Intermittent Hypoxia (Jendela Hipoksia)

INTERMITTENT HYPOXIA (JENDELA HYPOXIA)

Oleh: Mas Gunggung


Ada yang bertanya (lagi) kepada saya, bahwa dia dapat informasi dari temannya, mengenai apa tidak bahaya tubuh sering kekurangan oksigen seperti itu?

Baiklah, saya akan jawab lebih detail lagi sekarang… dan serius 🙂 Karena banyak sekali pertanyaan kepada saya mengenai hal ini. Seperti biasa, pemahaman dasarnya perlu dipahami yakni:

  • Normoxic atau Normoxia, merupakan kondisi dimana kadar oksigen 10-21%
  • Hypoxic atau Hypoxia, merupakan kondisi dimana kadar oksigen 1-5%

Pada bidang olahraga, salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan atlet adalah dengan mengirimkannya ke lereng gunung yang tinggi dengan kadar oksigen tipis. Setelah dilatih disana, kemudian atlet dikembalikan ke kondisi normalnya maka performa atlet menjadi meningkat berkali lipat. Akan tetapi cara ini cukup mahal karena harus berlibur ke lereng gunung yang tinggi, maka dicarilah cara yang mirip dengan itu dengan hasil yang tidak berbeda jauh. Akhirnya lahirlah metode berlatih dengan kadar oksigen rendah melalui teknik Hypoxic ini. Lebih tepatnya disebut dengan Intermitten Hypoxia atau Jendela Hypoxia. Jadi, sebenarnya teknik ini bukanlah teknik yang baru. Sudah sejak lama teknik ini dipakai bahkan oleh atlet-atlet olimpiade.

Selain dari sisi olahraga, ilmuwan kemudian meneliti efek dari sisi kesehatan dan kemungkinan menjadi penanganan kesehatan dari berbagai masalah kesehatan baik ringan maupun berat. Hasilnya sangatlah menjanjikan.

Selama ini kita selalu diberitahu bahwa Oksigen dalam olahraga sangat penting dan dari sanalah perbaikan kesehatan terjadi. Hal ini tidaklah salah. Tidak ada masalah dengan itu. Namun bagaimana dengan kekurangan Oksigen kok dibilang punya manfaat dari sisi kesehatan yang tidak kalah luar biasa, seakan kedua pendapat tersebut saling bertentangan satu sama lain? Bagaimana kemampuan menahan napas dapat melahirkan kemampuan super dan membalik berbagai masalah penyakit berat?

Metode saat ini untuk Intermittent Hypoxia selama 50 tahun terakhir ilmuwan pelajari dengan berbagai pendekatan dan metode yang disebut sebagai “Teapii Hypoxic” adalah sebagai berikut:

  1. Ruangan Hypobarik
  2. Naik cepat ke ketinggian tertrentu untuk jangka waktu yang singkat
  3. Ruangan yang berisi percampuran gas pada kondisi Normobaric dan Hypoxic. Menggunakan alat yang disebut “Hypoxicator” yang dapat melakukan pencampura gas yang berisi 10% oksigen. Alat ini sering disebut dengan “HGM-10”

Intermittent Hypoxia atau Jendela Hypoxia, didefinisikan sebagai kondisi Hypoxia yang berulang selama periode interval waktu tertentu dari bernapas normal. Jendela Hypoxia ini terdiri dari sejumlah interval dari beberapa menit Hypoxic bergantian dengan bernapas normal pada kondisi Normoxic. Prosedur ini diulang beberapa menit per sesi tiap hari dengan lama pelaksanaan tertentu.

Apa yang terjadi ketika Anda menahan napas beberapa menit sehari?

Pelajaran Biologi dasar yang pernah kita dapatkan di sekolah adalah ketika kita menarik napas maka kita menghirup Oksigen dan ketika kita membuang napas maka kita membuang Karbondioksida. Karbondioksida merupakan hasil produk dari proses pernapasan. Oksigen sangat penting bagi semua sel yang hidup. Meski demikian, Oksigen juga dapat menghasilkan apa yang disebut dengan Radikal Bebas yakni sesuatu yang menyebabkan terjadinya penuaan dan masalah degeneratif. Inilah mengapa antioksidan dalam diet menjadi sangat penting yakni untuk mencegah terjadinya penuaan dan masalah degeneratif. Maka, Oksigen pada darah akan selalu diatur dan diseimbangkan oleh sebuah sistem yang kompleks yang mengatur dan memonitor penggunaannya.

Berdasarkan informasi dari Rusia, Dr. Buteyko, kebanyakan mereka yang sedang mengalami stres dan sakit akan bernapas secara berlebih yakni mengeluarkan Karbondioksida lebih banyak dan menarik Oksigen lebih banyak. Ketika Anda menahan napas, maka Anda sedang mengumpulkan Karbondioksida dan menguras Oksigen pada aliran darah. Semakin lama Anda menahan napas maka akan semakin terkuras Oksigen dan mulailah Anda masuk pada kondisi Hypoxic yang menunjukkan kadar Oksigen menjadi sangat rendah dalam darah. Jika hal ini berlangsung sangat lama tanpa henti maka Anda akan kekurangan Oksigen dan menderita kematian. Akan tetapi jika Anda melakukan itu dalam rentang waktu tertentu saja maka hal ini disebut dengan Intermittent Hypoxia atau Jendela Hypoxia seperti yang saya definisikan diatas.

Kondisi Intermittent Hypoxia, melalui berbagai studi dan penelitian, terbukti dalam mengobati banyak sekali masalah kesehatan. Jadi, agar dibedakan kondisi kekurangan Oksigen terus menerus tiada henti dengan kondisi pada Jendela Hypoxia.

Apa yang terjadi ketika Intermittent Hypoxia?

Semua efek dari Hypoxia dihasilkan melalui sesuatu yang disebut dengan “Hypoxia-Inducible-Factor-1” atau HIF1. Efek ini secara khusus akan membantu Anda untuk bertahan pada lingkungan minim Oksigen. Pada kondisi Hypoxia melalui penahanan napas, ia akan memunculkan respon stres dalam bentuk pertahanan diri terhadap perubahan yang terjadi di dalamnya. Ketika dilakukan dengan baik maka ia akan menghasilkan:

  1. Peningkatan sel darah merah melalui produksi Erythropoietin (EPO). EPO adalah suatu hormon yang dihasilkan oleh ginjal yang memajukan pembentukan dari sel-sel darah merah oleh sumsum tulang (bone marrow). Sel-sel ginjal yang membuat erythropoietin adalah khusus sehingga mereka peka pada tingkat-tingkat oksigen yang rendah didalam darah yang mengalir melalui ginjal. Sel-sel ini membuat dan melepaskan erythropoietin ketika tingkat oksigen terlalu rendah. Erythropoietin menstimulasi (merangsang) sumsum tulang untuk menghasilkan lebih banyak sel-sel darah merah. Kenaikan yang berakibat darinya dalam sel-sel merah meningkatkan kapasitas darah mengangkut oksigen. Ini akan bisa jadi solusi bagi penyakit dengan Hemoglobin rendah.
  2. Meningkatkan faktor pertumbuhan sel yang akan membantu dalam pengembangan pembuluh darah yang baru. Hal ini terjadi meskipun jantung peserta menderita masalah jantung seperti penyempitan pembuluh jantung sehingga dapat mengurangi dan menghilangkan kondisi gagal jantung.
  3. Induksi Nitric Oxide Synthase (NOS) yang mempunyai manfaat positif pada jaringan sel. NOS akan membantu melindungi sel dari stres yang bersifat oksidatif (radikal bebas) sekaligus sebagai perangsang vasodilasi (pelebaran diameter pembuluh koronari jantung dan pembuluh otak).
  4. Melakukan induksi protein Tumoer p53 yang sering dikenal sebagai ‘penjaga Gen’ yang melindungi DNA dari sel dan mencegah sel untuk berubah menjadi sel kanker.
  5. Stem sel hanya dapat bertahan pada kondisi Hypoxia. Stem sel melimpah pada saat janin dalam kandungan dimana kondisi Oksigen sangat rendah. Kemudian ia akan menghilang dari sirkulasi segera setelah kelahiran janin. Stem sel kemudian bertahan pada beberapa lokasi yang disebut dengan “Niches” pada tubuh seperti pada sumsum tulang orang dewasa. Jumlah stem sel akan berkurang seiring usia. Stem sel dapat bermigrasi dari sumsum tulang ke banyak jaringan tubuh dimana mereka akan merangsang perbaikan dan pertumbuhan sel hanya dalam beberapa menit Hypoxia dalam sehari (jendela Hypoxia). Kondisi ini akan dapat membantu dalam menangani berbagai masalah degeneratif termasuk Parkinson dan Alzheimers.
  6. Pada penelitian terhadap hewan, kondisi Hypoxic dalam merangsang pertumbuhan syaraf baru (neurogenesis) pada otak dengan cara mengaktifkan stem sel penghasil sel syaraf sehingga dapat meningkatkan fungsi kognitif dan berfungsi sebagai anti-depresan.

See… manfaat kondisi Hypoxia ini sangat luar biasa besar.

Sekarang mari kita lihat kaitan antara Hypoxia dan Stem sel secara lebih detail.

Stem sel saat ini berada pada garis depan penelitian medis. Stem sel merupakan sel yang memiliki kemampuan untuk dapat menjadi sel apapun dan menumbuh menjadi organ apapun. Ini berarti stem sel merupakan solusi bagi berbagai masalah degeneratif dan penuaan. Stem sel berada konsentrasi tertinggi pada fase embrionik atau janin. Rahim ibu pada hakekatnya bersifat sangat Hypoxic dengan konsentrasi oksigen yang sama dengan di puncak gunung Everest. Lingkungan Hypoxic ini sangat penting bagi tumbuh kembang stem sel. Setelah kelahiran, ketika bayi mulai mendapat lebih banyak Oksigen, stem sel mulai menghilang dari sirkulasi. Pada orang dewasa, stem sel berada hanya pada area tertentu yang masih bersifat Hypoxic yang disebut dengan “Niches”. Salah satu lokasi tersebut adalah sumsum tulang Anda.

Pada sebuah penelitian, ditunjukkan bahwa sejumlah Mesenchymal Stem Cells (MSC) pada hewan tikus pada darah meningkat hingga 15x pada kondisi Hypoxia. Stem sel mempertahankan sifat pembaharuan dirinya saat dikultur medium dengan lingkungan Hypoxic dengan Oksigen 2% dibandingkan pada kondisi udara normal. Stem sel pada sumsum tulang dan MSC memiliki jumlah Mitokondria yang sangat sedikit dan lebih mudah beradaptasi pada lingkungan anaerobik dibandingkan lingkungan yang kaya dengan Oksigen.

Salah satu penyebab dari masalah degeneratif adalah apa yang disebut dengan Oksidatif Stres atau kita sering sebut dengan istilah Radikal Bebas. Oksidatif Stres atau Radikal Bebas terjadi karena stem sel yang berada pada lokasi “Niches” terpapar oleh Oksigen pada darah. Maka dengan mengkondisikan berada pada kondisi Hypoxic, stem sel akan bisa diaktifkan dan melakukan pembaharuan dirinya pada jaringan-jaringan yang rusak.

Ketika seseorang menahan napas dalam waktu yang cukup lama, maka terjadilah perubahan prosentase Oksigen dan Karbondioksida pada darah. Makin lama, Oksigen makin menipis dan Karbondioksida makin melimpah hingga membanjiri darah. Menjadi pertanyaan, apakah Karbondioksida ini tidak beracun? Sebab banyak juga yang menanyakan kok membiarkan Karbondioksida pada tubuh dalam jangka waktu yang lama? Apa tidak bahaya itu?

Dalam jumlah normal, Karbondioksida sama sekali tidak beracun. Ia tersebar dari sel ke dalam aliran darah dan dari sana kemudian menuju paru-paru untuk dikeluarkan melalui hembusan napas. Karbondioksida akan selalu ada dalam tubuh kita selama masih ada proses bernapas. Anda harus menghirup Karbondioksida dalam jangka waktu yang lama dan hanya itu saja jika ingin menyebabkan masalah pada tubuh. Dan durasi ini harus jauh lebih lama dibandingkan yang Anda lakukan pada Jendela Hypoxia. Jadi, jangan khawatir.

Penyakit apa yang bisa diperbaiki dengan Intermittent Hypoxia (Jendela Hypoxia) ini?

  1. Diabetes Tipe 2, stem sel dalam kondisi Hypoxic akan menjadi sel yang dapat memproduksi insulin.
  2. Jantung Koroner, kondisi Hypoxia akan menyebabkan tubuh melakukan “natural bypass” pada pembuluh koroner jantung. Kondisi itu akan merangsang terbentuknya ‘jalur baru’ dan sekaligus melebarkan pembuluh koronari karena Karbondioksida. Asma dan Sleep Apnea (pernapasan terhenti mendadak saat tidur) dapat diperbaki pada kondisi Hypoxic.
  3. Osteoarthritis, seiring bertambahnya usia kita dan terjadinya aus pada sendi menyebabkan kerusakan sel dan jika tingkat perbaikan sel Anda lebih rendah daripada tingkat kerusakan, Anda mendapatkan penyakit yang dikenal sebagai osteoarthritis. Ilmuwan mencoba memanfaatkan stem sel, memperbanyaknya pada suatu kultur medium dan kemudian menempatkannya pada lokasi yang mengalami osteoarthritis. Kondisi Hypoxic telah terbukti meningkatkan Hypoxia-Inducible Transcription-Factor atau HIF-2a dimana HIF-2a akan merangsang pertumbuhan stem sel pada pasien osteoarthritis.
  4. Parkinson dan Alzheimer, penyakit ini muncul akibat dari kekurangan hormon Dopamine yang diproduksi oleh otak dari lokasi yang disebut dengan Substantia Nigra (daerah Hitam). Gejalanya adalah tremor, keseimbangan sangat buruk, kehilangan kemampuan berjalan, kemampuan menata postur, dan mood yang sering buruk. Demikian juga dengan Alzheimer, yang sering disebut dengan Diabetes Type 3 karena hanya menyerang wilayah otak saja. Otak pada penderita Alzheimer kekurangan glukosa sehingga kekurangan sumber energi. Makin lama sel otak akan mati karena kurang energi. Kondisi Hypoxic akan mampu memberikan sumber alternatif energi berupa Ketone atau Lactate dan sekaligus merangsang Neurogenesis (pembuatan sel syaraf baru).
  5. Autoimun, masalah kesehatan autoimun seperti Ulcerative Colitis, Crohns, Asma, dan artritis meningkatkan peradangan pada area yang terkena penyakit ini. Hormon Cytokine memainkan peran utama dalam peningkatan peradangan. Kondisi Hypoxia dapat menimbulkan efek anti-inflamasi dengan cara menghalangi keluarnya hormon Cytokine secara beruntun.
  6. Masalah pada fungsi Kognitif dan Memori, pada zaman sekarang dimana sumber makanan dan vitamin semakin tidak jelas lagi sumbernya masalah-masalah otak pada fungsi kognitif dan memori mulai banyak menjangkiti masyarakat. Kondisi Hypoxic akan menyebabkan otak membentuk Neurogenesis (pembuatan sel otak baru) untuk tumbuh dan berkembang. Otomatis ketika ini terjadi, maka terjadi peningkatan kemampuan kognitif dan memori pada otak. Masalah-masalah yang terjadi di otak akan dapat diperbaiki pada kondisi Hypoxic ini.

Dan masih banyak lagi penyakit yang dapat diperbaiki melalui kondisi Hypoxic ini. Kapan waktu saya tulis lebih lengkap.

Jadi, dengan pemahaman diatas saya tidak ragu dan khawatir pada metode yang saya kembangkan ini. Dan inilah yang juga saya informasikan kepada peserta Kebugaran lansia saya sehingga dalam waktu 3 tahun mengalami perbaikan kesehatan yang luar biasa cepat dan prima dibandingkan rekan-rekan seusianya yang sudah mulai lemah. Sel-sel tubuh terbarukan. Stem sel jadi aktif tanpa perlu ikut terapi stem sel atau membeli obat ‘stem sel’ atau operasi stem sel yang biayanya milyaran. Dengan menyusun teknik dan metode latihan yang terstruktur, bertahap, olah napas MP dapat difungsikan secara maksimal dalam menunjang perbaikan berbagai masalah kesehatan. Inilah tujuan Kebugaran sesungguhnya dalam pandangan saya. Kebugaran MP di zaman sekarang dimana dunia medis dan kedokteran menjadi sedemikian modern dan maju baik pada teori, penelitian, alat-alat, maupun hasilnya, harus dapat disesuaikan dan peka zaman. Maka, saya merasa perlu untuk melakukan “reprogramming” metode Kebugaran MP lama yang berbasis gerakan menjadi berbasis ilmu pengetahuan sesuai semangat “ilmu MP itu ilmiah”. Pendalamannya disitu nantinya. Gerakan ini dan gerakan itu nantinya akan bisa dikombinasikan lebih lanjut sebagai akselerator dari sisi Sistem Otot, Rangka, dan Kelenjar. Ini nanti menjadi pembahasan tersendiri yang sudah saya riset.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:
1. Langston CE, Reine NJ, Kittrell D. The use of erythropoietin. Vet Clin North Am Small Anim Pract. 2003;33:1245–60. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14664197)
2. Freedman SB, Isner JM. Therapeutic angiogenesis for ischemic cardiovascular disease. J Mol Cell Cardiol. 2001;33:379–93. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11181008)
3. Yin ZS, Zhang H, Gao W. Erythropoietin promotes functional recovery and enhances nerve regeneration after peripheral nerve injury in rats. Am J Neuroradiol. 2010;31:509–15. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20037135)
4. Lipton SA. Erythropoietin for neurologic protection and diabetic neuropathy. N Engl J Med. 2004;350:2516–7. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15190146)
5. Stem cell basics, Stem cell information. The National Institute of Health resource for stem cell research.[Accessed on April 16, 2010]. Available from: http://stemcells.nih.gov/info/basics/basics6.asp.
6. Strelkov RB. Application of interrupted normobaric hypoxia stimulation on healthy people. Fiziol Zh. 2003;49:45–9. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12945113)
7. Strelkov RB. The prospects for the use of a method of intermittent normobaric hypoxic stimulation (hypoxitherapy) in medical practice. Vopr Kurortol Fizioter Lech Fiz Kult. 1997;6:37–40. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9484032)
8. Déry MA, Michaud MD, Richard DE. Hypoxia-inducible factor 1: Regulation by hypoxic and non-hypoxic activators. Int J Biochem Cell Biol. 2005;37:535–40. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15618010)
9. Burnett A. Nitric Oxide in the Penis: Physiology and Pathology. J Urol. 1997;157:320–4. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8976289)
10. Burnett AL. The role of nitric oxide in erectile dysfunction: Implications for medical therapy. J Clin Hypertens (Greenwich) 2006;8(12 Suppl 4):53–62. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17170606)
11. An WG, Kanekal M, Simon MC. Stabilization of wild-type p53 by hypoxia-inducible factor 1 alpha. Nature. 1998;392:405–8. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9537326)
12. Cipolleschi MG, Dello Sbarba P, Olivotto M. The role of hypoxia in the maintenance of hematopoietic stem cells. Blood. 1993;82:2031–7. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8104535)
13. Rochefort GY, Delorme B, Lopez A, Hérault O, Bonnet P, Charbord P, et al. Multipotential mesenchymal stem cells are mobilized into peripheral blood by hypoxia. Stem Cells. 2006;24:2202–8. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16778152)
14. Rodrigues CA, Diogo MM, da Silva CL, Cabral JM. Hypoxia enhances proliferation of mouse embryonic stem cell-derived neural stem cells. Biotechnol Bioeng. 2010;106:260–70. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20014442)
15. Gupta DK, Sharma S. Stem cell therapy – Hope and scope in pediatric surgery. J Indian Assoc Pediatr Surg. 2005;10:138–41.
16. Sordi V, Piemonti L. The contribution of hematopoietic stem cells to beta-cell replacement. Curr Diab Rep. 2009;9:119–24. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19323956)
17. Koerselman J, van der Graaf Y, de Jaegere PP, Grobbee DE. Coronary collaterals: An important and underexposed aspect of coronary artery disease. Circulation. 2003;107:2507–11. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12756191)
18. Steiner S. Occurrence of coronary collateral vessels in patients with sleep apnea and total coronary occlusion. Chest. 2010;137:516–20. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19858231)
19. Murphy JM, Fink DJ, Hunziker EB, Barry FP. Stem cell therapy in a caprine model of osteoarthritis. Arthritis Rheum. 2003;48:3464–74. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14673997)
20. Khan WS, Tew SR, Adesida AB, Hardingham TE. Human infrapatellar fat pad-derived stem cells express the pericyte marker 3G5 and show enhanced chondrogenesis after expansion in fibroblast growth factor-2. Arthritis Res Ther. 2008;10:R74. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2206341/) , (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17537234)
21. Khan WS, Adesida AB, Hardingham TE. Hypoxic conditions increase hypoxia-inducible transcription factor 2 alpha and enhance chondrogenesis in stem cells from the infrapatellar fat pad of osteoarthritis patients. Arthritis Res Ther. 2007;9:R55. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2206341/), (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17537234)
22. Panchision DM. Repairing the Nervous System with Stem Cells. Stem Cell Information, The National Institutes of Health resource for stem cell research.[Last accessed on 2010 Apr 16]. Available from:http://stemcells.nih.gov/info/2006report/2006Chapter3.htm.
23. Jaslok Hospital and Research Centre. [Last accessed on 2010 Apr 16]. Available from:http://www.clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT00976430?term=parkinson%27s+stem+cellsandrank=1.
24. Kurtz A, Eckardt KU. Erythropoietin production in chronic renal disease before and after transplantation. Contrib Nephrol. 1990;87:15–25. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2093537)
25. Chandra M, Clemons GK, Mc Vicar MI. Relation of serum erythropoietin levels to renal excretory function: Evidence for lowered set point for erythropoietin production in chronic renal failure. J Pediatr. 1988;113:1015–21. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/3193306)
26. Burnett AL. The role of nitric oxide in erectile dysfunction: Implications for medical therapy. J Clin Hypertens (Greenwich) 2006;8(12 Suppl 4):53–62. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17170606)
27. Parkes MJ. Breath-holding and its breakpoint. Exp Physiol. 2006;91:1–15. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16272264)
28. Malshe PC. ‘Yoga Book for Doctors’.Haridwar, India: Antar Prakash Centre for Yoga; 2005. ISBN 81-903298-1-2.
29. Digambaraji S, Kokaje RS, editors. Hathapradipika of Swatmarama.Lonavala, Dist. Pune, India: S.M.Y.M.Samiti; 1970. ISBN:81-89485-12-1.

  1. Oxidative Stress and Neurodegenerative Diseases: A Review of Upstream and Downstream Antioxidant Therapeutic Options. Bayani Uttara, Ajay V. Singh, Paolo Zamboni, and R.T Mahajan,
    31. Intermittent hypoxia training protects cerebrovascular function in Alzheimer’s disease. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4950272/)
    32. P Malshe Nisshesha rechaka pranayama offers benefits through brief intermittent hypoxia. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3361916/#ref18)
    33.Cao G1, Shukitt-Hale B, Bickford PC, Joseph JA, McEwen J, Prior RL. Hyperoxia-induced changes in antioxidant capacity and the effect of dietary antioxidants. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10368343)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →