“CESSSSSH”

“CESSSSS”

Oleh: Mas Gunggung


Para pelatih MP sering kesulitan menjawab ketika ditanya oleh anak didiknya kenapa teknik olah napas Merpati Putih mesti berbunyi “cesssssh” atau “ssssssh”. Kebanyakan dari kita menjawab sekenanya saja dan sebagian lagi menjawab ‘dari dulunya sudah begitu’. Padahal katanya MP itu ilmiah. Ini dulu juga menjadi tantangan bagi diri saya sendiri untuk mersudi dan mencari tahu jawabannya. Sebab ketika seorang pelatih tidak bisa memberikan jawaban yang logis maka biasanya ia akan mulai berlindung dibalik kemisteriusan ini dan itu.

Saya tidak akan menyamakan perlakukan dan pemahaman mengenai berbagai penjelasan dari sudut pandang sains dan medis di semua tempat. Bisa jadi, untuk beberapa daerah di pedesaan cukuplah dengan penjelasan sederhana dan bisa diterima. Namun di beberapa tempat lain dimana peserta memiliki pola pikir yang kritis maka hal itu sulit untuk dilakukan. Di daerah dimana makan beling, membalur kulit dengan air keras, tidur diatas paku, dianggap hal yang umum dan biasa-biasa saja maka demikianlah adanya kearifan lokal disana. Menjadi sulit ketika hal-hal seperti itu bertemu dengan para peserta baru yang kritis apalagi akademis. Jadi, pemahaman-pemahaman pada group ini cukuplah menjadi penambah pengetahuan diri pribadi kita masing-masing. Silahkan selanjutnya menggali kearifan lokal di daerahnya masing-masing. Saya yang lama hidup di kota besar dan berinteraksi dengan banyak orang-orang kritis, skeptis, dan akademis tentunya memiliki pola pikir dan cara pandang yang berbeda dengan teman-teman lain di daerah yang tidak pernah atau belum pernah bersentuhan dengan itu.

Baiklah, saya kembali kepada topik permasalahan. Kenapa cara berlatih olah napas di MP menghasilkan bunyi “cessssh” atau “ssssh”? Apakah hanya sekedar agar udara yang keluar dari paru-paru sedikit demi sedikit, atau sekedar untuk menguatkan otot perut? Kedua jawaban terakhir tesebut sejak lama sudah cukup memberikan kepuasan batin bagi saya meskipun tanpa landasan ilmiahnya. Namun ketika saya melakukan eksplorasi Kebugaran lebih lanjut, saya menemukan bahwa ada alasan penting kenapa cara berlatih olah napas di MP ini menghasilkan bunyi seperti itu.

Pengembaraan mersudi saya dari satu jurnal ke jurnal yang lain akhirnya tertambat pada penelitian yang dilakukan oleh Dr. Dwight Jennings dari University of Pacific School of Dentistry yang lebih dari 25 tahun meneliti mengenai hubungan antara rahang dengan sistem syaraf. Beliau adalah seorang ahli yang meneliti mengenai TMJ atau singkatan dari Temporomandibular Joint. Masalah kesehatan yang terjadi pada lokasi tersebut dikenal dengan istilah TMJ atau Temporomandibular Joint Disorder atau Temporomandibular Joint Dysfunction.

Apakah itu Temporomandibular Joint?

Temporomandibular Joint adalah dua sendi yang menghubungkan rahang dengan tulang kepala (lihat gambar 1). Tulang Temporal ada di tulang kepala sedangkan tulang Mandibula ada di rahang, dari kedua jenis tulang inilah digabungkan namanya menjadi TemporoMandibular. Kedua tulang ini saling terhubung karena ada ‘engsel’. Nah, engsel ini kalau tidak bekerja dengan baik akan menyebabkan terjadinya masalah yang disebut dengan TMJ disorder atau TMJ dysfunction. Engsel yang ada diantara kedua tulang itu termasuk salah satu yang paling kompleks yang menghubungkan antara kedua jenis tulang. Engsel inilah yang memungkinkan rahang kita digerakkan maju, mundur, ke kanan dan ke kiri.

Beberapa ciri dari TMJ disorder diantaranya sakit pada rahang, sakit kepala, sakit gigi, sakit leher, sinus, sakit mata, masalah penglihatan bergoyang, dan lain sebagainya. Meskipun beberapa ciri dari TMJ disorder ini juga ada pada jenis penyakit lain atau dari stres yang diderita. Akan tetapi bisa saja masalah itu terjadi justru pada rahang Anda yang sebenarnya bisa dilakukan pencegahan dan penanganan secara relatif mudah dengan syarat sakitnya belum fatal.

Menurut Dr. Dwight Jennings, kebanyakan kasus TMJ disorder dikarenakan tata letak struktur rahang yang tidak serasi. Ketika salah satu rahang tidak serasi strukturnya maka hal ini akan menyebabkan terjadinya stres. Ada beberapa situasi yang menyebabkan hal itu terjadi diantaranya kehilangan gigi, salah pengaturan gigi pada dokter gigi, genetik, alergi, dan lain sebagainya.

Saya ambil contoh kasus misalnya Anda sedang ‘menguap’ karena ngantuk (bahasa Jawa: angob) dan mulut terbuka terlalu lebar sehingga terjadi dislokasi ringan pada rahang maka sekejap itu Anda merasa tidak nyaman. Tingkat stres tubuh meningkat drastis, seluruh sistem syaraf Anda memberikan sinyal ketidaknyamanan ini dan berbagai reaksi spontan bermunculan seperti misalnya mata berair, kepala pusing, cemas, dan lain sebagainya.

Secara klinis, pengecekan bisa dilakukan dengan cara: 1) Merasakan tekanan di telinga berdasarkan gerakan TMJ dengan menempelkan jari Anda ke telinga dengan lembut dan kemudian buatlah gerakan mulut seperti menggigit. Anda seharusnya tidak bisa merasakan gerakan engsel pada telinga Anda pada saat terjadi gerakan menggigit tersebut. Pada orang yang normal, bagian Condylar Head tidak terasa (lihat gambar 2). 2) Pasien diminta untuk berhitung dari satu hingga 16 atau 17 dalam bahasa Inggris. Apabila terjadi masalah TMJ maka biasanya akah dihasilkan bunyi “s” yang tidak ideal.

Lebih jauh lagi, Dr. Dwight menemukan hubungan antara TMJ dengan penyakit Parkinson, tremor, dan masalah keseimbangan. Beliau mempublikasikan temuannya pada jurnal ilmiah internasional dan mengatakan bahwa ketika terjadi masalah struktur rahang saat menggigit maka dapat menyebabkan abnormal pada ucapan, gerakan wajah yang tidak wajar, dan pengucapan alfabet yang tidak ideal. Lebih jauh lagi akan berpengaruh pada sistem syaraf otak mengingat pada gigi ada banyak neurotransmitter yang langsung terhubung ke otak. Ada banyak penelitian yang menunjukkan pasien dengan disfungsi rahang memiliki resiko berobat yang lebih tinggi.

Jadi, kalau dilihat penjelasan diatas bahwa cara berlatih olah napas MP dengan harus menghasilkan bunyi “cessss” atau “sssss” adalah dalam rangka mengatur atau reposisi Temporomandibular Joint ini. Karena pada saat melakukan kedua geraham harus bersentuhan dan seperti sedang dalam posisi mengunyah/menggigit yang harus dipertahankan hingga suatu bentuk selesai dilakukan. Ini sekaligus menjadi pencegahan terhadap masalah TMJ disorder, parkinson, tremor, keseimbangan, dan masalah syaraf rasa sakit di kepala.

Untuk itu, tidak perlu malu dan ragu ketika saat berlatih mengeluarkan bunyi “cessss” atau “sssss” seperti ‘ban kempes’. Sebab Anda sedang diterapi oleh MP untuk mencegah terjadinya TMJ disorder dan masalah kesehatan lain pada rahang secara gratis!

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:

  1. Dr. Dwight Jennings (http://tmjoakland.com/dr-dwight-jennings)
  2. What is TMJ (http://tmjoakland.com/what-is-tmj)
  3. Parkinson and TMJ (http://parkinsonstmj.com)
  4. Substance P (http://substancep.info)
  5. The apraxias are higher-order defects of sensorimotor integration, Marsden CD. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9949828#)
Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →