Turun Berat Badan

TURUN BERAT BADAN

Salah satu efek dari latihan Kebugaran dengan metode Pergeseran Asam-Basa ini adalah terjadinya penurunan berat badan dalam periode tertentu tanpa mengubah pola makan sama sekali. Horeee..! πŸ™‚

Bagaimana bisa metode ini dapat menurunkan berat badan?

Pertama, mari saya bantu untuk memahami bagaimana metabolisme dari nutrisi berperan pada tubuh kita dalam hal kenaikan dan penurunan berat badan. Setelah itu saya akan jelaskan bagaimana respirasi juga memiliki peran dalam proses yang sama meski dengan jalan yang berbeda. Ya, tubuh kita ini punya berbagai macam kombinasi canggih yang sangat luar biasa. Metabolisme bisa digeser kesana dan kesini dengan berbagai jenis perubahan. Seseorang bisa menggeser metabolisme dengan melakukan perubahan pada makanannya, juga dapat mengubah jalurnya melalui perubahan pada cara bernapasnya.

Tubuh kita memproses sumber makanan yang berbasis Karbohidrat, Protein, dan Lemak menjadi energi yang dibutuhkan. Karbohidrat akan diproses secara kimiawi melalui suatu proses yang disebut dengan Glikolisis, yakni jalur metabolisme untuk memecah Glukosa menjadi Asam Piruvat. Glikolisis terjadi pada Sitoplasma. Bila Glikolisis melibatkan kehadiran Oksigen maka ia akan masuk pada Siklus Krebs dan Electron Transport Chain. Dua proses tersebut terjadi di Mitokondria. Sejumlah besar Energi akan dihasilkan setelahnya.

Ada berapa panjang jalur proses Glikolisis jika terdapat kehadiran oksigen? Tiga, yakni Glikolisis, Siklus Krebs, dan Electron Transport Chain.

Dimana proses Siklus Krebs dan Electron Transport Chain terjadi? Di Mitokondria.

Apa yang diproses? Gula (glukosa).

Darimana gula tersebut berasal? Karbohidrat.

Karbohidrat berasal darimana? Dari makanan yang kita makan seperti nasi, kentang, ubi, jagung, singkong, sagu, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran hijau, oat, dan pasta. Jadi semua makanan tersebut dan olahannya mengandung karbohidrat. Oleh karena karbohidrat mengandung gula maka semua jenis makanan tersebut mengandung gula.

Apabila seseorang memiliki pola makan karbohidrat yang cukup tinggi maka tentunya terjadi kelebihan karbohidrat pada tubuh. Dengan kata lain terjadi kelebihan gula pada tubuh. Tubuh akan berusaha menyesuaikan kelebihan gula ini dalam bentuk penyimpanan cadangan makanan. Gula, tidak dapat disimpan terlalu lama dalam tubuh, ia harus dikonversi menjadi bentuk lain. Dan bentuk lain yang dimaksud adalah Lemak. Jadi, kelebihan gula pada tubuh akan diubah oleh tubuh dan disimpan dalam bentuk cadangan lemak.

Namun seseorang umumnya tidak hanya makan nasi murni 100%, pasti ada “teman-temannya”, ada lauk pauknya. Lauk pauk ini termasuk ke dalam golongan apa? Jika ia makan sayuran, makan kentang juga, maka kadar karbohidrat bertambah. Tubuh hanya akan menyesuaikan pemakaian gula melalui proses Glikolisis berbasis karbohidrat sesuai dengan kebutuhan. Jika ia banyak makan namun sedikit gerak, maka semua kelebihan gula akan diubah tubuh menjadi cadangan lemak. Mula-mula sedikit, makin lama makin menumpuk, terjadilah kegemukan (obesitas).

Manakala orang itu sadar lalu ia berusaha melakukan latihan fisik dengan berolahraga maka ia akan bisa mengubah jalur Glikolisis tersebut yang sebelumnya berbasis Gula/Glukosa menjadi berbasis Lemak. Semua olahraga fisik hampir melibatkan dua jenis respirasi yakni Aerob dan Anaerob. Hanya saja ada yang dominan di Aerob, ada yang dominan di Anaerob, dan ada yang berusaha masuk pada keduanya. Ketika masuk pada latihan Aerob (memerlukan Oksigen) maka ia kembali pada jalur metabolisme seperti yang saya sebutkan sebelumnya yakni Glikolisis berbasis Karbohidrat. “Si Karbo” ini “dibakar” dulu pada kondisi saat itu (belum pakai cadangan). Maka dari itu olahraga berjenis Aerobik mengukur kalori dalam rentang waktu tertentu, sebab melalui rentang waktu tertentu inilah “Si Karbo” saat itu dibakar habis. Ingat, pembakaran “Si Karbo” yang dimaksud adalah “Si Karbo” saat itu, bukan cadangan karbo yang berasal dari hari-hari sebelumnya. Jika waktu yang dipersyaratkan (misal 15 menit, atau 30 menit, atau 45 menit, atau lebih sesuai panduan) barulah tubuh akan mengambil “Si Karbo” dari cadangan yang ada. Darimana? Yakni dari Lemak. Proses ini terjadi di Liver. Umumnya, 30 menit pertama tubuh akan membakar “Si Karbo” saat itu yang tersisa. Anda harus non stop minimal pada 45 menit dimana 15 menitnya berisi pembakaran lemak. Ini juga artinya, 15 menit berikutnya Liver Anda bekerja terus menerus.

Oleh karena tubuh tidak boleh berhenti, maka memperhatikan detak jantung menjadi keharusan pada latihan Aerobik. Jantung harus dijaga pada kondisi BPM (beats per minute) sebesar 60% dan maksimal 80%. Lebih dari itu, jantung Anda bekerja berat dan berbahaya secara jangka panjang meskipun mungkin Anda membakar kalori lebih banyak. Ini bisa menjelaskan kenapa kalau Anda hanya jalan kaki lima menit tiap hari atau sepuluh menit kok berat badan saya sulit turun. Hal ini dikarenakan pembakaran “si Karbo” belum bergeser ke pengambilan cadangan karbo pada tubuh. Anda hanya membakar “si Karbo” saat itu saja. Kalaupun Anda berhasil menggeser metabolisme hingga terjadi pembakaran lemak pada latihan Aerobik namun Anda tidak memperhatikan kondisi jantung, maka ini juga jadi bahaya. Sehingga semua latihan Aerobik harus memperhatikan benar kurva detak jantung yang harus dijaga pada rentang 60%-80% dan tidak boleh ada spike/kenaikan fluktuatif.

Banyak kejadian master-master beladiri kena sakit jantung karena kurva detak jantung yang fluktuatif dan tidak pernah diperhatikan benar. MP juga dulu pernah mengalami perbaikan SOP (standar operational procedure) karena pada suatu penelitian terjadi kurva detak jantung yang terlalu tinggi. Maka ditambahkanlah jeda waktu antara satu bentuk latihan olah napas ke bentuk berikutnya. Maka ketika ada senior atau pelatih yang mengajak latihan olah napas TANPA JEDA (selesai bentuk pertama, lanjut ke bentuk kedua, lanjut ke bentuk ketiga, dan seterusnya tanpa jeda istirahat), saran saya minta izin pulang saja. πŸ™‚ Sayangi jantung Anda sebab secara jangka panjang, jantung menjadi lemah. Jangan korbankan ambisi untuk sakti dengan organ tubuh Anda yang sulit dicari gantinya.

Pada beberapa jenis latihan Aerobik tertentu seperti misalnya HIIT (High Intensive Interval Training) yang Anda target bukanlah pembakaran lemak yang terjadi pada saat itu, melainkan sesuatu yang disebut dengan “after burn” yakni meningkatnya Basal Metabolisme Rate. Basal Metabolisme Rate ini akan menyebabkan terjadinya pembakaran lemak meskipun Anda sudah berhenti latihan selama beberapa jam.

Nah, sampai sini semoga bisa dipahami darimana pembakaran lemak itu terjadi.

Tarik napas dulu πŸ™‚

Pada beberapa jenis diet tertentu seperti misalnya Diet Ketogenik, tubuh akan dipaksa beradaptasi dengan pola makan yang baru yakni sedikit karbohidrat dan makan lemak yang banyak. Diet ini disebut dengan LCHF (low-carb-high-fat). Pola makan yang baru ini akan mengubah jalur Glikolisis yang semula berbasis Karbohidrat menjadi berbasis Lemak.

Ingat, Glikolisis adalah pemecahan Glukosa menjadi Asam Piruvat, apakah itu berasal dari karbohidrat, protein, ataupun lemak. Jika mereka yang menjalani diet Ketogenik ini tidak makan karbohidrat dan gula serta olahannya lalu darimana tubuhnya mendapatkan Glukosa? Rupanya tubuh memiliki mekanisme untuk memproduksi Glukosa secara mandiri melalui proses yang disebut dengan Glukoneogenesis. Namun proses ini hanya akan menghasilkan glukosa yang cukup untuk kebutuhan tubuh saja. Jika Anda membaca tulisan saya diatas pada Glikolisis berbasis Karbohidrat, proses Glukoneogenesis ini relatif jarang terjadi. Kenapa? Karena Anda makan sumber penghasil Glukosa. Sementara pada diet Ketogenik sama sekali tidak ada glukosa dari luar yang masuk ke dalam tubuh maka dari itu Glukoneogenesis terjadi. Sehingga pada mereka yang menjalani pola Ketogenik ini akan menghasilkan nilai Gula Darah dibawah 80 (sangat rendah).

Lalu darimana energi dihasilkan jika tidak dari Glukosa? Yakni dari Lemak. Maka dari itu pola makan ini akan menghasilkan nilai Kolesterol dan Asam Urat yang sangat tinggi. Selama ia tidak ketemu dengan Glukosa berlebih, maka kolesterol dan asam urat ini bukanlah masalah dan justru menjadi sumber energi. Liver akan memainkan peran kunci dalam pola makan ini karena pemecahan lemak terjadi disana. Pemecahan lemak di liver ini akan melahirkan satu jenis zat baru yang disebut dengan Ketone. Itulah sebabnya diet ini disebut dengan Ketogenik atau Ketosis yakni diet penghasil Ketone.

Ketone, rupanya menjadi alternatif energi baru dari tubuh selain Glukosa yang dapat diserap tubuh. Ketone, sebagaimana Glukosa, mampu diserap otak dan masuk ke dalam otak karena ia termasuk jenis molekul yang bisa menembus Blood Brain Barrier[2]. Bagi yang belum paham, Ketone sering dianggap sebagai penanda bahwa tubuh bermasalah (disebut dengan Keto-acidosis). Hal itu benar APABILA dibarengi dengan nilai Gula Darah yang tinggi. Saat urine diperiksa dan menemukan ada Ketone DAN Glukosa, maka jadilah Keto-acidosis (penyakit). Namun jika Ketone terdapat di urine tanpa adanya Gula Darah, maka Ketone inilah yang menjadi sumber energi baru alternatif selain Glukosa.

Pada diet Ketogenik, Liver menjadi ringan karena ia hanya menjalankan proses Katabolisme (besar menjadi kecil) yakni Lemak dipecah menjadi energi. Dan tidak terjadi proses Anabolisme (kecil menjadi besar) seperti pada mereka pemakan karbohidrat tinggi. Ingat, kelebihan Glukosa akan diubah oleh Liver menjadi Lemak melalui proses yang disebut dengan De Novo Lipogenesis[1]. Proses pengubahan ini merupakan jenis proses yang membebani Liver. Sudah proses pembuatan lemak bikin beban pada Liver, eh pembuangan lemak juga susahnya minta ampun. Gemukin gampang, kurusin yang susah πŸ˜€

Glukosa bila lebih dari 100mg/dL akan disimpan dalam bentuk Glikogen (cadangan glukosa) di Otot dan Liver. Tapi Glikogen tidak bisa banyak disimpan karena setiap 1 gram Glikogen akan mengikat 3 gram Air. Jadi kalau kita simpan misalnya 500g Glikogen yang senilai 2000 kalori untuk cadangan 1 hari saja, itu sudah akan mengikat 1.5 liter air ditubuh. Itu sebabnya tubuh tidak bisa menyimpan Glikogen banyak-banyak dan pasti akan mengkonversikannya menjadi Lemak untuk dikirim ke Jaringan Lemak (Adipose Tissue) di tubuh. Jadi, cara tubuh menyimpan energi paling efisien adalah membentuk Lemak sebagai molekul (substrate) penyimpan energi yg paling efisien.

Tubuh kita dapat memproduksi Ketone dari Lemak (Free Fatty Acid). Ketone itu terdiri dari TIGA basic molekul kimia yaitu: 1) Beta-Hydroxybutyrate, 2) Acetoacetate, dan 3) Acetone. Kenapa tubuh kita membuat Ketone? Otak manusia hanya bisa menggunakan 2 (dua) jenis bahan bakar, yaitu Glukosa atau Ketone. Karena tubuh kita tidak dapat menyimpan Glukosa lebih dari 24 jam, maka kita akan mati karena Hypoglycemia kalau kita harus berpuasa lebih dari 24 jam. Untungnya, Liver dapat mengubah cadangan lemak ditubuh kita untuk dijadikan Ketone, dimana Ketone dapat menggantikan posisi Glukosa, terutama di Otak. Jadi, kemampuan tubuh kita untuk memproduksi Ketone ini adalah kebutuhan dasar untuk bertahan hidup saat tidak ada makanan, sehingga otak kita tidak kehilangan energi dan mati.[0]

Tarik napas lagi ya… πŸ˜€

Maka, apabila kita menjumpai sebuah hasil laboratorium standar pada Gula Darah Puasa (GDP), Asam Urat, dan Kolesterol dimana GDP dibawah 80, Asam urat diatas 10, dan Kolesterol diatas 350 maka kita jangan langsung melakukan penghakiman bahwa tubuh orang ini berbahaya hanya karena melihat adanya nilai asam urat diatas 7 dan kolesterol diatas 200. Mungkin saja orang itu sedang menjalankan pola makan Ketogenik (LCHF, low-carb-high-fat) seperti yang saya jelaskan diatas. Ia tidak menggunakan Glukosa sebagai sumber energi tubuhnya melainkan Ketone.

Nah, sekarang bagian pentingnya.

Lalu apa hubungannya penjelasan diatas dengan latihan pengubahan cara bernapas? Ingat, saat proses Aerob tubuh menggunakan Glukosa yang diambil dari karbohidrat melalui proses oksidasi pada 3 jalur yakni Glikolisis, Siklus Krebs, dan Elektron Transport Chain. Sedangkan pada proses Anaerob, tubuh menggunakan jalur baru dimana Glikolisis diubah menjadi Fermentasi berbasis Asam Laktat pada Liver. Siklus yang terjadi pada proses Anaerob adalah Siklus Cori. Lalu darimana Glukosa dihasilkan pada saat Anaerobik ini? Yakni pada Siklus Cori dimana Asam Laktat akan ditransformasikan oleh Liver menjadi Glukosa dan Glukosa ini dikembalikan ke Otot untuk dipecah kembali melalui proses Glikolisis. Demikian seterusnya selama periode waktu tertentu (10 detik hingga bermenit-menit sesuai daya tahan dan adaptasi). Asam Laktat bertugas sebagai penyangga sementara untuk mengurangi keasaman otot.

Urutannya, Otot melalukan proses Glikolisis (glukosa menjadi asam piruvat). Asam Piruvat pada otot menjadi Asam Laktat. Kemudian Asam Laktat ini dikembalikan ke Liver. Liver memproses Asam Laktat ini menjadi Asam Piruvat lalu menjadi Glukosa. Glukoneogenesis terjadi disini. Lalu Glukosa ini diberikan kembali ke Otot untuk menjalani Glikolisis. Demikian seterusnya selama rentang waktu tertentu.

Terkadang, Glukosa mungkin tidak tersedia pada saat melakukan respirasi sel. Tanpa kehadiran Glukosa, respirasi sel akan terhenti dan kematian akan terjadi. Maka tubuh memerlukan penyimpanan cadangan yang dapat dijadikan sumber energi apabila Glukosa tidak mencukupi untuk itu atau ketika metabolisme berganti. Ketika Glukosa rendah, tubuh akan menggunakan karbohidrat seperti misalnya Glikogen yang tersimpan pada Liver dan Otot. Ketika karbohidrat juga terkuras, Lemak digunakan. Ketika Lemak juga mulai terkuras, Protein dipergunakan. Jadi, urutannya adalah Karbohidrat dulu baru kemudian Lemak dan terakhir Protein. Ketika Lemak dan Protein digunakan, tubuh akan mengkonversi menjadi Glukosa dan atau turunannya.

Jadi, teorinya adalah melakukan fase Aerob untuk memecah Glukosa (“Si Karbo”) saat itu hingga habis melalui Glikolisis berbasis Oksigen secara maksimal selama rentang waktu tertentu (tergantung kekuatan praktisi berada pada fase Aerob dan kemampuan otot tubuhnya). Jika misalnya pada fase Aerob ia berhasil menguras habis “Si Karbo” maka ia akan mengambil Lemak untuk dipecah menjadi energi. Ini seperti penjelasan saya pada proses Aerob diatas. Namun jika ia masih gagal menguras habis “Si Karbo”, maka ia harus mau masuk pada Fase Anaerob karena disinilah nanti terjadi pergeseran metabolisme. Ketika bergeser, maka ia menggunakan Liver untuk melakukan Glukoneogenesis (mirip seperti kondisi yang terjadi pada diet Ketogenik yang saya jelaskan diatas hanya dengan cara yang berbeda). Ketiadaan oksigen menyebabkan Lemak dipakai sebagai sumber energi dan Ketone dihasilkan disini. Tubuh “puasa” karbohidrat pada saat itu. Oleh karena Gula Darah turun akibat proses latihan Aerob melalui pergerakan tubuh dengan kontraksi otot[4], maka terbentuknya Ketone justru akan menjadi sumber energi baru yang dipergunakan pada saat itu saja (bukan setelahnya, sebab kalau setelahnya maka Ketone yang bertemu dengan Glukosa malah jadi keto-acidosis). Jadi, apabila ia mampu bertahan pada kondisi Anaerob selama 30 detik maka selama waktu itulah tubuhnya mempergunakan Ketone sebagai bahan bakar pengganti Glukosa.

Dan ternyata tubuh lebih suka menggunakan Ketone dibandingkan Glukosa pada sebab-sebab tertentu. Ketone, lebih mudah diserap tubuh dan memiliki manfaat sebagai penekan lapar. Tentu saja ada manfaat lain dari Ketone selain itu. Bedanya Glukosa dengan Ketone adalah Ketone tidak punya dampak pada gula darah atau level insulin bahkan Ketone dapat menurunkan kadar gula darah. Ketone dapat membantu penyembuhan penyakit Alzheimer karena ia dapat memperbaiki sel otak. Alzheimers sering dikenal sebagai “Diabetes Tipe 3″[5][6] dikarenakan terjadi resistensi insulin pada otak. Sama seperti Diabetes Tipe 2 namun terjadinya HANYA di otak. Resistensi insulin artinya sel tidak dapat memproses Glukosa dengan baik sehingga ia kekurangan Glukosa. Dengan mengganti ke Ketone maka otak jadi punya alternatif energi untuk dihidupi. Ketone juga akan mengatur ulang regulasi metabolisme Mitokondria pada sel tubuh khususnya pada kondisi Apostosis (kematian sel) dan disfungsi Mitokondria[7].

Pada metode ini, tubuh diadaptasikan dari Aerob ke Anaerob, dari Glukosa ke Ketone (istilah saya, Intermittent Ketone atau Jendela Ketone atau Ketone yang terbentuk pada saat itu saja). Kalau diibaratkan kendaraan, tubuh diadaptasikan dari sumber energi berbasis Bensin menjadi Listrik. Tentu saja sumber energi Listrik lebih sedikit emisi dibanding Bensin. Ketosis dapat dicapai melalui metode ini tanpa Diet Ketogenik fase Induksi dan tanpa mengalami HC (healing crisis). πŸ˜€

Umumnya, mencapai kondisi Ketosis fase Induksi membuat tubuh mengalami healing crisis (masalah kesehatan) yakni penyesuaian akibat tidak adanya asupan karbohidrat dan gula selama 1-2 Minggu atau lebih yang diganti dengan asupan lemak tinggi. Namun dengan metode ini HC tidak terjadi dan syarat awal Ketosis gula darah puasa dibawah 80 tercapai. Berikutnya, peserta bisa masuk pada Ketosis fase Konsolidasi jika ingin menjalani Diet Ketogenik atau beraktivitas dan makan normal tanpa Diet Ketogenik.

Hasil akhir, berat badan jadi turun… hanya dengan mengubah pola napas…

Glek! Minum dulu… πŸ˜€

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:
[0] Website Ketofastosis (www.ketofastosis.com)
[1] De novo lipogenesis in humans: metabolic and regulatory aspects. Hellerstein MK. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10365981
[2] Basic Neurochemistry: Molecular, Cellular and Medical Aspects. 6th edition. Bloodβ€”Brain Barrier. John Laterra, Richard Keep, Lorris A Betz, and Gary W Goldstein. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK28180/)
[3] KETONES SUPPRESS BRAIN GLUCOSE CONSUMPTION. Joseph C. LaManna, Nicolas Salem, Michelle Puchowicz, Bernadette Erokwu, Smruta Koppaka, Chris Flask, and Zhenghong Lee (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2874681/)
[4] Exercise and Type 2 Diabetes. The American College of Sports Medicine and the American Diabetes Association: joint position statement. Sheri R. Colberg, PHD, FACSM, Ronald J. Sigal, MD, MPH, FRCP(C), Bo Fernhall, PHD, FACSM, Judith G. Regensteiner, PHD, Bryan J. Blissmer, PHD, Richard R. Rubin, PHD, Lisa Chasan-Taber, SCD, FACSM, Ann L. Albright, PHD, RD, and Barry Braun, PHD, FACSM (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2992225/)
[5] Type 3 Diabetes Mellitus: A Novel Implication of Alzheimers Disease. Leszek J, Trypka E, Tarasov VV, Ashraf GM, Aliev G (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28049395)
[6] [Alzheimer’s disease and diabetes – the common pathogenesis]. Halmos T, Suba I. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27038867)
[7] KETONES INHIBIT MITOCHONDRIAL PRODUCTION OF REACTIVE OXYGEN SPECIES PRODUCTION FOLLOWING GLUTAMATE EXCITOTOXICITY BY INCREASING NADH OXIDATION. Marwan Maalouf, Patrick G. Sullivan, Laurie Davis, Do Young Kim, and Jong M. Rho. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1865572/)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →

9 Comments on “Turun Berat Badan”

  1. Pingback: buy cialis
  2. Pingback: viagra generic
  3. Pingback: viagra 50mg
  4. Pingback: ed pills online
  5. Pingback: ed pills online

Comments are closed.