HRV, Koherensi, dan Relaksasi

HRV, KOHERENSI, RELAKSASI

Oleh: Mas Gunggung


Kemarin, salah seorang peserta program One Day One Breath bertanya kenapa kita harus memiliki BPM rendah? Jawaban mengenai mengapa BPM rendah dari sisi jumlah detik per menit sudah saya sampaikan pada tulisan saya sebelumnya dengan judul “DETAK JANTUNG, KEBUGARAN, DAN USIA PANJANG”. Bahwa hanya selisih 30 BPM saja bisa terjadi selisih perbedaan 11 tahun usia. Silahkan dibaca tulisan saya terrsebut untuk lebih detailnya.

Kali ini saya angkat mengangkat kondisi tingkat Stres peserta One Day One Breath seperti yang ditunjukkan pada foto. Bahwa setelah latihan, level stres tubuh menjadi sangat rendah dan selalu berada dibawah ambang batas. Ini artinya, tubuh peserta program ini lebih sedikit stres. Dan lebih sedikit stres itu artinya … lebih sehat. Peserta mengukur tingkat stres ini menggunakan piranti Samsung S7 Edge yang didalamnya sudah ditanamkan software dan aplikasi pencatat dan penganalisa HRV (heart rate variability). Sederhananya, HRV akan menunjukkan kemampuan koherensi antara Jantung dan Otak.

Ya, latihan dengan Kebugaran MP metode Pergeseran Asam-Basa Darah ini dapat meningkatkan koherensi antara Jantung dan Otak. Mari saya bantu jelaskan apa itu HRV dan koherensi dan apa bedanya dengan relaksasi.

Umumnya kita belajar bahwa jantung senantiasa merespons “perintah” yang dikirim oleh otak dalam bentuk sinyal saraf. Namun, yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa jantung sebenarnya mengirimkan lebih banyak sinyal ke otak daripada yang dikirim otak ke jantung!

Selain itu, sinyal jantung ini memiliki efek signifikan pada fungsi otak yang mempengaruhi pemrosesan emosional serta kemampuan kognitif yang lebih tinggi seperti kemampuan memperhatikan, kemampuan membentuk persepsi, kemampuan memori, dan kemampuan dalam pemecahan masalah. Dengan kata lain, tidak hanya jantung merespon perintah otak, namun otak secara terus menerus juga merespon perintah jantung. Efek dari aktivitas jantung terhadap fungsi otak telah diteliti selama lebih dari 40 tahun. Penelitian sebelumnya terhadap hubungan antara aktivitas jantung dan otak hanya memfokuskan pada skala waktu yang pendek, sedangkan penelitian terbaru telah dapat memfokuskan pada aktivitas jantung dalam skala waktu yang lebih panjang mengenai bagaimana aktivitas jantung berpengaruh pada fungsi otak. Penelitian terbaru tersebut yang dilakukan oleh Institute of HeartMath menunjukkan bahwa pola yang berbeda pada aktivitas jantung akan menghasilkan efek yang berbeda secara fungsi kognitif dan emosi pada otak. Pada saat stress dan emosi negatif muncul yang membentuk pola irama jantung tidak menentu dan tidak teratur, pola sinyal syaraf yang berjalan dari jantung ke otak rupanya menghambat fungsi kognitif yang akhirnya membatasi kemampuan berpikir secara jelas, kemampuan mengingat, kemampuan belajar, dan kemampuan mengambil keputusan secara efektif. Dalam bahasa Jawa sering disebut dengan istilah ‘mutungan, bludrekan, sewotan’. Hal ini bisa menjelaskan kenapa dalam kondisi stres kita mendadak menjadi tidak bijak dan melakukan sesuatu tanpa pikir panjang. Jika hal itu terjadi dalam jangka panjang, maka sesungguhnya fungsi otak kita sudah menurun.

Sebagai contoh, membaca tulisan orang lain yang tidak sepaham saja bisa begitu emosi dan benci. Melihat foto orang lain yang sukses, bisa mendadak ‘darah tinggi’. Mendengar ucapan orang lain bisa tiba-tiba muncul marah padahal ucapan itu tidak memiliki maksud apa-apa. Dan sejenis itu.

Masukan dari jantung ke otak saat kondisi stres atau kondisi emosi negatif memiliki efek mendalam pada fungsi emosional otak. Otak sesungguhnya bisa diajari untuk mendapatkan pengalaman stres. Jika ini dilatih, maka tubuh mampu belajar untuk mengelola stres secara lebih baik pada level sel. Sebaliknya, masukan dari jantung ke otak yang lebih teratur dan stabil ke otak selama keadaan emosional positif akan menghasilkan efek sebaliknya yakni membuka dan meningkatkan fungsi kognitif dan tentu saja menguatkan stabilitas emosi. Hasilnya, tidak terjadi kondisi ‘mutungan, bludrekan, atau sewotan’.

Ini berarti bahwa belajar menghasilkan peningkatan koherensi irama jantung dengan cara mempertahankan emosi positif tidak hanya bermanfaat bagi seluruh tubuh, tapi juga sangat mempengaruhi bagaimana kita memandang, berpikir, merasakan, dan melakukan apapun aktivitas sehari-sehari.

Jantung dapat mengubah ritmenya setiap saat. Perubahan ini seringkali terjadi pada kondisi dimana level stres yang diterima oleh tubuh makin meningkat sehingga interval waktu dari detak jantung satu ke detak jantung lain berubah-ubah. Nah, variasi perubahan dari detak jantung satu ke detak jantung berikutnya inilah yang disebut dengan Heart Rate Variability (HRV).

Untuk dapat mudah dipahami, HRV adalah ukuran dari perubahan dari satu detak jantung ke detak jantung berikutnya yang dalam satu menit akan membentuk angka BPM. BPM singkatan dari Beats Per Minute atau jumlah detak jantung per menit.

Variasi dari detak jantung ini terjadi akibat dari aksi sinergi antara dua cabang Sistem Syaraf Otonom. Sistem Syaraf Otonom adalah bagian sistem syaraf yang mengatur 95% fungsi internal tubuh. Dua cabang yang dimaksud adalah Syaraf Simpatik dan Syaraf Parasimpatik. Syaraf Simpatik bertugas untuk mempercepat denyut jantung, sementara Syaraf Parasimpatik (vagus) memperlambatnya. Kedua cabang syaraf ini saling bekerja satu sama lain untuk menjaga aktivitas kardiovaskular dalam rentang optimal dan untuk memungkinkan reaksi yang tepat dalam mensikapi kondisi internal dan eksternal.

Nah, analisa HRV ini dapat dipandang sebagai “jendela” untuk melihat sejauh mana kedua sistem itu bekerja secara baik.

Saat seseorang mengukur BPM, maka ia mengabaikan perubahan dari detak jantung satu ke detak jantung lain. Variasinya diabaikan dan hanya diambil hanya nilai total dari jumlah detak jantung selama satu menit. Jika ingin lebih detail dalam mengukur HRV maka harus melibatkan alat khusus seperti misalnya EKG atau pelengkap aksesoris smartphone misalnya Samsung Gear, Motorola 360, dan sejenis itu. Alat itu sudah ditanamkan software pencatat HRV dan kemampuan menangkap detak jantung tiap detiknya lalu menyimpan sebagai sebuah database HRV.

Jika tidak menggunakan alat khusus maka pergerakan dari BPM ke BPM juga sudah bisa menunjukkan bagaimana hubungan antara jantung dan otak kita khususnya keseimbangan pada Sistem Syaraf Otonom. Mereka yang BPM dari hari ke hari mengalami fluktuatif kenaikan hingga diatas 90 BPM mesti waspada dan hati-hati. Jika tidak segera diperbaiki maka akan berakibat pada kerusakan Sistem Syaraf Otonom. Istilahnya pada pendekatan berbasis BPM harian non alat kita bisa mengukur sejauh mana “HRV” harian kita.

Mengapa HRV itu penting?

Perlu diketahui bahwa para ilmuwan dan dokter menganggap bahwa HRV merupakan indikator penting pada kesehatan dan kebugaran. Sebagai sebuah penanda pada ketahanan fisiologis tubuh dan fleksibilitas perilaku, HRV mencerminkan kemampuan seseorang beradaptasi secara efektif terhadap kondisi stres yang berasal dari internal (tubuhnya sendiri) dan eksternal (lingkungan). HRV juga merupakan penanda penuaan pada sisi biologis. HRV seseorang berada pada kondisi sangat baik pada saat muda, dan seiring usia bertambah HRV berubah dan menurun. HRV yang baik umumnya memiliki jarak detik ke detik relatif stabil. Seiring usia, HRV menjadi semakin tidak beraturan. Meskipun penurunan ini terjadi secara alamiah, namun memiliki kecenderungan HRV yang tidak beraturan pada usia tertentu dapat menandakan adanya peningkatan resiko kesehatan yang lebih besar bahkan penyebab kematian dini. Sebab HRV yang tidak beraturan pastilah menyebabkan BPM menjadi tinggi.

HRV yang tidak beraturan umumnya terjadi pada mereka yang sedang mengalami masalah kesehatan. Maka salah satu tujuan darri pengobatan adalah meningkatkan HRV sehingga menjadi normal kembali dan optimal. Dengan demikian Sistem Syaraf Otonom menjadi seimbang dan berfungsi dengan baik.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi fungsi Sistem Syaraf Otonom, yang berarti mempengaruhi HRV. Beberapa diantaranya adalah pola bernapas, latihan fisik, dan bahkan pola pikir. Salah satu riset penting dari Institute of HearthMath menunjukkan bahwa faktor paling utama yang mempengaruhi perubahan HRV ini adalah perasaan dan emosi. Perasaan dan Emosi berpengaruh secara langsung pada perubahan HRV. Hal ini disebabkan karena munculnya aspek hormonal seperti misalnya Kortisol dan Adrenalin. Jika seseorang tidak mampu melakukan manajemen perasaan dan emosi itu artinya ia tidak mampu melakukan manajemen hormonal pada dirinya. HRV yang terjadi pada kondisi ini sering disebut dengan istilah ‘Tidak Koheren’ yakni suatu kondisi yang tidak beraturan, kacau, antara sinyal jantung dan sinyal otak. Secara fisiologi, pola yang tidak beraturan ini mengindikasikan sinyal yang diproduksi oleh dua cabang dari Sistem Syaraf Otonom menjadi tidak sinkron satu sama lain. Ketidaksinkronan ini menyebabkan tubuh beroperasi dengan sangat buruk dan tentu saja segala penyakit mudah datang.

Tarik napas dulu ya… πŸ™‚

Koherensi tidak sama dengan Relaksasi. Koherensi (antara jantung dan otak) secara psikologis dan fisiologis berbeda dibandingkan Relaksasi. Paa level fisiologis, relaksasi menunjukkan karakteristik dimana keseluruhan fungsi Sistem Syaraf Otonom menjadi berkurang (HRV akan lebih rendah) dan salah satu cabangnya bergeser hanya pada peningkatan Syaraf Parasimpatik. Ingat, Sistem Syaraf Otonom memiliki 2 cabang yakni Syaraf Simpatik dan Parasimpatik. Syaraf Simpatik akan mempercepat detak jantung, sementara Syaraf Parasimpatik akan melambatkan detak jantung. Jadi, relaksasi dapat dipandang sebagai suatu kondisi yang hanya menyebabkan pelambatan detak jantung namun tidak ada hubungan dengan ritme otak.

Sementara Koherensi dapat dipandang sebagai Relaksasi PLUS adanya hubungan ritme jantung dengan ritme otak.

Bisakah dilihat perbedannya? πŸ™‚

Jadi, metode Kebugaran MP dengan Pergeseran Asam-Basa Darah ini, akan mengajarkan
sinkronisasi 2 jenis otak yakni Otak Jantung dan Otak Kepala dari 3 otak yang ada pada tubuh manusia (Otak Kepala, Otak Jantung, dan Otak Perut). Bahasa Jawa dari istilah ‘Sinkronisasi’ ini adalah NYAWIJI, belajar melakukan Nyawiji dari sisi Jantung dan Otak. Sementara pada Kanuragan, sinkronisasi harus melibatkan ketiga otak agar menghasilkan daya yang maksimal. Maka saya sering bilang kalau metode ini akan dapat menjadi pijakan dan perbaikan pada metode reguler. Kenapa? Sebab kalau ingin masuk ke Kanuragan hanya butuh melakukan sinkronisasi pada 1 jenis otak lagi yakni Otak Perut.

Nah, sekarang jelas toh? Bahwa Kebugaran MP metode Pergeseran Asam-Basa Darah ini bukan dibangun asal-asalan atau dengan teori yang tidak jelas. πŸ™‚ Metode ini solid dari sisi teori dan aplikasi. Metode ini juga memiliki “benang pengaman” pada peserta yang berlatih seperti misalnya kualitas manajemen stres bisa diukur, nilai BPM harus kurang dari 80, pH darah mesti cenderung basa (bisa diukur, baik pada cairan ataupun darah bergantung mau ke laboratorium atau tidak), gula darah mesti dibawah 120 pada GDS (gula darah sewaktu) atau dibawah 100 pada GDP (gula darah puasa), nilai asam urat dibawah 7, dan seterusnya. “Benang pengaman” inilah yang membuat metode ini menjadi realistis yang mungkin belum ada pada metode reguler. Menentukan parameter-parameter yang bisa diukur dan bisa diuji akan membuat metode ini bisa masuk pada sisi medis dan jauh dari kesan klenik. Ilmiah? Tentu saja.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →