Pengolahan dalam Beberapa Sudut Pandang

PENGOLAHAN DALAM BEBERAPA SUDUT PANDANG

Oleh: Mas Gunggung

Dalam konteks Kebugaran MP dimana ia bukanlah sebuah ‘ilmu’ melainkan hanya pengembangan keilmuan tingkat dasar, napas Pengolahan dapat diposisikan sebagai 3 hal yakni sebagai berikut:

1. Sebagai sarana peningkat dan pembangkit energi tubuh. Didalamnya dilakukan latihan bentuk gerakan napas Pengolahan yang dibarengi dengan olah napasnya. Gerakan dapat menyesuaikan dengan kemampuan seseorang dalam membentuk postur. Dalam hal ini yang ditekankan adalah pada teknik mengolah napasnya dalam menghasilkan suatu daya energi tertentu. Olah napas MP, merupakan ‘the fastest method on earth’ dalam menghasilkan energi. Idealnya memang seluruh bentuk gerakan dilatih. Namun pada kaidah Kebugaran, ada yang disebut ‘jangan bebankan sesuatu yang orang merasa berat karenanya’. Buatlah jadi lebih ‘ringan’ dengan cara memilihkan bentuk-bentuk yang dirasa mudah dan lebih nyaman untuk dilakukan peserta. Misalnya, jika bentuk 2 terasa berat, maka pelatih mesti membuat tahapan-tahapan toleransi gerakan mulai dari yang paling mudah (misal, berbaring sila) hingga nantinya menuju ke gerakan yang diinginkan. Namun pelatih juga mesti memberitahu peserta bahwa bentuk gerakan tersebut merupakan toleransi gerakan yang diizinkan untuk dilatih di kolatnya dalam rangka menuju gerakan yang sempurna. Dengan diberitahu seperti ini akan muncul kesadaran dan pengetahuan pada diri peserta bahwa saat ia kelak suatu hari nanti mengajarkan kepada yang lain maka diulangilah informasi ini. Perbedaan bentuk gerakan olah napas pengolahan di banyak tempat secara minor sebenarnya mengarah pada toleransi ini. Jadi manakala suatu saat ada peserta daerah lain yang belajar di tempat kita dan melihat bentuk gerakannya sedikit berbeda dan ia memang tidak mampu melakukan yang sempurna maka tetaplah berikan toleransi, namun tetap berikan latihan-latihan tertentu yang mengarah ke bentuk gerakan yang diinginkan. Melatih tidak semua bentuk olah napas Pengolahan MP sesungguhnya sudah bisa dan cukup untuk menghasilkan satu bentuk daya energi tertentu yang dipergunakan untuk membuat tubuh menjadi bugar. Perlahan, ditanamkan kesadaran bahwa bentuk-bentuk gerakan mesti mulai dilatih secara berurutan sebagaimana mestinya. Ini adalah pendekatan yang umum terjadi di kolat-kolat. Pada pendekatan ini, umumnya disebut dengan POWER. Melalui pendekatan ini jugalah lahir pendekatan untuk normalisasi diabetes, tunanetra, butawarna, dll, yakni dengan menggunakan sejumlah energi tertentu yang dihasilkan dari olah napas lalu mengarahkannya menjadi suatu tujuan tertentu. Istilahnya, air di lautan diambil hanya secangkir saja lalu diolah sedemikian rupa hingga bisa menjadi kopi, teh, bajigur, bandrek, dan lain sebagainya.

2. Bentuk-bentuk gerakan yang bersifat Isometric Exercise berdasarkan kajian Fisiologi memungkinkan seseorang melakukan gerakan sebagai sebuah fisioterapi dari sudut pandang perbaikan postur tubuh. Perbaikan postur tubuh ini erat kaitannya dengan kelenturan, kelentukan, kekuatan, fleksibilitas, endurance, dan pikiran. Kenapa Pikiran masuk di dalamnya? Hal ini dikarenakan Isometric Exercise adalah sejenis latihan yang mempertahankan postur tubuh tidak hanya dengan membentuk postur tertentu melainkan juga dengan cara mengkondisikan pikiran agar membentuk postur yang diinginkan. Pada artikel saya terdahulu pernah saya tulis ketika membahas mengenai Hiperbarik Oksigen bahwa di dalam tubuh kita ada sistem syaraf yang luar biasa panjang yang disebut dengan sistem syaraf Vagus. Sistem syaraf ini berada pada otot-otot postural tubuh. Mengaktifkan Pikiran untuk merasakan gerakan sama halnya akan mengkondisikan diri kita untuk mengenal seluruh otot dalam tubuh kita. Response elektrik syaraf melalui imajinasi akan terjadi dan mengalir melalui sistem syaraf Vagus sepanjang otot yang dilatihnya. Inilah yang mendasari prinsip kerja ‘Whole Body Movement’. Ketika sudah ‘tersambung’, maka seseorang bisa dengan mudah ‘meledakkan tenaga’ yang dihasilkan darinya. Dari sudut pandang lebih dalam lagi, bisa masuk konsep teori ATP karena Isometric berurusan dengan otot dan disanalah mitokondria berada. Anda bisa memposisikan bentuk gerakan napas Pengolahan sebagai gerakan-gerakan penunjang perbaikan tubuh mulai dari otot, tulang, dan syaraf. Pada sudut pandang ini, seseorang bisa saja memposisikan napas Pengolahan MP sebagai ‘ala Yoga’. Dalam pandangan saya tidak masalah sebab ada kemiripan bentuk gerakan terjadi disana. Namun karena MP bukan Yoga dan Yoga bukan MP maka cukuplah kita memandang kemiripan ini hanya dari sisi bentuk gerakan saja dan bukan pada internalnya (olah napasnya, filosofinya, kaidah-kaidahnya). Seseorang boleh saja berlatih Yoga diluar MP untuk membuat lebih bagus dan mengerti bagaimana tahapan-tahapan dalam membentuk suatu postur yang ada dalam napas Pengolahan MP. Namun berhentilah sampai disana manakala sudah bisa dilakukan bentuk gerakannya. Sebab kalau diteruskan pada aspek filosofi dan pembangkitan energinya mesti nanti akan berbenturan konsep.

3. Sebagai sarana melatih aspek Psikologis seperti misalnya keyakinan, perubahan hidup, perubahan sudut pandang, dan lain sebagainya. Kapan waktu saya bahas terpisah. Ini sangat berbeda dengan 2 yang saya sebutkan diatas dan sedang kami teliti dan lakukan pengujian terus menerus dan sedang diujicobakan di salah satu kolat. Pada konteks ini, semua hal yang berhubungan dengan istilah Power, Getaran, Kekuatan, dan sejenis itu (aspek kanuragan) benar-benar dihilangkan dan diganti dengan istilah dan aspek psikologis. Pada pendekatan ini, napas Pengolahan MP, demikian juga dengan olah napas yang lain, akan menjadi sebuah solusi psikologis dalam menyelesaikan banyak masalah psikologis secara real. Mengintegrasikan aspek filosofi tanah Jawa pada gerakan olah napas. Istilahnya, ini adalah gabungan dari 1 dan 2 namun dalam sudut pandang yang berbeda. Hasilnya, lahir jenis tenaga yang berbeda dibandingkan tenaga jenis 1 dan 2. Lahir jenis pemahaman yang berbeda dibanding 1 dan 2 namun tetap tidak keluar dari koridor MP dalam membentuk 4 sikap watak sebagaimana amanat sang Guru.

Pada pendekatan nomor 3, kaidah Kebugaran MP yang hanya merupakan aplikasi dari olah napas tingkat dasar dapat cocok dan diterapkan secara penuh. Sedangkan pada pendekatan nomor 2 ada beberapa hal yang masih anomali diantaranya, olah napas yang diberikan banyak yang tidak sesuai dengan tata urutan napas Dasar, terlalu banyak napas sisipan yang diberikan sehingga kelas kebugaran bisa berubah menjadi kelas ‘modus’ dan kelas ‘impian’ akibat dari banyaknya bentuk olah napas diluar tata napas dasar satu. Apabila memang kelas kebugaran dibolehkan memasukkan tata napas lanjutan maka semestinya batasan mengenai ‘kebugaran hanyalah aplikasi dari olah napas tingkat dasar’ harus ditiadakan. Kebugaran berisi ‘racikan’ olah napas dari berbagai tingkatan sedemikian rupa. Inilah anomali yang saya maksudkan. Jika memang ingin konsisten dengan istilah ‘kebugaran hanyalah aplikasi dari olah napas tingkat dasar’ maka perlu dilakukan evaluasi dan penyusunan ulang urutan latihan, metode, dan tahapan-tahapannya. Inilah yang saya lakukan dengan pendekatan nomor 3. Hasilnya, kaidah kebugaran ini dapat menjadi dasar fundamental pemahaman yang lebih jernih akan ilmu MP untuk kedepannya.

Namun memang melakukan evaluasi adalah hal yang terberat untuk dilakukan. Melakukan evaluasi pada dasarnya melakukan koreksi, dan tidak semua orang suka dikoreksi. Menjadi sulit karena mengkoreksi MP ya sama seperti mengkoreksi diri sendiri. Kalau diri sendiri tidak siap untuk dikoreksi dan dievaluasi, maka biasanya yang dicari hanyalah kenyamanan tertentu. Misal, nyaman dengan posisi, nyaman dengan tingkatan, nyaman dengan apapun. Atau dirasa sudah ‘sempurna’ sehingga tidak diperlukan perbaikan-perbaikan atau evaluasi. Pada kondisi ini praktis evaluasi akan terhenti. Terhentinya evaluasi sebenarnya membuat terhentinya kemajuan. Kita bisa tidak harus ‘terluka’ saat dilakukan evaluasi manakala kita memahami benar bahwa ilmu ini hanya titipan dan sesuatu yang dititipi mesti dijaga dengan baik dan dilakukan perbaikan apabila dirasa ada masalah.

Misalnya begini, apabila kita dititipi mobil tua dan saat itu kita tidak punya pemahaman mengenai ilmu mobil tua maka yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga dan merawat mobil tua itu dengan mencuci bersih secara rutin tiap beberapa hari sekali. Kalau kita punya ilmu cara mengemudi mobil, maka kita mulai rutin memanasi mesinnya beberapa hari sekali dan membawa jalan. Kalau kemudian kita mengetahui ilmu perawatan mobil, maka mulailah kita sering mengganti oli, mengisi bensin, air karburator, dan lain-lain sendiri. Kalau kemudian kita mengetahui ilmu mengenai mesin mobil tua, maka mulailah kita melihat dan mampu membongkar mesin mobil tua itu, memperbaiki kerusakannya, masalah-masalahnya, lalu menyusunnya kembali hingga berjalan lebih baik. Kalau kita mengetahui ilmu mengenai pengembangan mobil tua, maka mulailah bagian-bagian yang dirasa bermasalah kita gantikan ketika dirasa bermasalah. Jok dijahit lebih rapih tanpa menghilangkan bentuknya, stir mobil dilapisi kulit, di cat ulang tanpa menghilangkan wujud dan warna aslinya, dan sebagainya. Dipilih mana-mana yang dirasa bisa dilakukan perbaikan namun dengan tetap tidak menghilangkan wujud mobil tersebut. Aspek keamanan ditambahkan untuk mencegah bahaya yang akan timbul dari orang-orang yang mengendarainya tanpa memahami aspek keselamatan. Dan lain sebagainya. Demikianlah cara kita merawat mobil tua tersebut. Kalau mobil itu hanya dipakai terus tanpa dipedulikan mesinnya panas apa tidak, bannya bocor apa tidak, sudah tahu bocor tapi masih di gas terus, sudah tahu asap mengepul masih tancap gas, itu artinya kita tidak sedang merawat mobil tersebut malah membuat jadi rusak. Ketika sudah dianggap ‘bobrok’ dengan penuh kesal pengemudinya membanting pintu dan marah ‘dasar mobil bobrok!’. Ketahuilah, itu bukan salah mobilnya. Tapi salah kita yang tidak tahu bagaimana ilmu mobil tua.

Mencintai MP tidak lantas menganggap bahwa ilmunya sudah ‘sempurna’. Kita harus mengakui bahwa segala sesuatu memiliki kekurangan dan kelebihan. Kita harus berusaha meluaskan jalan apa-apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu kita, membersihkan jalan manakala kita melihat ada bahaya yang berada di depan, memudahkan jalan bagi mereka yang akan melaluinya kelak. Sebab ketika jalan itu sudah aman, bersih, rapi, maka percayalah bahwa segala kebaikan dan pahala akan mengalir pada siapapun yang membuka jalan itu pertama kalinya. Semua akan mendapatkan kebaikan darinya. Para guru dan senior sebagai pembuka jalan, kita sebagai penerus jalan dan yang ikut memperbaiki jalan, dan kelak para penerus MP sebagai mereka yang akan menggunakan jalan tersebut.

Semoga bermanfaat dan menjadikan perenungan.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →