Hiperglikemia

HIPERGLIKEMIA

Banyak yang bertanya, bagaimana pendekatan metode Kebugaran saya bisa dengan sangat cepat menurunkan kadar gula darah hanya dalam hitungan menit sehingga proses Normalisasi Diabetes benar-benar dapat terjadi hanya dalam hitungan hari?

Sebelum menjawab itu, mari saya jelaskan sedikit bagaimana latihan fisik aerobik dapat mempengaruhi gula darah dan baru setelah itu akan dibandingkan dengan metode saya.

Latihan Aerobik

Pada mereka yang latihan aerobik, otot yang dipakai akan menjadi lebih sensitif terhadap hormon Insulin dan akan menyerap lebih banyak glukosa dari darah. Meski demikian, naik dan turunnya gula darah pada kondisi ini sangat bersifat individual. Kadang-kadang gula darah malah jadi naik alih-alih turun. Maka, agar didapat hasil yang akurat perlu dilakukan pengukuran sebelum, saat latihan, dan setelah latihan untuk melihat bagaimana latihan pada tubuh kita merespon terhadap perubahan gula darah.

Beberapa saran melakukan latihan fisik yang paling mudah diantaranya adalah jalan kaki minimal 10.000 langkah setiap hari atau berenang, atau bersepeda. Atau bisa juga dengan melakukan latihan aerobik minimal 30 menit sebanyak 5x dalam seminggu. Namun bagi mereka yang mengalami obesitas, menjalani latihan fisik sangatlah menguji keteguhan. Jika tidak benar-benar serius ingin sembuh dari diabetes maka latihan fisik umumnya malas. πŸ™‚

Saat melakukan latihan fisik, detak jantung akan menjadi lebih cepat dan napas menjadi semakin sering. Bahkan pada aktivitas fisik yang berat malah bisa meningkatkan gula darah karena tubuh membuat lebih banyak hormon stres. Hormon stres (kortisol) merupakan salah satu penyebab naiknya gula darah, ia akan memproduksi glukosa internal dalam tubuh. Proses pembuatan gula darah internal itu disebut dengan Gluconeogenesis. Jadi, jangan selalu menyangka bahwa latihan fisik yang lama dan berat akan membuat gula darah Anda turun. Jika stres naik maka gula darah justru akan naik tanpa disadari jika tidak ditangani dengan benar.

Sebaliknya, ada juga kondisi dimana pada jenis latihan aerobik yang dianggap sangat berat oleh tubuh justru malah membuat gula darah jadi drop terjun bebas hingga dibawah 70 mg/dL (terjadi Hypoglikemia) selama 24 jam berikutnya. Kondisi ini sering disebut sebagai “lag effect” dari suatu latihan yang berat. Banyak kasus orang meninggal karena latihan terlalu berat bukan karena latihannya menguras fisik melainkan karena gula darahnya drop terjun bebas hingga terjadi Hypoglikemia.

Pada dasarnya, saat kita melakukan latihan fisik maka tubuh akan menggunakan 2 jenis sumber energi yakni Glukosa dan Asam Lemak Bebas. Glukosa akan diambil dari darah, otot, dan Liver. Glukosa yang tersimpan pada Liver dan Otot disebut dengan Glycogen. Pada 15-30 menit latihan fisik, sumber energi umumnya masih mengambil dari Glukosa dan atau Glycogen. Ketika latihan fisik dilakukan lebih dari 30 menit, barulah tubuh akan berusaha menggunakan sumber energi lain yakni Asam Lemak Bebas (Free Fatty Acid / FFA). Jika tubuh sudah berhasil menggunakan Asam Lemak Bebas itu artinya persediaan Glukosa dan Glycogen sudah mulai terkuras. Efeknya, kadar gula darah Anda jadi turun.

Tubuh kemudian akan berusaha mengganti Glukosa tersimpan hingga 4-6 jam setelahnya atau bahkan 12-24 jam pada latihan yang cukup berat. Pada fase pembuatan ulang Glycogen mereka yang mengalami Diabetes akan memiliki resiko tertinggi kondisi drop gula darah. Maka, sering kita jumpai mereka yang setelah olah raga berat kemudian tiba-tiba bisa pingsan atau bahkan meninggal akibat gula darah turun dibawah 70 mg/dL. Apabila setelah selesai latihan kemudian Anda merasa pusing atau tidak nyaman, ukurlah segera gula darah Anda dan pastikan tidak terjun bebas. Jika Anda tidak punya alat ukur glukosa darah di rumah maka buatlah asumsi bahwa gula darah Anda sedang drop dan segeralah konsumsi gula (coklat, teh manis, atau sejenis itu).

Latihan Aerobik umumnya menggunakan jalur biokimia metabolisme tubuh berbasis Oksidasi Phosphorilasi (oxphos). Ini adalah jalur yang normal. Jika diringkas, saya tulis sebagai berikut:

  1. Karbohidrat, Protein, dan Lemak, dipecah menjadi Glukosa melalui proses yang namanya Glikolisis. Kemudian terbentuk Asam Piruvat. 2 ATP dihasilkan disini. Ini terjadi di Cytoplasm.
  2. Asam Piruvat akan masuk ke dalam Siklus Krebs. Ini terjadi di Mitokondria.
  3. Di dalam Siklus Krebs, singkatnya, akan dihasilkan kelebihan Elektron. 2 ATP dihasilkan juga disini.
  4. Kelebihan Elektron kemudian dimasukkan ke dalam Electron Transport Chain. Muncullah ATP dalam jumlah besar darisana.

Total net dari 4 proses diatas didapatkan 29-38 ATP. We have power to do many things.

Sampai sini masih mudah dimengerti ya. Semoga πŸ™‚

Nah sekarang saya jelaskan pendekatan saya.

Ringkasan empat proses diatas sebenarnya bisa dipecah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Namun hal ini umumnya tidak dijelaskan secara umum. Penjelasan yang lebih detail ada pada pemahaman mengenai Biokimia. Materi ini tanpa saya sadari akhirnya masuk ke dalamnya dan ternyata sangat mengasyikkan. Meskipun saya bukanlah seorang sarjana ilmu kimia dan tidak ingin ‘njlimet’ ketemu dengan rumus-rumus kimia namun ketika saya belajar konsep ini rupanya bisa juga dipahami dalam bentuk yang berbeda dan bisa dijelaskan kepada masyarakat umum yang tidak berbenturan dengan teori aslinya.

Proses 2 melibatkan enzim yang disebut dengan PDH (Pyruvate DeHydrogenase) atau LDH (Lactate DeHydrogenase). Jika ia menggunakan Oksigen maka PDH akan dimunculkan untuk mengantarkan Pyruvate memasuki Siklus Krebs. Jika ia tidak menggunakan Oksigen maka LDH akan dimunculkan untuk mengubah Pyruvate menjadi Lactate. Disinilah ‘CLING’ pertama saya. πŸ™‚

Artinya, mesti ada kondisi dimana Proses nomor 2 bisa dibelokkan sehingga Pyruvate tidak jadi masuk ke dalam Siklus Krebs. Dan rupanya benar bisa dibelokkan! Ini seperti ketika saat sedang berhadapan dengan lawan dan diserang kemudian saya membelokkan serangan itu ke tempat lain.

Saya lanjutkan.

Ketika proses nomor 2 berhasil dibelokkan artinya pembentukan ATP pada proses berikutnya tidak terjadi. Maka pada metode saya tidak dibutuhkan pengejangan maksimal, secukupnya saja, sebab toh ATP juga tidak dibentuk pada proses biokimianya.

Lalu bagaimana caranya membelokkan proses nomor 2 diatas?

Mari saya ajak Anda berkenalan dengan Regulator Oksigen dalam tubuh yang bernama HIF-1 singkatan dari Hypoxia-Inducible-Factor-1. Inilah kunci teori dari metode saya.

Selain HIF-1, landasan teori yang dipakai pada metode saya ada pada 4 teori berikut ini:

  1. Efek Bohr
  2. Efek Haldane
  3. Efek Pasteur
  4. Efek Warburg

Kapan waktu nanti saya bahas secara terpisah. Mumpung saya masih bisa nulis bebas sekarang ini. πŸ™‚

Mari saya jelaskan mengenai HIF-1 dulu secara singkat.

Peran utama dari HIF-1 adalah untuk mengganti metabolisme Glukosa dari Oxidative Phosphorylation (OXPHOS) menjadi Glycolysis dibawah kondisi Hypoxic (efek Pasteur) atau Normoxic (pseudohypoxia atau efek Warburg). Kok bisa HIF-1 mengganti metabolisme Glukosa ke bentuk lain? Hal ini dikarenakan pada saat kondisi Hypoxia akan terbentuk enzim PDK1 (Pyruvate Dehydrogenase Kinase 1) yang merupakan negatif regulator dari PDH. Ingat, PDH adalah enzim yang menyebabkan Pyruvate dapat memasuki Siklus Krebs. Munculnya PDK1 akan menonaktifkan PDH. Ketika enzim itu dihalangi maka LDH akan keluar dan memaksa Pyruvate menjadi Lactate. Inilah, pembelokan yang pertama.

Nah, oleh karena Pyruvate tidak dapat memasuki Siklus Krebs akibat dari kemunculan PDK1 maka Mitokondria akan melakukan proses Autophagy secara selektif sehingga mengakibatkan menurunnya produksi ATP. Tentunya sebelum Hypoxia terjadi, proses Aerobik tetap berlangsung namun makin lama mengalami gangguan. Meskipun demikian, proses pada Mitokondria tetap harus tetap berjalan dan memerlukan sumber energi maka metabolisme tubuh akan melakukan proses yang disebut dengan Fatty Acid Degradation atau degradasi asam lemak.

Secara kaidah Biokimia, kondisi Hyperglikemia (gula darah tinggi) menyebabkan munculnya 4 kondisi sebagai berikut:

  1. Aktifnya jalur Polyol
  2. Aktifnya jalur Hexosamine
  3. Aktivasi Protein Kinase C
  4. Aktifnya jalur AGE (advanced glycation end-products)

Jangan pusing, nanti kapan waktu saya bahas terpisah. πŸ™‚

Obat-obatan untuk solusi diabates umumnya berbasis keempat cara kerja diatas. Saya akan ambil contoh misalnya Metformin. Metformin adalah obat anti diabetes yang dapat menekan proses respirasi pada Mitokondria. Obat anti diabetes ini bekerja dengan cara menghambat konsumsi oksigen dan produksi ATP melalui . Sederhananya, obat ini mampu membuat Mitokondria kekurangan oksigen untuk proses Oksidasi di dalam dirinya dan mengaktifkan jalur lain yang berbeda dari sebelumnya. Artinya, metabolisme level sel dibelokkan oleh obat ini.

Nah, perhatikan, tidakkah itu sama dengan pembelokkan diatas? πŸ™‚

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →