Fixed Mindset dan Growth Mindset

FIXED MINDSET ATAU GROWTH MINDSET (ILMU IKU KELAKONE KANTHI LAKU)

Oleh: Mas Gunggung


Mindset, yang dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan istilah ‘pola pikir’, merupakan sesuatu yang disadari atau tidak dimiliki oleh kita semua dan sedang berjalan pada saat ini. Namun berapa banyak dari kita yang sedikit sekali memahami itu. Baiklah, agar lebih memahami apa itu mindset maka saya uraikan melalui tulisan berikut ini. Saya akan mengambil referensi dari penelitian yang dilakukan oleh Carol Dweck (Professor of Psychology) dan timnya serta tulisan dar Jo Boaler (Professor of Mathematic Education). Keduanya dari Standford University.

Setiap dari kita memiliki pola pikir/mindset. Ada banyak sekali penelitian mengenai apa dan bagaimana mindset bekerja pada diri manusia.

Profesor Carol Dweck dan timnya telah melakukan banyak penelitian dan menunjukkan bahwa semua dari kita memiliki mindset/pola pikir. Apa itu pola pikir? Yakni sebuah keyakinan inti mengenai bagaimana kita belajar (Dweck, 2006). Ada dua jenis mindset menurut beliau, yakni Growth Mindset dan Fixed Mindset. Orang-orang dengan Growth Mindset adalah mereka yang percaya bahwa kecerdasan meningkat bersama dengan kerja keras, sementara orang-orang dengan Fixed Mindset percaya bahwa Anda dapat belajar banyak hal namun Anda tidak dapat mengubah kecerdasan dasar. Pemahaman terhadap mindset sangat penting karena ia akan mengarah pada kebiasaan belajar yang berbeda yang pada akhirnya akan mengubah hasil akhir. Ketika seseorang mengubah mindset mereka dan mulai percaya bahwa ia akan dapat belajar hingga level yang lebih tinggi, maka ia mengubah jalur pembelajaran pada dirinya sendiri untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi (Blackwell, Trzesniewski, & Dweck, 2007).

Mereka yang memiliki Fixed Mindset umumnya lebih mudah menyerah, sementara mereka yang memiliki Growth Mindset adalah orang-orang yang lebih tahan uji dan akan terus seperti itu meskipun semakin lama ujiannya akan semakin berat. Ia memposisikan dirinya untuk selalu bertahan dalam setiap ujian dan mau menghadapi ujian itu terus menerus melalui kerja keras (ikhtiar maksimal).

Pada salah satu penelitian yang melibatkan pelajar tingkat tujuh menggunakan teknik survey, peneliti melakukan monitoring para pelajar ini selama dua tahun untuk mengukur pencapaian kemampuan matematika mereka. Hasilnya mengejutkan, bahwa mereka yang memiliki Fixed Mindset tidak mengalami perubahan berarti sementara mereka yang memiliki Growth Mindset menjadi semakin meningkat dan meningkat terus kemampuannya (Blackwell dkk, 2007). Lihat pada Graph 1.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara KEYAKINAN dan AKTIVITAS OTAK menjadi sangat erat ketika mereka yang memiliki pola Growth Mindset melakukan kesalahan maka mereka mengalami lebih banyak aktivitas otak dibanding mereka yang Fixed Mindset. Maksudnya begini, ketika seseorang melakukan suatu kesalahan maka ada dua kondisi, ia menyalahkan orang lain atau ia menyalahkan dirinya sendiri. Ketika orang mengalami kegagalan juga kondisinya ada dua yakni ia menyalahkan orang lain atau ia menyalahkan diri sendiri.

Kondisi otak mereka yang YAKIN DAN PERCAYA bahwa kemampuan mereka dapat meningkat akan menghasilkan aktivitas otak yang lebih aktif dibandingkan mereka yang tidak yakin dan percaya. Termasuk ketika suatu kesalahan dilakukan dan dilakukan perbaikan pada kesalahan tersebut. Mereka yang memiliki pola Growth Mindset meskipun melakukan kesalahan namun ia bisa cepat kembali dan memperbaiki kesalahan untuk kemudian kembali pada jalur awal sementara mereka yang memiliki pola Fixed Mindset menganggap ‘ya sudahlah, memang sudah begini, mau bagaimana lagi?’ dan akhirnya aktivitas otak mereka menjadi stagnan/diam/tetap/tidak aktif. Penelitian tersebut menemukan bahwa seseorang dengan Growth Mindset memiliki kesadaran yang lebih besar akan kesalahan dibandingkan mereka yang Fixed Mindset sehingga mereka yang memiliki pola Growth Mindset dapat segera kembali untuk memperbaiki kesalahannya. Penelitian ini juga mendukung penelitian lain (Mangels, Butterfield, Lamb, Good, & Dweck, 2006) yang menunjukkan bahwa mereka yang memiliki pola Growth Mindset mengalami peningkatan reaksi otak dan lebih peduli pada kesalahan yang mereka perbuat.

Dua gambar scan otak (Graph 2) dari penelitian diatas, merupakan pemetaan arus listrik yang menunjukkan aktivitas otak ketika Growth Mindset dan Fixed Mindset bekerja. Warna oranye pada Growth Mindset menunjukkan adanya aktivitas yang lebih besar pada otak.

Hubungan antara keyakinan kita dan bagaimana otak kita bereaksi sangatlah erat. Jika Anda percaya pada diri Anda sendiri, dan tidak pernah berpikir bahwa sebuah kemampuan tidak pernah dapat Anda capai maka otak Anda akan berkembang dan tumbuh sedemikian rupa menghasilkan jenis kemampuan yang Anda inginkan pada akhirnya.

Kenyataannya bahwa aktivitas otak menjadi lebih kuat ketika seseorang memiliki pola Growth Mindset. Melalui jenis pola ini maka KEYAKINAN yang dibentuk oleh dirinya sendiri dan atau yang dipengaruhi oleh lingkungan apabila benar-benar diyakini oleh dirinya akan membuat aktivitas otak tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik terus menerus bahkan apabila ia harus melakukan pekerjaan yang lebih berat lagi untuk menuju itu.

Kita bisa lihat, banyak sekali dari kita (khususnya di Kebugaran Merpati Putih, umumnya di Merpati Putih) yang memiliki pola Fixed Mindset sehingga seringkali kita tidak mau mengkondisikan diri kita untuk berlatih secara baik, teratur, rutin, dan meningkat dari waktu ke waktu. Berbagai alasan dibuat, malas, capek, tidak ada waktu, terlalu berat, dan sejenis itu. Ketika kemudian terjadi masalah atau ketidakmampuan menembus suatu pemahaman tertentu, maka koreksilah diri sendiri. Jangan-jangan mindset yang terbentuk selama ini pada lingkungan latihan Anda adalah pola Fixed Mindset dan bukan Growth Mindset. Jangan-jangan Anda para pelatih secara tidak sadar memasukkan pola Fixed Mindset ini kepada anak didik Anda sehingga Anak didik Anda tidak mau mengikuti saran dan nasehat Anda untuk berlatih secara rutin.

Kita seringkali bertanya, kenapa sulit sekali mengajak orang untuk berlatih? Well, bisa jadi jawabannya adalah karena memang Anda sendiri tidak pernah mau berlatih untuk diri Anda sendiri. Anda menyuruh, namun Anda tidak menjalani. Anda sendirilah sebenarnya yang sedang mengkondisikan pola Fixed Mindset lalu tanpa disadari gelombang energi pembentukan ini mengalir keluar dan diterima oleh anak didik Anda. Cobalah, jika Anda sendiri mengubah pola Fixed Mindset menjadi Growth Mindset maka dipastikan anak didik Anda akan ikut serta.

“Ilmu Iku Kelakone Kanthi Laku”, merupakan suatu idiom tanah Jawa yang sebenarnya berbicara Growth Mindset ini. Dengan menjalani suatu set latihan secara terus menerus dan dengan target tertentu (misalnya seperti program One Day One Breath yang harus bisa dicapai tahap awal ini selama 30 hari non stop) maka otak peserta menjadi sedemikian aktif untuk menuju target ini. Disinilah kaidah “ilmu itu kelakone kanthi laku” dijalankan. Berat? Tentu saja. Karena latihan ini akan membentuk kondisi Growth Mindset. Anda akan terus menerus berkembang, mengetahui setiap aspek detail dari latihan, mencoba pada diri Anda sendiri. Patuh pada kesepakatan yang Anda buat sendiri, dan mengulangi terus menerus hingga otak menganggap itu suatu kebiasaan. Maka sudah tidak ada lagi beban.

Bangun malam? Tidak masalah. Bangun pagi? Juga tidak masalah. Kenapa? Karena otak Anda terkondisikan sedemikian rupa untuk melakukan berbagai adaptasi psikologis dan fisiologis. Latihan Pengolahan plus Pembinaan? Tidak masalah. Latihan Pembinaan saja? Tidak masalah. Latihan hanya Garuda 3x saja? Apalagi. Ketika dinaikkan intensitasnya juga ya tidak masalah.

Per hari ini, sudah 20 hari program One Day One Breath kami jalankan bersama (Graph 3). Berusaha mencapai target 30 hari non stop untuk tahap awal dan dilanjutkan selama 60 hari untuk tahap berikutnya. Berusaha mengubah kemustahilan menjadi kemungkinan, lalu kemungkinan menjadi keyakinan, dan keyakinan menjadi kenyataan. Menjaga dan merawat tubuh ini yang hanya satu-satunya. Berlatih secara baik, aman, dan menyehatkan. Insya Allah setelah 30 hari selesai, maka program One Day One Breath akan saya buka untuk siapapun yang tertarik dan berminat menjalaninya.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:

1) Boaler, J. (2015). Mathematical Mindsets: Unleashing Students’ Potential Through Creative Math, Inspiring Messages and Innovative Teaching. San Francisco, CA: Jossey-Bass.
2) Dweck, C. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.
3) Mangels, J. A., Butterfield, B., Lamb, J., Good, C., & Dweck, C. S. (2006). Why do beliefs about intelligence influence learning success? A social cognitive neuroscience model. Social cognitive and affective neuroscience, 1(2), 75-86.
4) Blackwell, L. S., Trzesniewski, K. H., & Dweck, C. S. (2007). Implicit theories of intelligence predict achievement across an adolescent transition: A longitudinal study and an intervention. Child development, 78(1), 246-263.
5) Biography of Carol Dweck (https://en.wikipedia.org/wiki/Carol_Dweck)

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →