Merpati Putih, Pemulihan Kanker, dan HIIT

MERPATI PUTIH, PEMULIHAN KANKER, DAN HIIT 
(Bagian 1)

Kanker, merupakan jenis penyakit yang saat ini banyak diderita oleh masyarakat. Banyak cara dan pendekatan bagaimana seseorang bisa bertahan hidup dengan kanker. Para survival cancer ini umumnya tergabung pada komunitas-komunitas tertentu yang memiliki kegiatan positif untuk saling menguatkan moral dan mental. Komunitas seperti Lavender dan Pink yang didalamnya berisi penderita kanker belajar dari para survival cancer atau orang-orang yang bertahan hidup dengan kanker. Pendekatan yang umum adalah dengan berobat ke rumah sakit lalu melakukan kemoterapi dengan tingkat keberhasilan tertentu. Apabila sudah mencapai “titik jenuh” maka biasanya orang sudah mulai menggeser pola pikirnya untuk mulai menggunakan “cara alternatif”. Yang disebut sebagai “cara alternatif” sebenarnya adalah suatu pandangan non medis dan umumnya melibatkan metode, unsur, dan pendekatan non medis seperti misalnya herbal, terapi tradisional dan atau sejenis dengan itu. Beragam hasil juga didapatkan pada keduanya. Ada yang berhasil pulih dengan sangat baik, dan ada juga yang gagal. Ilmu pengetahuan terus menerus berusaha untuk menemukan pendekatan-pendekatan yang dapat meningkatkan tingkat keberhasilan penyembuhan kanker. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pendekatan berbasis latihan anaerob yang akan saya jelaskan dibawah ini.

Seorang Amerika bernama Gregg Braden membuat sebuah teori yang sangat terkenal yang dinamakan “The Theory of Cancer”. Ia menawarkan sebuah pengetahuan mengenai bagaimana keadaan emosi seseorang dapat mengubah DNA dan bagaimana kekuatan pikiran dapat menangani masalah-masalah kesehatan dan penyakit. Pada banyak kasus, ini bukanlah sekedar pertanyaan mengenai kondisi fisik melainkan juga sebuah hubungan yang ada diantaa jiwa dan raga seseorang.

Menurut Gregg, kita hanya memerlukan waktu 3 menit untuk menyembuhkan kanker. Informasi mengenai hal itu dijelaskan secara ilmiah di dalam sebuah majalah yang bernama “The Nature” nomor 332 tahun 1996. Penelitian lain mendemonstrasikan bahwa emosi kita dan bagaimana cara kita berpikir akan sesuatu merupakan sebab paling utama dalam kaitannya dengan medan elektromagnetik tubuh dimana gelombangnya dapat mencapai lebih dari 1 meter. Ia meyakini, suatu hari nanti seseorang akan dapat menghasilkan energi listrik hanya dengan mengekspresikan pikirannya saja. Bahkan Nikola Tesla pernah mengatakan bahwa suatu hari nanti manusia akan dapat menghasilkan tenaga listrik hanya dengan bantuan dari kekuatan tenaga pikirannya saja. Ini artinya bahwa pikiran manusia itu merupakan salah satu penghasil energi yang sangat kuat.

Ketika teori ini dicerna dan orang yang meyakininya mampu membawa pengetahuan ini secara kolektif, maka ia akan mampu membuat sebuah kemampuan untuk penyembuhan dari penyakit. Ilmuwan dapat mendemonstrasikan hal ini melalui sebuah rekaman yang direkam di salah satu rumah sakit dimana tumor karsinogen berukuran 3 x 2,5 cm dapat mengecil hinggal 2,5 kali ukuran aslinya dengan penanganan kurang dari 3 menit. Hasil scan dalam bentuk gelombang ultra menunjukkan bagaimana prosesnya secara realtime pada layar.

Jika kita dapat belajar untuk mengelola emosi dengan baik, maka kita akan dapat membuat sebuah radiasi gelombang elektromagnetik yang dapat dikontrol dan ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan. Perasaan dan emosi yang dimiliki oleh kita sesungguhnya bagaikan cermin dimana segala sesuatu yang kita buat didalamnya akan diradiasikan kedalam dan keluar diri kita. Misalnya, jika kita berkata “suatu hari nanti saya akan bahagia, saya akan sukses, saya akan tersembuhkan, saya akan sembuh, saya akan sehat kembali, saya akan mampu, dan lain sebagainya…” maka cermin itu akan memantulkan keluar dan mendapati hasilnya cepat atau lambat. Kita harus berhati-hati mengenai apa-apa yang kita katakan atau rasakan karena DNA kita sesungguhnya akan menyerap segalanya. Seandainya kita ingin mengubah sesuatu di dalam diri kita, maka DNA kita akan ikut berubah juga. Kita semua harus punya keyakinan dan meletakkan keyakinan tersebut ke dalam emosi dan pikiran kita. Dengannya kita akan mampu mengubah hidup kita menuju jalan terbaik yang akan dicapai.

Dr. Dre dari Institute of Heart Math juga melakukan penelitian bagaimana pengaruh perasaan (emosi) pada jantung dan bagaimana ia dapat dengan cepat memulihkan berbagai masalah kesehatan asal dapat dilakukan dengan baik. Berbagai teknik oleh Institute of Heart Math ini dikembangkan, salah satunya adalah Single Coherence dan Collective Coherence yang memungkinkan jantung melakukan intersepsi pada otak dan melakukan distribusi penyebaran energi secara lebih kuat berkali-kali lipat. Penelitian sebelumnya oleh Dr. J.J. Armour mengatakan bahwa terdapat serabut syaraf pada jantung yang cara kerjanya hampir mirip dengan serabut syaraf pada otak dalam hal “berpikir” dan melakukan distribusi energi gelombang elektromagnetik. Silahkan dibaca tulisan saya mengenai ini secara khusus di group ini.

Ilmuwan-ilmuwan lain dalam penelitiannya mengenai pengaruh gelombang suara pada DNA menemukan bahwa kemampuan cara mengatur bagaimana kita “berbicara” dan atau berkomunikasi dengan diri kita akan menentukan bagaimana DNA berperilaku. Potensi positif atau negatifkah yang akan muncul manakala kita “berbicara” dengan diri kita sendiri melalui verbal/lisan. Silahkan dibaca juga tulisan saya mengenai ini di group ini. 🙂

Di tempat lain, sekelompok ilmuwan melakukan percobaan untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darah dalam rangka membunuh sel-sel kanker. Relawan diminta untuk melakukan serangkaian latihan fisik bersepeda selama satu jam tanpa henti. Hasilnya, setelah melakukan latihan fisik yang bersifat anaerob secara beruntun selama satu jam maka tingkat konsentrasi sel-sel kanker menjadi menurun. Meskipun masih dalam tahap uji coba dan memerlukan penelitian lanjutan namun percobaan ini mampu memberikan harapan dan sekaligus memberitahu kita bahwa asupan yang kaya akan oksigen dan disebarkan ke seluruh tubuh dalam bentuk latihan fisik selama rentang waktu tertentu akan mampu menurunkan tingkat pertumbuhan sel-sel kanker. Latihan fisik semacam ini dalam dunia fisiologi latihan disebut dengan latihan HIIT (High Intensive Interval Training).

HIIT dulu dipopulerkan pertama kali oleh salah satu pelatih lari jarak pendek yang menggunakan pola sebagai berikut. Peserta mula-mula diminta menarik napas panjang dari hidung, kemudian berlari secepat-cepatnya selama 20 meter sambil menahan napas. Setelah mencapai 20 meter peserta kemudian berhenti dengan cara lari-lari kecil atau berjalan dan langsung buang napas. Diberikan interval beberapa detik sebelum kemudian melakukan hal yang sama. Pada lari berikutnya jarak akan ditambah menjadi 25 meter, dan terus seperti itu hingga 100 meter. Hasilnya, tubuh membentuk daya adaptasi pada level sel untuk memulihkan dirinya dengan cepat. Mula-mula memang melelahkan, namun perlahan kekuatan dan kemampuan tubuh untuk melakukan pemulihan menjadi semakin cepat.

Saya akan mulai dengan pemahaman mengenai HIIT.

HIIT atau High Intensive Interval Training, juga sering disebut dengan High Intensity Intermitten Exercise (HIIE) atau Sprint Interval Training (SIT) merupakan salah satu bentuk dari latihan fisik berbasis interval. Latihan kardiovaskular jenis ini memerlukan kondisi respirasi anaerob dengan sedikit mungkin periode pemulihan. HIIT merupakan sebuah konsep dimana seseorang melakukan latihan pendek dengan cepat dan memiliki intensitas tinggi yang diikuti dengan aktivitas ringan setelahnya secara berulang-ulang hingga tubuh mulai kelelahan untuk melanjutkan. Mereka yang ingin melakukan latihan berjenis HIIT ini harus memiliki motivasi yang tinggi terhadap dirinya. Bagi orang yang sakit, motivasi sembuhnya harus tinggi jika ingin melakukan pendekatan jenis ini.

Prosedur melakukan HIIT terbagi menjadi 3 (tiga) yakni periode pemanasan, latihan inti HIIT, dan periode pendinginan. Latihan inti HIIT dibagi menjadi dua bagian yakni repetisi tinggi dan repetisi rendah untuk pemulihan. Repetisi rendah berisi latihan yang sama dengan 50-70% intensitas lebih rendah dari repetisi tinggi. Jumlah repetisi dan lamanya waktu disesuaikan dengan jenis latihannya untuk apa. Namun umumnya memiliki tiga repetisi dengan minimal 20 detik untuk setiap repetisinya dan berlangsung terus menerus selama minimal 30 menit.

Tidak ada formula spesifik pada latihan inti HIIT namun umumnya terdiri dari formula dengan rasio 2:1. Jika misalnya latihan inti HIIT adalah lari cepat selama 30-40 detik maka lakukan15-20 detik joging (lari-lari kecil) atau berjalan sebagai recovery/pemulihannya. Lakukan berulang-ulang pola tersebut hingga 30 menit. Adapun gerakan untuk latihan inti HIIT bisa dipilih sedemikian rupa yang bersifat anaerob. Bisa satu gerakan, atau satu set rangkaian gerakan tertentu.

Terkait dengan Merpati Putih, menjadi pertanyaan bagaimana caranya melakukan latihan olah napas yang memenuhi kaidah-kaidah HIIT ini dalam bentuk olah napas kebugaran untuk dapat melakukan percepatan penyembuhan pada kanker? Apa implikasinya, batasan-batasannya, dan larangan-larangannya. Olah napas Merpati Putih sudah terbukti memenuhi unsur latihan aerob dan anaerob secara keseluruhan. Nantikan ulasan saya pada bagian kedua.

Semoga bermanfaat.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →