Akal

AKAL

Oleh: Mas Gunggung

Pada sebuah sesi Workshop Sehat Tanpa Obat di salah satu kota, saya pernah ditanya oleh peserta mengenai apakah dengan semua pencapaian yang telah dilakukan proses mersudi dari sisi AKAL bisa mendapatkan manfaat spiritual dalam bentuk peningkatan kesadaran spiritual? Sebab ketika bicara akal maka dominan lebih mengenyampingkan aspek spiritual.

Bagi saya, ini sebuah pertanyaan yang menarik. Banyak mereka yang kemudian melakukan proses pencarian lewat akal lalu ‘dihakimi’ bahwa itu adalah hal yang keliru. Yang diolah adalah roso, naluri, qolbu, kok malah yang dilatih adalah akal? Bukankah ini paradox?

Ketika mendapat pertanyaan seperti itu sekejap ingatan di kepala saya kembali pada penjelasan yang dibuat oleh Imam Ghazali ketika berbicara mengenai akal. Dikatakan oleh Imam Ghazali bahwa akal itu berkembang dari mulai anak-anak (akal Gharizi) hingga dewasa dan dapat memahami (akal Muktasab). Atau dalam bahasa sains disebut dengan Neuroplasticity yakni kemampuan sel syaraf untuk berkembang dan meluas secara struktural, fungsional, dan molekular seiring ia terus menerus mendapatkan pengetahuan baru kepadanya. Kemudian setelah itu, area otak yang berhubungan dengan proses pembelajaran spiritual mulai aktif. Jadi, kalau Anda tidak mau belajar maka akal Anda akan mati. Ini proven by science. Itulah sebabnya pada usia dimana proses degeneratif terjadi yakni pada usia lanjut diwajibkan bagi mereka untuk berkumpul membentuk komunitas dan melakukan suatu kegiatan baru. Tujuannya selain agar tidak kesepian juga agar neuroplasticity pada otak terjadi dan terhindar dari berbagai permasalahan pada sistem syarafnya seperti misalnya pikun, parkinson, alzheimer, stroke, dan lain sebagainya. Dan neuroplasticity juga terjadi pada bagian lain dalam tubuh kita.

Berbicara mengenai perkembangan yang meluas secara struktural, fungsional, dan molekular juga dapat dilihat pada kondisi Diabetes. Yakni masalah kesehatan yang saat ini menjangkiti banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Masalah Diabetes ini meningkat terus menerus dari tahun ke tahun. Dalam pemahaman saya saat ini, Diabetes dapat dilihat dari 3 sudut pandang sebagai berikut:

  1. Glukosa Puasa, atau sering disebut dengan GDP (gula darah puasa), yakni kadar gula darah dalam 24 jam terakhir.
  2. HbA1c, atau sering disebut dengan Glycated Hemoglobin, yakni kadar gula darah yang dalam 2-3 bulan terakhir.
  3. Insulin Puasa, yakni kadar Insulin yang terlihat dalam 1-2 tahun terakhir.

Bayangkan, teknologi modern saat ini sudah dapat melihat pergerakan gula darah dari masa sehari yang lampau, lalu masa 2-3 bulan yang lampau, dan masa 1-2 tahun lampau. Hanya tinggal menunggu waktu saja dimana perkembangan teknologi mampu melakukan regresi waktu untuk melihat keadaan parameter yang berisi informasi tertentu pada manusia di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Prediksi-prediksi yang dibuat oleh teknologi berdasarkan statistik akan mampu melihat bagaimana kecenderungan suatu parameter terjadi di masa yang akan datang yang kemudian melahirkan tingkat prosentase yang semakin lama semakin besar.

Jika teknologi yang buatan manusia saja saat ini sudah mulai mampu menyibak pengetahuan yang ada pada masa lalu, masa kini, dan prediksi masa yang akan datang maka bagaimana dengan Sang Pemilik Teknologi? Begitu sangat mudahnya Sang Pemilik Teknologi, Sumber segala sumber ilmu, Sang Maha Penguasa untuk menunjukkan satu atau lebih parameter yang dilakukan oleh tubuh manusia sejak awal mula lahir hingga meninggal dan membuat parameter-parameter tersebut “bercerita” mengenai apa yang terjadi kepadanya.

Mungkin saja ada parameter-parameter dalam diri kita entah dalam bentuk protein atau enzim atau zat tertentu yang mampu menunjukkan aktivitas tangan, kaki, mata, dan lain sebagainya yang berisi informasi mengenai arah, jarak, waktu, koordinat, dan lain sebagainya yang ketika semua nilai-nilai yang ada di dalam parameter itu diambil maka akan terlihatlah kemana kita melangkah, kapan dan berapa lama kita melangkah, bersama siapa, dan lain sebagainya.

Saya selalu merinding ketika membaca ayat ini:

“Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” (Yasin, 65)

Pada masa itu mungkin ayat tersebut ditertawakan. Bagaimana bisa tangan bisa “bicara”? Bagaimana mungkin kaki bisa “bersaksi”? Terhadap apa-apa yang sudah dilakukan? Tapi dengan memahami sedikit saja pengetahuan mengenai gula darah diatas maka ayat tersebut menjadi benar adanya. Cara tangan “bicara” atau cara kaki “bersaksi” bukanlah dengan pemahaman seperti halnya mulut berucap dengan lisan. Maybe something different.

Mungkin, inilah yang dulu dialami oleh Chrisye ketika penyair Taufiq Ismail menuliskan sebuah lagu untuk Chrisye yang bahkan tidak mampu untuk diulang pada studio. Lagu tersebut diberi judul “Ketika Tangan dan Kaki Bicara”.

Jadi, jika proses mersudi pada akal difungsikan secara semestinya maka ia juga akan membuka sekat pengetahuan spiritual yang selama ini tidak atau belum terbuka. Karena penggunaan akal adalah sesuatu yang juga sering disebut di dalam Al Quran belasan kali seperti misalnya, “Allah mengkaruniakan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya; dan siapa yang dikaruniakan hikmah maka sungguh dia telah diberikan kebajikan yang banyak; dan tiadalah yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berfikir.” (Al Baqarah 269)

Barangkali saya juga ada salah, dalam berucap atau bertindak, semoga bisa dimaafkan.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

[1]. Akal. Hidayatullah. (https://www.hidayatullah.com/…/r…/2015/07/16/74085/akal.html)
[2]. Aging and neuroplasticity. Gwenn S. Smith, PhD. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3622467/)
[3]. Use of Glycated Haemoglobin (HbA1c) in the Diagnosis of Diabetes Mellitus: Abbreviated Report of a WHO Consultation. Geneva: World Health Organization; 2011. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK304271/)
[4]. Use of Glycated Hemoglobin in the Diagnosis of Diabetes Mellitus and Pre-diabetes and Role of Fasting Plasma Glucose, Oral Glucose Tolerance Test. Naser Alqahtani, Waseem Abdul Ghafor Khan, Mohamed Husain Alhumaidi, and Yasar Albushra Abdul Rahiem Ahmed. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3793483/)
[5]. Glycated hemoglobin A1c as a modern biochemical marker of glucose regulation. Kojić Damjanov S, Đerić M, Eremić Kojić N. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25546982)
[6]. Glycated Hemoglobin, Diabetes, and Cardiovascular Risk in Nondiabetic Adults. Elizabeth Selvin, Ph.D., M.P.H., Michael W. Steffes, M.D., Ph.D., Hong Zhu, B.S., Kunihiro Matsushita, M.D., Ph.D., Lynne Wagenknecht, Dr.P.H., James Pankow, Ph.D., M.P.H., Josef Coresh, M.D., Ph.D., and Frederick L. Brancati, M.D., M.H.S. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2872990/)
[7]. Identifying Prediabetes Using Fasting Insulin Levels. Jennal Johnson, Daniel Duick, Michelle Chui, Saleh Aldasouqi. (http://journals.aace.com/doi/10.4158/EP09031.OR)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →