Aturlah Pola Napas Berbasis Ritme

ATURLAH POLA NAPAS BERBASIS RITME

Oleh: Mas Gunggung


Ketika dulu saya melakukan berbagai pemetaan tradisi olah napas tradisional, saya menemukan banyak sekali missing link informasi yang didapati. Kemudian ketika belajar pada banyak senior, menerima materi ini dan itu dari beliau-beliau, barulah kemudian sedikit demi sedikit saya mulai bisa memahami kenapa sebagiannya ada disana, kenapa sebagiannya ada disini. Barangkali, inilah hikmah dari “merantau” dalam khasanah Minang atau “turun gunung” dalam khasanah beladiri kebanyakan. Selain daripada mengaplikasikan keilmuan, juga harus mau belajar dari orang lain dan dari semesta. Alam terkembang menjadi Guru menurut filosofi Minang.

Kemudian pemetaan tersebut saya rapihkan dan sesuaikan untuk kebutuhan ilmu Kebugaran. Untuk melengkapi landasan pengetahuan, saya “berburu” berbagai jurnal-jurnal kesehatan. Dari mulai jurnal yang gratisan hingga jurnal berbayar. Dari mulai yang berbayar puluhan ribu, hingga jutaan. Saya menggunakan subsidi silang dari yang saya dapatkan melalui melatih kebugaran dengan mencari referensi eksternal kemudian feedback nya saya tulis pada group ini sebagai imbal balik saya kepada Merpati Putih. Saya meyakini bahwa ikatlah ilmu dengan menuliskannya itu benar adanya. Dan itu sudah saya buktikan selama bertahun-tahun.

Tentunya, untuk mendapatkan hasil maksimal tidak cukup hanya teori. Sayapun harus berlatih keras. Bahkan harus lebih keras dari yang saya latih. Agar saya mendapatkan korelasi sungguhan antara teorinya dan praktekknya. Jika ada problem, saya evaluasi ulang, lalu perbaiki. Dari sinilah kemudian pengetahuan itu muncul. Filosofi “Ilmu iku kelakone kanthi laku” kemudian diparalelkan dengan referensi pihak ketika yang relevan sehingga menjadi landasan latihan yang kokoh. Anda berlatih karena Anda tahu manfaatnya dari berlatih. Tahu ilmunya. Inilah nanti yang akan menjadi “ilmul yaqin”. Ketika Anda menjalani latihannya dan merasakan manfaatnya langsung pada diri Anda, maka inilah yang nanti akan menjadi “haqqul yaqin”. Semua bertahap.

Kembali pada pembahasan mengenai ritme. Yang sering hilang pada saat latihan napas adalah ketiadaan ritme. Padahal ritme ini penting. Seringkali seseorang melatih napas dengan pola seperti ini, buang napas (entah berapa detik), tahan napas (entah berapa detik), tarik napas (entah juga berapa detik), tahan napas sambil melakukan gerakan (entah juga berapa detik), lalu selesai buang napas (entah juga berapa detik). Kebanyakan itu terjadi dan dilakukan oleh kita. Tidak ada pola yang tertentu, terjadi fluktuasi tidak menentu. Mengetahui “segitiga” dan “segiempat” hanya sebatas tahu saja, namun tidak teraplikasikan pada latihannya. Lalu darimana keselarasan itu timbul? Keselarasan terkait dengan ritme. Ia berbicara mengenai ritme. Sebuah pola. Pola yang diberitahu lalu harus dilakukan. Inilah yang kemudian menjadi kegiatan melakukan sinkronisasi terus menerus.

Ada begitu banyak penelitian mengenai ritme napas. Saya akan coba uraikan salah satunya, yakni yang berhubungan dengan aktivitas otak dan memori/ingatan. Silahkan disimak.


Ilmuwan dari Northwestern Medicine telah menemukan untuk pertama kalinya bahwa ritme bernapas menghasilkan aktivitas listrik pada otak yang dapat meningkatkan pengambilan keputusan emosional dan pemanggilan memori.

Efek yang dihasilkan ini tergantung pada pengaturan cara kita menghirup napas dan membuang napas apakah menggunakan hidung atau mulut.

Pada studi yang dilakukan mereka, subyek mampu mengidentifikasikan wajah seseorang yang ketakutan lebih cepat ketika melakukan penarikan napas dibandingkan ketika membuang napas. Subyek juga lebih mampu untuk mengingat obyek jika melihatnya saat menarik napas dibandingkan saat membuang napas.

“Hal utama yang kami temukan pada studi ini adalah bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar pada aktivitas otak di dalam amygdala dan hippocampus pada saat menarik napas dibandingkan saat membuang napas. Ketika seseorang menarik napas, kami menemukan bahwa ia sedang merangsang syaraf-syaraf pada olfactory cortex, amygdala dan hippocampus yang melintasi sistem limbik”, menurut Christina Zelano seorang asisten profesor syaraf pada Northwestern University Feinberg School of Medicine.

Studi ini dipublikasikan pada tanggal 6 Desember pada Journal of Neuroscience oleh Jay Gottfried salah satu profesor syaraf di Feinberg.

Ilmuwan dari Northwestern pertama kali menemukan perbedaan pada aktivitas otak ini ketika sedang mempelajari tujuh pasien dengan masalah epilepsi yang sudah dijadwalkan untuk melakukan bedah otak. Seminggu sebelum pembedahan, elektroda implan dipasang pada otak pasien untuk mengetahui aktivitas yang terjadi disana. Hal ini memungkinkan ilmuwan untuk mengumpulkan data-data fisiologi dalam bentuk sinyal-sinyal listrik langsung dari otak pasien. Sinyal listrik yang terekam ini menunjukkan aktivitas otak mengalami fluktuasi ketika bernapas. Aktivitas ini terjadi pada area otak yang memproses emosi, memori, dan bau.

Penemuan ini menimbulkan pertanyaan bagi ilmuwan apakah fungsi kognitif umumnya yang terkait dengan area otak tersebut dapat juga terpengaruh melalui cara bernapas.

Area Amygdala pada otak terkait pada pemprosesan emosi, termasuk di dalamnya emosi yang berhubungan dengan rasa takut. Ilmuwan kemudian meminta kepada 60 subyek untuk membuat keputusan yang cepat berdasarkan ekspresi emosi tertentu yang ada pada layar sambil merekam aktivitas bernapas para subyek. Wajah-wajah yang dihadirkan pada layar dengan ekspresi yang menunjukkan rasa takut atau keterkejutan harus ditebak dengan secepat-cepatnya oleh subyek apakah wajah tersebut menunjukkan wajah takut atau wajah terkejut.

Ketika wajah pada layar ditunjukkan saat subyek melakukan penarikan napas, subyek ternyata mengenali ekspresi wajah yang menyiratkan rasa takut lebih cepat dibandingkan ketika subyek melakukan buang napas. Hal ini tidak terjadi para ekspresi wajah yang menyiratkan keterkejutan. Ketika kemudian pola napas dilakukan melalui mulut maka kecepatan pengenalan ekspresi wajah pada ekspresi takut ini tidak terjadi. Dengan demikian, penarikan napas terkait pada stimulus otak yang berhubungan dengan rasa takut.

Pada eksperimen yang berhubungan dengan fungsi memori, berlokasi di hippocampus, subyek yang sama ditunjukkan gambar-gambar obyek pada layar komputer dan diminta untuk mengingatnya. Berikutnya mereka diminta untuk menyebutkan obyek-obyek tersebut. Ilmuwan menemukan bahwa pemanggilan memori menjadi lebih baik ketika gambar dihafalkan saat menarik napas.

Profesor Zelano juga mengatakan bahwa dari percobaan-percobaan yang dilakukannya ditemukan bahwa bernapas cepat dapat bermanfaat ketika seseorang berada dalam situasi berbahaya. Jika seseorang berada pada kondisi panik, maka ritme napas menjadi lebih cepat. Hasilnya, ia akan lebih banyak menarik napas dibandingkan saat ia berada pada kondisi tenang. Dengan demikian, respon tubuh kita terhadap rasa takut akan menimbulkan cara bernapas lebih cepat dari biasanya dan ini menjadi mekanisme pertahanan terhadap situasi atau lingkungan yang dianggapnya berbahaya. Lebih lanjut dikatakan, bahwa hasil temuan tersebut juga dapat menjelaskan mekanisme dasar pada meditasi atau pada saat memfokuskan pada napas dimana ketika seseorang menarik napas maka ia sedang berada pada sinkronisasi gelombang otak yang melalui sistem limbik.


Jika diperhatikan pada tulisan diatas, tarik napas dan buang napas berpengaruh pada gelombang otak, pada impuls syaraf didalamnya. Karena ini gelombang maka fluktuasi gelombang yang tidak beraturan itu tidak baik. Gelombang menjadi baik manakala ia sinkron, selaras. Dan tidak akan bisa dicapai ini apabila tidak patuh pada pola/ritme. Maka sesungguhnya latihan yang tidak memperhatikan ritme hanyalah menyebabkan terjadinya fluktuasi sinyal listrik pada otak, mempengaruhi hormon tubuh, dan pada akhirnya mempengaruhi kejiwaan seseorang.

Mari, kita koreksi cara kita berlatih olah napas agar membawa kebaikan dan perbaikan pada diri kita.

Untuk tahu apa dan bagaimana detail ritme pada saat melakukan olah napas dengan kaidah-kaidah Merpati Putih silahkan mengikuti workshop yang ada. Sebab dari pengalaman, agak sulit menjelaskan melalui tulisan karena setiap detailnya yang khas dan harus dilihat melalui praktek. Maka dari itu jika Anda membaca testimoni mereka yang ikut workshop Wisata Bugar di Malang kemarin yang 100% puas, mereka ter-rekonstruksi dan ter-dekonstruksi pemahamannya. Bagaimana caranya berlatih dengan ritme, pola, untuk mendapatkan kebaikan dan kesehatan diri.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →