Rasa yang Membentuk Kenyataan

‘RASA’ YANG MEMBENTUK KENYATAAN

Oleh: Mas Gunggung


Khasanah ilmu silat tanah Jawa mengenal istilah Cipta, Rasa, dan Karsa. Darinya kemudian dikembangkan banyak sekali hal-hal yang seringkali digolongkan sebagai supranatural. Supranatural, pada dasarnya sering dinisbatkan sebagai suatu yang diluar nalar, diluar pada umumnya, diluar natural. Umumnya dianggap sebagai suatu daya ‘linuwih’ dalam bentuk ilmu-ilmu tertentu yang tergolong pada ilmu kanuragan maupun ilmu kasepuhan. Padahal konsep itu berbicara akan sebuah pengetahuan universal akan alam/natural itu sendiri. Sesuatu yang memang sebenarnya ada, dan terjadi pada diri kita, disadari ataupun tidak. Melalui satu set latihan yang khas, maka rasa cipta dan karsa dapat disadari dan dipahami secara lebih nyata. Rasa, Cipta, dan Karsa merupakan konsep yang dapat digolongkan sebagai sebuah “teknologi canggih tradisional” yang sudah melampaui zamannya. Melaluinya, para praktisi yang menjalani dan meyakininya, melakukan eksplorasi luar bisa pada diri yang meliputi lahiriah dan batiniah. Berbagai istilah kemudian digunakan untuk mewakili suatu proses, atau entitas, atau aktivitas yang bertujuan menuju konsep tersebut. Misalnya ‘laku’, ‘tapa’, ‘meneng’, ‘hening’, ‘roso’, ‘ngelmu’, dan lain sebagainya. Pada masing-masing istilah tersebut disematkan pemahaman beserta satu set latihannya secara unik, khas, dan memiliki kemampuan tinggi manakala berhasil dijalankan.

Rasa, pada khasanah ilmu Jawa, dipahami dan dikembangkan sedemikian rupa. Ia tidak hanya dimaknai sebagai sebuah perasaan semata seperti halnya rasa senang, rasa bahagia, rasa sedih, rasa amarah, dan sejenis itu. Namun rasa dalam ilmu Jawa benar-benar dipahami sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan realita (kenyataan) yang terjadi pada diri praktisinya. Maka orang Jawa, yang belajar ilmu Jawa, sangat berhati-hati dengan rasa. Karena mereka yang mempelajari ini paham betul bahwa rasa dapat membentuk realita yang sungguh-sungguh terjadi di alam nyata.

Ketika saya berbicara “terjadi di alam nyata” maka kalimat tersebut benar-benar dimaknai tidak sekedar kiasan tetapi benar-benar literal/harfiah. Misalnya, ketika berbicara konsep Rasa, khasanah Jawa benar-benar sangat runut dan teliti. Dari mulai sebelum terbentuknya rasa, saat awal terbentuknya rasa, saat rasa itu terbentuk, saat rasa itu akan ‘bergerak’, saat rasa itu mulai ‘bergerak’, saat rasa itu berproses ‘bergerak’ menuju tujuan, saat rasa itu ‘mengenai’ tujuan, saat rasa itu kembali membawa feedback dari tujuan, saat feedback rasa itu ‘dinilai dan diperlakukan’, dan saat rasa itu ‘berakhir’ pada titik akhir yang diinginkan. Jika dijabarkan lagi maka akan lebih luas lagi. Dan ini sudah berisi satu set latihan yang menghasilkan pemahaman akan itu.

Sebegitu luasnya penjabaran konsep Rasa ini dalam khasanah Jawa hingga ada seorang pangeran Jawa bernama Ki Ageng Suryomentaram rela keluar dari keraton dan menjalani kehidupan sebagai orang biasa hanya untuk mencoba memahami apa itu Rasa. Lebih dari 40 tahun pengembaraan dirinya difokuskan untuk mengetahui apa itu rasa. Beliau menuliskan pengembaraan selama itu dalam tulisan-tulisan yang bernilai pengetahuan sangat tinggi.

Benarkah Rasa dapat menyebabkan pembentukan realita di alam nyata?

Di zaman modern ini, ketika ilmu pengetahuan sudah sedemikian canggih dan berkembang luar biasa, manusia banyak mengembangkan alat-alat modern yang mendukung penelitian-penelitian tingkat tinggi. Terdapat tiga penelitian yang berbeda, yang dikerjakan oleh tiga tim ilmuwan dengan disiplin ilmu yang berbeda telah membuktikan sesuatu yang luar biasa pada masing-masingnya. Namun apabila ketiga penelitian tersebut dihubungkan, sesuatu yang mengejutkan terjadi, sesuatu yang tersembunyi kini mulai nampak terang benderang.

Salah satu penelitian yang dilakukan adalah mengenai emosi pada manusia, atau kalau disederhanakan adalah ‘rasa pada manusia’. Selanjutnya, saya akan menggunakan frase tersebut pada tulisan saya berikutnya.

Rasa pada manusia secara literal membentuk dunia nyata disekeliling kita. Tidak hanya sekedar persepsi terhadap dunia, melainkan kenyataan akan dunia itu sendiri.

Pada eksperimen pertama, DNA relawan diambil lalui dilakukan isolasi pada sebuah tempat yang tertutup rapat. Tempat yang berisi DNA ini kemudian diletakkan pada ruangan lain didekat relawan tersebut. Ilmuwan kemudian memberikan stimulus kepada relawan tersebut dengan beberapa jenis rasa yang dapat membangkitkan emosi. Hasilnya sangat mencengangkan, emosi rasa yang terjadi pada relawan tersebut berpengaruh terhadap DNA miliknya yang sudah diletakkan pada tempat lain. Ilmuwan ini kemudian membandingkan stimulus rasa yang diberikan kepada relawan dalam bentuk stimulus yang membangkitkan perasaan negatif dan stimulus yang membangkitkan perasaan positif. Pada stimulus yang membangkitkan perasaan negatif, struktur DNA ternyata menjadi tegang. Sedangkan pada stimulus yang membangkitkan perasaan positif, struktur DNA menjadi tenang.

Para ilmuwan pada eksperimen pertama ini menyimpulkan bahwa “Emosi manusia menghasilkan efek yang menentang hukum konvensional fisika”.

Pada eksperimen kedua, dilakukan oleh ilmuwan yang berbeda yang tidak terkait dengan eksperimen yang pertama, melakukan ekstraksi/penyulingan sel darah putih (Leukosit) dari relawan dan meletakkan pada sebuah ruang A agar dapat diukur perubahan listrik yang ada di dalamnya. Pada eksperimen ini, relawan diletakkan pada ruang B dan kemudian diberikan stimulus dalam bentuk video klip yang dapat membangkitkan sebuah perasaan tertentu pada dirinya. DNA keduanya kemudian diukur untuk melihat tinggi rendanya perubahan listrik yang terjadi pada keduanya sesaat setelah stimulus emosi tersebut terjadi. Hasilnya adalah kedua DNA menghasilkan respon perubahan listrik yang sama persis pada waktu yang sama. Tidak ada selisih waktu dan tidak ada jeda transmisi waktu. Tinggi rendahnya respon perubahan listrik yang diukur menghasilkan bentuk kurva yang sama persis antara keduanya. Padahal kedua DNA terpisah satu sama lain secara fisik. Lebih lanjut, ilmuwan ingin tahu sejauh mana pengaruh ini apabila DNA dipisahkan berdasarkan lokasi fisik geografis yag lebih jauh? Apakah akan menghasilkan efek yang sama dengan sebelumnya? Kemudian ilmuwan memisahkan DNA ini pada sebuah lokasi yang berjarak sejauh 50 mil. Hasilnya tetap tidak berubah meskipun jarak yang terbentang sangat jauh. Tidak ada selisih waktu dan tidak ada jeda transmisi waktu. Semua terjadi sekejap sesaat setelah stimulus emosi dilakukan dan terjadi perubahan rasa pada diri relawan.

Para ilmuwan pada eksperimen kedua ini menyimpulkan bahwa DNA dapat berkomunikasi satu sama lain tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu.

Pada eksperimen ketiga, yang dilakukan oleh ilmuwan yang berbeda, melakukan observasi mengenai bagaimana pengaruh DNA terhadap dunia nyata. Dilakukanlah percobaan yang melibatkan cahaya disekitar kita. Cahaya, merupakan dunia nyata. Secara fisika didalamnya berisi foton. Oleh ilmuwan tersebut, foton cahaya diteliti di dalam sebuah ruang hampa. Lokasi foton cahaya di dalam ruang hampa ini bersifat dan bertingkah acak. DNA relawan kemudian dimasukkan ke dalam ruang hampa yang berisi foton tersebut. Secara mengejutkan, foton cahaya yang ada di dalam ruang hampa tersebut tidak lagi bertingkah acak. Mereka membentuk wujud geometri dari DNA. Ilmuwan yang melakukan penelitian ini kemudian menggambarkan bahwa foton-foton mendadak berperilaku “mengejutkan dan tidak masuk akal”. Lebih jauh lagi para ilmuwan ini mengatakan, “Kami dipaksa untuk menerima adanya kemungkinan sebuah bentuk medan energi baru!”.

Para ilmuwa pada eksperimen ketiga ini menyimpulkan bahwa DNA manusia secara literal/harfiah mampu mempengaruhi foton-foton cahaya yang ada disekeliling mereka. Hal ini berarti bahwa dunia nyata terpengaruh oleh stimulus rasa yang terjadi pada manusia.

Apabila ketiga eksperimen yang saya jelaskan diatas dihubungkan satu sama lain maka akan menghasilkan sebuah kenyataan yang mengejutkan. Terdapat tiga hal yang dapat dipahami sebagai berikut:

  1. Bahwa rasa kita berpengaruh besar terhadap perubahan DNA
  2. DNA dapat terhubung satu sama lain tanpa terikat oleh ruang dan waktu
  3. Setiap perubahan DNA berpengaruh terhadap dunia nyata yang ada disekeliling kita

Kesimpulannya, kita membuat kenyataan bagi diri kita berdasarkan rasa apa yang akan kita pilih untuk itu.

Maka kehati-hatian orang Jawa yang mempraktekkan ajaran ilmu Jawa dalam konteks Rasa, ternyata sangat modern dan jauh melampuai zamannya. Bahwa Rasa dapat mempengaruhi alam nyata, secara harfiah/literal adalah benar adanya. Bukan hanya sekedar kemungkinan atau efek psikologis semata. Maka kita bisa memahami bahwa jenis ilmu-ilmu tertentu yang tergolong apakah itu kanuragan maupun kasepuhan yang melibatkan suatu fenomena yang dikenal sebagai supranatural sesungguhnya adalah benar adanya. Hanya saja barangkali nalar kita belum bisa mencapai pemahaman kesana. Bisa karena pengetahuannya yang belum sampai, ataupun belum berhasil dirasakan oleh diri kita. Maka ujaran khas Jawa yang berbunyi ‘ngelmu iku kelakone kanthi laku’ menjadi sangat masuk akal. Dengan menjalani, seseorang akan menjadi semakin memahami Rasa pada dirinya. Dengan memahami Rasa yang ada pada dirinya berarti seseorang belajar memahami dunia nyata. Dunia yang dalam khasanah Jawa dibagi menjadi ‘jagad cilik’ dan ‘jagad gede’. Para praktisi ini paham benar, bahwa ketika Rasa itu muncul maka sekejap saat itulah dunia nyata terjadi. Muncullah kemudian prinsip kehati-hatian dalam setiap ucapan dan tindakan. Prinsip kehati-hatian ini sering dikenal dengan istilah “Iso rumongso, ojo rumongso iso”.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Sumber:

  1. You Can Change Your DNA (https://www.heartmath.org/articles-of-the-heart/personal-development/you-can-change-your-dna)
  2. DNA Phantom Effect (http://www.bibliotecapleyades.net/ciencia/ciencia_genetica04.htm)
  3. Molecular Signature of Major Depression (http://www.cell.com/current-biology/abstract/S0960-9822%2815%2900322-X)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →