Bagaimana Olah Napas Mempengaruhi Weight Loss

BAGAIMANA METODE OLAH NAPAS MEMPENGARUHI WEIGHT LOSS

Banyak yang heran, kok bisa pendekatan kebugaran dengan metode Pergeseran Asam-Basa Darah ini mempengaruhi berat badan? Meskipun saya sudah beritahukan bahwa pada metode saya yang berbasis perubahan kimiawi darah ini berdasarkan fungsi darah yang 2 yakni Membawa Nutrisi dan Membawa Oksigen.

Semua kelebihan pada Nutrisi dan Oksigen ini dapat diatasi dengan pengaturan pola makan dan pola mengolah oksigen. Bahasa kerennya adalah Intermittent Fasting dan Intermittent Hypoxic. Istilah Intermittent Fasting jika saya terjemahkan bebas memiliki arti Puasa Makanan sedangkan Intermittent Hypoxic saya terjemahkan bebas sebagai Puasa Oksigen. Tentu saja puasa makanan yang hitungannya jam (mulai dari 12 jam, 16 jam, dan seterusnya) berbeda dengan Puasa Oksigen yang hitungannya detik.

Menganggap puasa oksigen sama lamanya dengan puasa makanan adalah sebuah kekeliruan yang fatal. πŸ™‚

Lalu bagaimana pendekatan saya kok bisa sampai menurunkan berat badan? Tidakkah cukup Intermittent Fasting menjadi solusi penurunan berat badan? Ya, puasa memang sangat efektif di dalam menurunkan berat badan. Itu tidak dapat dibantah. Banyak penelitian ilmiah diluar sana mengenai bagaimana puasa berpengaruh pada penurunan berat badan. Lalu kalau dengan puasa saja dapat menurunkan berat badan apakah perlu lagi Puasa Oksigen?

Dulu juga saya berpendapat seperti itu. Namun seiring perjalanan pengetahuan dan semakin meluasnya bahan bacaan saya rasanya kok ya selama ini saya hanya belajar 50% saja. Ingat fungsi darah itu ada 2, jika saya hanya belajar mengenai kaidah nutrisi dan teknik pembatasannya melalui puasa berarti saya hanya belajar separuh saja dari fungsi darah. Demikian juga sebaliknya, jika saya hanya belajar mengenai ilmu olah napas saja tanpa belajar bagaimana makanan menjadi nutrisi dan diserap tubuh artinya saya hanya belajar separuh juga. Masih tidak lengkap. Maka jika ingin menguasai keseluruhan dan mendapatkan kesehatan yang paripurna artinya saya harus belajar mengenai ilmu nutrisi dan belajar mengenai ilmu olah napas. Maka klop lah seluruh pengetahuan darah.

Banyak kita jumpai praktisi olah napas yang makanannya tidak terjaga dan tidak mengerti bagaimana caranya makanan berubah menjadi nutrisi dan diserap tubuh. Hingga akhirnya terkena diabetes, jantung, ginjal, paru-paru, dan penyakit degeneratif lainnya. Mungkin saja ilmu olah napasnya tinggi dan mumpuni, namun kalaupun itu dikuasai tetaplah ia hanya mendapatkan 50% kesembuhan. Tidak permanen dan tidak paripurna. Apalagi pengetahuan olah napasnya tidak dibarengi dengan pengetahuan nutrisi, menjadi timpang adanya. Hari ini, dengan powernya atau dengan getarannya, ia bisa menurunkan gula darah sesaat. Mungkin saja. Namun, ketika ia makan karbohidrat lagi maka hukum alam kembali bekerja yakni gula darahnya naik kembali secara drastis. Dan ia tidak mungkin melakukan penurunan gula darah secara terus menerus dengan powernya atau tenaga getarannya tanpa mengubah pola makannya. Maka dalam kebugaran saya, yang memfokuskan pada kimiawi darah, antara Makanan dan Olah Napas adalah SATU KESATUAN. Tidak bisa dilepas. Tidak bisa dipisah. Jika Anda ingin mendapatkan manfaat paripurna, maka pahami ilmu keduanya. Inilah sudut pandang kebugaran saya.

Melalui group ini saya pernah menulis bagaimana teknik olah napas berpengaruh pada pemecahan Lemak tubuh yakni dengan melakukan pergeseran metabolisme yang membuat mitokondria kekurangan energi pada suatu saat dan mau tidak mau ia harus mengambil dari sumber energi cadangan, yakni dari Lemak. Di tubuh ini hanya ada 2 jenis sumber cadangan energi yakni Glikogen (glukosa yang tersimpan pada Liver dan Otot) serta Lemak. Glikogen itu ibarat Kulkas, bisa diisi dengan mudah dan bisa diambil dengan mudah. Masa penyimpanan Glikogen hanyalah 24 jam saja dan dengan jumlah tertentu (100 gram pada Liver, dan 200-400 gram pada Otot). Jika lebih dari jumlah itu atau masa penyimpanan sudah terlampaui maka secara otomatis tubuh akan mengkonversinya menjadi cadangan Lemak. Kenapa tubuh kita melakukan hal seperti itu? Yakni agar tubuh punya cukup energi manakala orang itu sedang kekurangan energi dan terpaksa tidak mengkonsumsi karbohidrat dalam suatu rentang waktu tertentu. Melalui cadangan Lemak inilah tubuh punya kemampuan untuk mengambil energi untuk melakukan aktivitas metabolismenya.

Jika proses olah napas hanya berbasis Aerob, maka pemecahan Lemak masih dimungkinkan namun dengan proses yang lama. Pada latihan berbasis Aerob diperlukan minimal 30 menit lebih agar lemak dapat dipecah menjadi energi, yakni menunggu Glukosa saat itu dan Glikogen habis terkuras. Jika belum terkuras maka Lemak tidak akan dipecah. Umumnya latihan Aerobik akan menyebabkan kondisi yang disebut Basal Metabolisme Rate yakni terjadinya pemecahan lemak meskipun sedang beristirahat. Pada latihan yang umum, Basal Metabolisme Rate ini sangat rendah. Maka dari itu dikembangkanlah teknik-teknik latihan Aerobik yang dapat meningkatkan Basal Metabolisme Rate.

Sebaliknya, pada metode Kebugaran saya yang berusaha mencapai kondisi Hypoxic yakni kondisi Oksigen sangat minim pada tubuh maka mau tidak mau metabolisme akan melakukan pergeseran dari Glukosa (kemudian Glikogen) menuju Lemak tidak dalam 30 menit lebih melainkan dalam hitungan detik. Pergeseran jalur metabolisme ini akan membuat semua cadangan makanan tubuh dipakai dan terkuras dalam waktu singkat. Efeknya jelas, berat badan akan turun pada mereka yang menjalani latihan rutin, meskipun tanpa mengubah pola makan atau tanpa menjalani Intermittent Fasting.

Apakah hanya dari situ saja pengaruh olah napas berbasis Intermittent Hypoxic ini? Tidak. Ada sebab lain, dan akan saya jelaskan sebentar lagi.

Mari saya ajak Anda berkenalan dengan Enzim.

Enzim, adalah protein yang fungsinya sebagai katalis biologis. Arti dari ‘katalis biologis’ adalah molekul biologis yang dapat melakukan percepatan suatu reaksi kimia dalam tubuh. Setiap reaksi kimia yang terjadi pada metabolisme tubuh pasti melibatkan enzim. Terdapat 3 (tiga) golongan besar Enzim yakni Protease, Carbohidrase, dan Lipase. Sesuai dengan namanya, Protease berarti enzim untuk melakukan katalis biologis terhadap Protein. Carbohidrase berarti enzim untuk melakukan katalis biologis terhadap Karbohidrat. Dan Lipase berarti enzim untuk melakukan katalis biologis terhadap Lipid (lemak).

Saya tidak akan membahas terlalu detail pada masing-masing enzimnya namun hanya pada bagian-bagian penting saja pada konsep kebugaran saya yang mengakibatkan perubahan pada berat badan.

Pertama, enzim bekerja dengan aktivitas terbaik salah satunya pada pH yang optimum. Bicara pH berarti bicara asam-basa toh? Artinya, apabila tubuh mampu berada pada pH terbaik maka SELURUH ENZIM AKAN BEKERJA DENGAN SANGAT BAIK. Oleh karena latihan kebugaran dengan metode Pergeseran Asam-Basa Darah ini mampu menghasilkan pH yang optimal itu artinya seluruh enzim di tubuh praktisinya berfungsi dan bekerja dengan sangat-sangat optimal.

Misalnya, enzim Amilase yang masuk pada golongan Carbohidrase yang berfungsi sebagai pemecah karbohidrat pada mulut dan usus menjadi molekul yang lebih kecil (maltosa) sehingga mudah untuk diserap usus. Demikian juga dengan enzim Lipase yang berfungsi sebagai pemecah Lemak menjadi molekul yang lebih kecil (asam lemak dan Glycerol). Kedua enzim ini akan berfungsi sangat maksimal setelah latihan kebugaran dengan metode Pergeseran Asam-Basa Darah ini. Artinya, tubuh praktisi kebugaran dengan metode saya akan memiliki pencernaan yang mampu mencerna makanan menjadi lebih baik. Itulah sebabnya kenapa meski tanpa menjalankan intermittent fasting kok berat badan tetap bisa turun? Jawabannya adalah selain dari bergesernya metabolisme dari pemecahan Glukosa dan Glikogen menjadi pemecahan Lemak juga bertambah baiknya kerja Enzim Amilase dan Lipase pada tubuhnya sehingga semua makanan yang dipecah menjadi nutrisi terjadi secara optimal.

Jika ingin lengkap, saya mempunyai teknik intermittent fasting yang sesuai dengan karakteristik latihan olah napasnya yang berdasarkan karakteristik enzim dalam memecah makanan menjadi molekul yang lebih kecil. Inilah yang saya jadikan program Kebugaran untuk Weight Loss yang sangat unik dan tidak akan sama dengan pola diet manapun.

Saya membuat motto bagi para penikmat segala makanan (karbohidrat, protein, dan lemak) sebagai berikut:

“Intermittent Fasting is the Healer, Olah Napas metode Pergeseran Asam-Basa is the Keeper”. Atau jika diterjemahkan bebas, Puasa Makanan adalah Obatnya, sedangkan Olah Napas metode Pergeseran Asam-Basa adalah Penjaganya. Keduanya harus seiring sejalan agar hasil optimal sesuai dengan fungsi darah pada manusia.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:
[1] Proteins and enzymes. (http://www.bbc.co.uk/schools/gcsebitesize/science/add_aqa/proteins/proteinsrev3.shtml)
[2] Worthington Biochemical Corporation. Introduction to Enzymes. (http://www.worthington-biochem.com/introbiochem/effectsph.html)
[3] The effect of pH on enzyme actvity. Lecture Outline. Biology 4 section FV. Brooklyn College.(http://academic.brooklyn.cuny.edu/biology/bio4fv/page/ph_and_.htm)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →