potensial Netral. Pada makanan Pembentuk Asam didasarkan pada kehadiran Chlorine, Phosporus, dan Sulphur. Sedangkan pada makanan Pembentuk Basa didasarkan pada kehadiran Calcium, Magnesium, Potassium, dan Sodium. Apabila dalam jangka waktu lama terjadi maka akan menyebabkan Metabolik Acidosis atau Metabolik Alkalosis yakni suatu kondisi dimana metabolisme berubah menjadi terlalu Asam atau terlalu Basa.

Satu-satunya cara tercepat, termudah, dan termurah untuk melakukan perubahan asam dan basa adalah melalui pernapasan. Hal ini dikarenakan persamaan Henderson-Hasselbalch yang menjadi rujukan untuk menghitung pH didasarkan pada konsentrasi karbondioksida dan Bikarbonat dengan persamaan sebagai berikut:

pH = 6.1 + LOG((HCO3- / kCO2 * pCO2))

Dengan nilai kCO2 merupakan konstanta CO2 dalam darah dengan nilai 0.03. HCO3- merupakan konsentrasi Bikarbonat dengan nilai normal 24 mmol/L. pCO2 merupakan tekanan normal Karbondioksida pada pembuluh darah arteri sebesar 40 mmHg.

Pada saat seseorang bernapas, maka Oksigen akan dihirup dan kemudian diberikan kepada Hemoglobin untuk didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh melalui pembuluh kapiler. Setiap satu molekul Hemoglobin akan mampu mengikat empat atom Oksigen dengan prosentase total yang disepakati adalah antara 96% hingga 99% pada darah. Prosentase itu disebut dengan SpO2 dan dapat diukur dengan alat yang bernama Oximeter. Jaringan tubuh kemudian akan mengembalikan produk hasil oksidasi ini dalam bentuk Karbondioksida yang kemudian berproses sedemikian rupa menjadi Bikarbonat. Terjadi efek Bohr dan efek Haldane pada peristiwa ini dimana pemuatan dan pelepasan Oksigen terjadi pada Hemoglobin.

Jika seseorang menghirup napas dalam-dalam, maka ia akan mendapatkan Oksigen yang banyak. Apabila Hemoglobin tersedia dalam jumlah cukup dan darah berfungsi baik maka darah akan mampu melewati pembuluh kapiler dan Oksigen tersebut akan didistribusikan secara maksimal ke seluruh jaringan tubuh. Demikian juga, jika seseorang menahan napas dalam jangka waktu cukup lama maka ia akan mendapatkan Karbondioksida yang cukup banyak. Komposisi perubahan Oksigen dan Karbondioksida inilah yang kemudian akan menjadi kondisi yang dapat mengubah pH apakah menjadi Basa atau menjadi Asam.

Apabila Karbondioksida berada pada konsentrasi yang tinggi maka akan menyebabkan kondisi yang disebut dengan Respirasi Acidosis (pernapasan pembentuk asam). Sebaliknya, apabila Karbondioksida berada pada konsentrasi yang rendah akan menyebabkan kondisi yang disebut dengan Respirasi Alkalosis (pernapasan pembentuk basa). Apabila dalam jangka waktu lama dilatih terus menerus maka akan menyebabkan Metabolik Acidosis atau Metabolik Alkalosis.

Jadi, jelaslah bahwa bukan makanan atau minuman yang paling cepat menghasilkan perubahan Asam atau Basa namun justru aspek pernapasan yang paling cepat. Sebab karbondioksida dan bikarbonat sangat mudah dihasilkan melalui pernapasan dibandingkan makanan.

Sel darah merah berbentuk seperti donat tak berlubang dimana bagian tengahnya lebih pipih. Bentuk seperti itu disebabkan karena adanya perbedaan muatan listrik antara bagian luar dan bagian tengah. Bagian terluar dari sel darah merah memiliki muatan negatif (-) sedangkan bagian dalamnya memiliki muatan positif (+). Sebagaimana prinsip magnet dimana jika ada dua muatan yang berbeda berdekatan maka akan terjadi kondisi tarik menarik. Itulah yang kemudian membuat bagian tengah darah menjadi pipih dan lebih cekung.

Bagian diluar sel darah merah dilingkupi oleh sebuah medan listrik yang disebut dengan Zeta Potensial yang memiliki muatan positif (+). Diluar Zeta Potensial itulah tersebar secara acak muatan positif (+) dan muatan negatif (-). Oleh karena bagian luar sel darah merah memiliki muatan negatif (-) maka semestinya antara satu sel darah merah dengan sel darah merah yang lain tidak akan saling menempel. Hal ini dikarenakan pada prinsip magnet dimana jika ada dua muatan yang sama berdekatan maka akan terjadi kondisi tolak menolak. Namun apabila kondisi muatan listrik ini rusak oleh satu dan lain hal maka terjadilah perubahan muatan listrik pada darah. Bagian diluar Zeta Potensial itu adalah plasma dan merupakan area yang dapat dipengaruhi oleh berbagai hal.

Dalam kaidah fluida, yang disebut dengan Asam adalah Proton Donor sedangkan Basa adalah Proton Acceptor. Jadi, manakala oleh karena kebiasaan hidup seseorang dimana ia banyak sekali memakan makanan penghasil Asam atau menghasilkan kondisi yang menyebabkan Asam (misalnya Stres berkepanjangan) maka cairan tubuhnya (plasma) akan lebih banyak menerima Proton sehingga menyebabkan terjadilah dominasi muatan positif (+) pada plasma darah. Efeknya sudah jelas, perubahan sifat magnetisme pada plasma menjadi bermuatan dominan positif (+) dan mempengaruhi muatan terluar pada sel darah merah. Terjadilah koagulasi dan berikutnya akan menyebabkan efek “Van Der Waals force” dimana sel darah merah akan saling tarik menarik dan melekat satu sama lain. Akhirnya mulailah terjadi perlengketan antara satu sel darah merah dengan sel darah merah yang lain. Makin lama perlengketan ini makin banyak hingga menjadi sebuah kondisi yang disebut dengan Rouleau. Apabila Rouleau ini terjadi sangat banyak maka akan menjadi Erithrocyte Aggregation. Pergerakan darah menjadi sangat lambat akibat penggumpalan.

Dan dimulailah permasalahan baru dimana darah menjadi ‘kental’, lengket, dan menggumpal. Efeknya, darah jenis ini jadi sulit untuk melewati pembuluh kapiler. Padahal pembuluh kapiler ini adalah pintu gerbang untuk pengiriman nutrisi dan oksigen. Otomatis jika darah tidak mampu melewati pembuluh kapiler maka jaringan organ akan mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen. Jika terjadi dalam jangka waktu lama maka menyebabkan masalah serius dan bahkan kematian misalnya pada pembuluh darah yang menyempit akibat penumpukan kolesterol. Oksigen yang semestinya masuk ke dalam jaringan tubuh dan melakukan reaksi biokimia untuk menghasilkan energi menjadi terhalang. Timbullah radikal bebas dan lebih banyak oksigen terperangkap pada sel lemak yang tidak dapat diproses.

Lingkungan plasma darah jenis ini mesti ‘dibersihkan’ dari dominasi Proton Donor yang menyebabkan Asam dan mesti diganti menjadi Basa dengan cara meningkatkan asupan Oksigen lebih banyak atau dengan cara menguras Karbondioksida. Cara memasukkan asupan oksigen lebih banyak adalah melalui olahraga fisik berjenis aerobik sedangkan cara menguras karbondioksida dapat dilakukan melalui olah napas. Namun olahraga fisik berjenis aerobik perlu waktu cukup lama untuk mengkondisikan perubahan cairan tubuh menjadi Basa. Apalagi jika tekniknya tidak dipahami dengan baik. Disinilah teknik olah napas mengambil peran penting sebagai sebuah teknik untuk mengkondisikan Oksigen dan Karbondioksida dalam tubuh untuk mengubah kondisi plasma menjadi cenderung Asam atau cenderung Basa.

Jika didapati sebuah metoded dimana lingkungan plasma dapat dinetralisasi untuk dikembalikan pada kondisi Basa, maka semua Rouleau dan Erithrocyte Aggregation tidak akan terjadi. Mereka akan terurai, dan penumpukan sel darah merah tidak akan terjadi. Bersamaan dengan itu, mengubah pola makan agar aspek nutrisi juga ikut serta mempengaruhi semuanya maka didapatlah kondisi lingkungan darah yang sehat dengan pH Basa yang optimal. Dengan pH yang optimal maka semua fungsi enzim dan protein menjadi lebih baik. Hasil akhirnya didapatlah kondisi kesehatan yang membaik. Bahkan tanpa harus melakukan gerakan apapun. Bentuk gerakan bukanlah penentu lahirnya asam dan basa pada tubuh melainkan teknik pernapasanlah yang menjadi penentunya. Bentuk gerakan hanya membantu untuk mengkondisikan percepatan habisnya oksigen dalam tubuh dan mengubahnya menjadi karbondioksida namun ia bukanlah penyebab lahirnya kondisi Asam dan Basa.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:
[1] The Bohr effect and the Haldane effect in human hemoglobin. Tyuma I. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6433091)
[2] On the pH-optimum of activity and stability of proteins. Kemper Talley and Emil Alexov. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2911520/)
[3] The Question of Acid and Alkali Forming Foods. James A. Tobey. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1562900/)
[4] The Alkaline Diet: Is There Evidence That an Alkaline pH Diet Benefits Health? Gerry K. Schwalfenberg. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3195546)
[5] Reducing the Dietary Acid Load: How a More Alkaline Diet Benefits Patients With Chronic Kidney Disease. Passey C. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28117137)
[6] Respiratory acidosis. Epstein SK, Singh N. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11262556)
[7] Respiratory alkalosis. Foster GT, Vaziri ND, Sassoon CS. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11262557)
[8] Acid-Base Homeostasis. L. Lee Hamm, Nazih Nakhoul, and Kathleen S. Hering-Smith. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4670772/)
[9] Electrical properties of the red blood cell membrane and immunohematological investigation. Heloise Pöckel Fernandes, Carlos Lenz Cesar, and Maria de Lourdes Barjas-Castro. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3415751/)
[10] What does blood do? (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0072576/)
[11] Respiratory System. Austin Community College District. (http://www.austincc.edu/apreview/PhysText/Respiratory.html)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →