Mengambil Pelajaran dari Kekuatan Semut

MENGAMBIL PELAJARAN DARI SEMUT

Hewan seringkali menggunakan berbagai cara untuk menyelamatkan dirinya dari kemungkinan dimangsa oleh predator. Pertahanan antipredator ini seringkali rumit, membuatnya sulit dipahami kapan sebenarnya asal mula kemampuan ini lahir. Sejenis semut tertentu, yang disebut dengan “semut perangkap rahang” dikenal sebagai semut yang memiliki kecepatan dan kekuatan rahang bawahnya dari ancaman predator, dan bahkan beberapa spesies lainnya telah diteliti dapat secara langsung menjejakkan rahang bawahnya sehingga ia dapat terlontar dengan tinggi ke udara untuk menghindari ancaman. Mekanisme penyelamatan alamiah ini belum pernah ditemukan sebelumnya dialam. Ilmuwan mempelajari kekuatan rahang bawah ini pada semut yang termasuk pada Odontomachus pada saat semut tersebut berinteraksi dengan predator, misalnya pasir jebakan semut. Ilmuwan meneliti bahwa ketika para semut dengan rahang kuat ini berusaha untuk melarikan diri dari pasir jebakan semut terdapat 50% interaksi dengan cara berlari cepat, dan pada saat berlari cepat tersebut 15% nya melakukan lompatan jauh dengan kekuatan rahang bawahnya. Untuk menguji apakah lompatan ini dapat meningkatkan pertahanan hidup, ilmuwan melakukan percobaan untuk mencegah para semut ini melakukan lompatan lalu mengukur tingkat keberhasilan melarikan diri. Para semut yang menggunakan kekuatan rahang bawah secara tidak terkendali (karena adanya ancaman) terlihat lebih signifikan dibanding para semut yang menggunakan rahang secara terkendali. Artinya, lingkungan yang berbahaya memancing lahirnya kemampuan pertahanan diri semut itu secara lebih signifikan dibanding semut yang berada pada lingkungan tidak berbahaya.

Lihat videonya disini: https://www.youtube.com/watch?v=ET4v48deZhs

Menjadi pertanyaan, bagaimana para semut itu menyimpan dan menghasilkan kekuatan seperti itu?

Dalam kaidah ilmu otot dipastikan terjadi pembakaran sejumlah besar energi untuk melakukan itu. Setelah diteliti, ternyata rahang bawah mereka menyimmpang banyak sekali mitokondria. Mitokondria adalah organel tempat berlangsungnya fungsi respirasi sel makhluk hidup selain fungsi lain. Disini tempat dimana ATP nanti dipecah menjadi sejumlah energi. Mitokondria adalah pabrik energi pada level sel. Terjadi eksplosif energi pada rahang bawah tersebut secara sekejap akibat dari rangsangan lingkungan yang berat dan ‘dianggap’ berbahaya. Energi eksplosif ini kemudian dapat melontarkan semut hingga jauh. Silahkan membaca tulisan saya mengenai otot (serat otot kedut cepat dan serat otot kedut lambat) agar lebih jelas.

Jika mengambil analogi semut tersebut pada pemahaman ATP di Merpati Putih, bisa saja didapati praktisi MP yang rutin berlatih olah napas jenis tertentu akan menyebabkan terkumpulnya lebih banyak mitokondria pada bagian-bagian yang rutin dilatih. Terlepas dari bagaimana energi mengalir dan bisa dipergunakan secara bebas, yang ingin saya garis bawahi adalah komposisi jumlah mitokondria pada praktisi MP misalnya di lengannya, atau di telapak tangannya atau di kakinya atau di daerah lain yang rutin dilatih hipotesisnya memiliki kecenderungan lebih banyak dibandingan orang normal dan orang yang tidak rutin melatih. Sehingga ketika bagian otot tersebut dikejangkan (lambat maupun cepat) maka akan menghasilkan reaksi pembangkitan energi yang lebih banyak akibat dari pemecahan ATP yang lebih banyak. Konsekwensi dari jumlah mitokondria yang lebih banyak tentunya akan menghasilkan pemecahan energi yang lebih banyak. Masalahnya, pemecahan ATP ini selain menghasilkan sejumlah energi juga menghasilkan sejumlah kalor/panas. Maka tidak heran, pada latihan-latihan MP materi lama sebelum masuk pada materi getaran dilatihlah terlebih dahulu apa yang disebut dengan PHP (Pengenalan Hawa Panas). Karena sifat dan karakter dari olah napasnya yang dominan menghasilkan hawa panas dibanding hawa dingin. Ini alamiah dan naturalnya efek dari pembangkitan energi via mitokondria. Silahkan membaca tulisan saya mengenai ATP, pengenalan hawa panas, dan napas kering agar dapat memahai lebih detail.

Kaidah MP semestinya lebih canggih dari sistem pertahanan semut tersebut dalam arti adanya kemampuan mengolah rasa untuk menyalurkan, memindahkan, mentransmisikan hasil dari proses pemecahan energi pada mitokondria ini kemanapun. Tentu saja, karena Allah memberikan perangkat yang lebih baik kepada manusia dibandingkan semut. Jika semut, hanya diilhamkan oleh Allah pada rahang bawahnya untuk melakukan pertahanan diri berupa lompatan jauh yang kuat. Maka pada manusia, dengan potensi akal (via imajinasi) dan qolbu (pada rasa), hal-hal yang berhubungan dengan kondisi biologi bisa dikendalikan sesuka hati asalkan dipahami ilmunya, dijalankan latihannya, dan diaplikasikan dalam kehidupan yang baik.

Maha suci Allah yang telah menciptakan semut (An Naml) dan beruntunglah manusia yang bisa mengambil pelajaran daripadanya.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

Referensi:

  1. Trap Jaw Ant research (http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0124871)
  2. Mitochondria and ATP (http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/Biology/mitochondria.html)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →