Ilmu Hakekat Hati Nuklir

ILMU HAKEKAT HATI NUKLIR

Nuklir, merupakan sejenis energi potensial dari suatu partikel seperti proton dan neutron yang ada di dalam suatu inti atom. Energi ini menahan proton dan neutron bersama-sama dalam membentuk inti. Partikel nuklir seperti misalnya proton dan neutron dilekatkan bersama dengan suatu energi nuklir yang sangat kuat.

Sejumlah besar energi nuklir akan dilepaskan dalam bentuk panas dan cahaya ketika dua atau lebih inti atom bergabung untuk membentuk inti yang lebih besar atau ketika sebuah inti terbagi/terpecah menjadi inti-inti yang lebih kecil. Proses penggabungan atau pemecahan inti atom ini disebut dengan proses Fusi dan Fisi.

Proses dimana dua atau lebih inti atom bergabung menjadi atom yang lebih besar disebut dengan proses Fusi Nuklir. Sedangkan proses dimana sebuah inti atom terpecah menjadi beberapa atom yang lebih kecil disebut dengan proses Fisi Nuklir.

Partikel nuklir seperti proton dan neutron tidak pernah hancur pada saat proses Fusi Nuklir maupun Fisi Nuklir melainkan sekumpulan dari mereka memiliki massa yang lebih lebih sedikit dibandingkan apabila mereka berdiri sendiri secara bebas. Perbedaan massa ini akan menghasilkan reaksi nuklir berupa pembebasan sejumlah panas dan radiasi.

Ada sangat banyak disiplin ilmu dan pengetahuan mengenai Nuklir ini akan tetap saya tidak akan membahas sangat detail. Hanya pokok-pokok utama yang saya tulis diatas yang ingin saya jelaskan dan bagaimana ia memiliki hakekat yang sangat mirip dengan apa yang terjadi pada “pikiran” manusia.

Saya akan coba jelaskan bagaimana korelasinya.

Pada tulisan terdahulu, saya paparkan banyak hal dan aspek pengetahuan mengenai “pikiran” yang ada didalam “otak” manusia. Paling tidak, diketahui ada 3 “otak” yang mesti difungsikan dan disenergikan secara baik pada diri kita yakni pada “otak kepala, otak jantung, dan otak perut”. “Otak” yang terkuat dan menjadi sumber dari segala penilaian tindakan manusia ada di dalam hatinya. Hati yang dimaksud disini bukanlah lever, melainkan qolbu (Islam) atau roso sak jroning roso (Jawa) atau naluri (Indonesia) atau heart brain (Barat). Jadi, ketika berbicara mengenai istilah “Hati” dalam konteks Merpati Putih mesti harus dipahami bersama yang dimaksud dengannya adalah qolbu/roso sak jroning roso/naluri/heart brain.

Pada khasanah tanah Jawa, khususnya yang berhubungan dengan ilmu tanah Jawa, ada beberapa periodisasi pengetahuan yang sebenarnya mesti dipelajari dan dipahami oleh praktisinya. Pemahaman akan periodisasi ini akan memudahkan untuk melakukan filtering atau penyaringan informasi dan pengetahuan akan suatu hal. Periodisasi yang terjadi pada tanah Jawa pada umumnya terjadi pada 3 masa yakni masa Pra Hindu, masa Hindu/Budha, dan masa Islam. Penggunaan istilah-istilah yang digunakan didalam suatu keilmuan tanah Jawa akan bisa membawa kita mengetahui bagaimana suasana kebatinan dan pengetahuan istilah tersebut dipakai pada masa yang mana. Pada tiap masa/periodisasi ada yang disebut dengan akulturasi. Akulturasi ini bisa berbentuk serapan makna, penyaringan, penggantian makna (substitusi), pengayaan makna, dan sebagainya. Maka ketika suatu istilah dipergunakan pada suatu masa namun memiliki pemahaman dan suasana kebatinan yang berbeda dengan masa itu perlu untuk dicermati apakah ia merupakan akulturasi atau serapan atau penyaringan makna atau sejenis dengan itu.

Dengan memahami hakekat ini maka cara kita memandang suatu keilmuan tanah Jawa menjadi semakin jelas dan terang benderang. Seperti misalnya konsep unsur yang dikenal pada tanah Jawa. Saya coba mengambil contoh beberapa pemahaman mengenainya.

Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur yakni Tanah, Air, Angin, Api, dan Eter maka sesungguhnya pemahaman aslinya berasal dari agama Siwa. Beberapa pemahaman pada ajaran Budha juga menggunakan Tanah, Air, Angin, Api, dan Eter, beberapa lagi Kosong. Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur yakni Tanah, Air, Angin, Api, dan Hampa (Akasha) maka rujukannya berasal dari agama Hindu. Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur yakni Tanah, Air, Kayu, Api, dan Besi maka rujukannya berasal dari Wu Xing (Tao, China). Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur yakni Padat (tanah), Cair (air), Gas (angin), dan Plasma (Api) maka rujukannya berasal dari sains. Apabila seseorang mengatakan suatu pemahamannya akan unsur Tanah, Air, Angin, Api, dan Nur/Cahaya maka rujukannya diambil dari konsep Tasawuf Islam.

Kalau kita melihat, ada kesamaan yakni adanya 4 unsur alam utama yakni Tanah, Air, Angin, dan Api. Namun penambahan satu unsur lainnya atau lebih bergantung pada tradisi apa yang akan kita gunakan. Ilmu mengenai empat unsur alam tersebut tersangat sangat tersebar luas dalam sejarah dan budaya manusia. Ia wujud pada hampir setiap peradaban dan digunakan secara meluas dalam bidang kerohanian, pengobatan, metafisik dan lain-lain. Maka memahami darimana istilah tersebut digunakan akan memberikan pengetahuan kepada kita secara lebih baik bagaimana sudut pandang dan suasana kebatinan hal itu dipergunakan. Ada sisi akulturasi yang membuat sebuah istilah masih menggunakan istilah periodisasi yang lalu sedangkan isinya sudah diganti dengan periodisasi yang baru. Ini bisa saja. Seperti misalnya memposisikan pemahaman mengenai Hampa/Akasha/Kosong/Suwung. Tradisi Budha, Hindu, China, mengenal istilah ini. Demikian juga dengan Islam. Namun ada perbedaan pada bagaimana tradisi ini menterjemahkan makna Hampa/Akasha/Kosong/Suwung. Kapan waktu saya ulas terpisah.

Kembali kepada keterkaitan antara Fusi Nuklir dan Fisi Nuklir dimana yang Fusi berasal dari “luar ke dalam” sedangkan Fisi berasal dari “dalam ke luar” hal ini mengingatkan saya pada pengetahuan di dalam pemahaman Islam mengenai Taufik dan Hidayah. Saya berusaha mencari padanan pengetahuan dalam khasanan non Islam namun belum menemukan referensi yang menjelaskan keterkaitan dengannya.

Ada hal-hal yang memang sudah ditanamkan atau dibenamkan oleh Allah kepada diri kita yang mesti kita gali dan kembangkan terus menerus agar menjadi terwujudnya amal-amal baik. Inilah Taufik. Bersifat dari “dalam ke luar”. Energi potensial. Tinggal digali semua potensi-potensi baik dan kebaikannya. Ada pula hal-hal yang bersifat memberikan petunjuk atau bimbingan dari Allah sehingga akan mampu membuat potensi Taufik terbangkitkan secara baik, inilah Hidayah. Bersifat dari “luar ke dalam”. Namun khusus bagi Hidayah, dalam konteks Islam adalah murni urusan Allah melalui petunjukNya atau bimbinganNya secara tertentu.

Sederhananya Hidayah merupakan hakekat dari “Fusi Nuklir” (luar ke dalam) sedangkan Taufik merupakan hakekat dari “Fisi Nuklir” (dalam ke luar) manakala dilihat dari konteks ini.

Manakala seseorang berhasil menggali potensi-potensi baik pada dirinya melalui suatu jalan (laku dalam terminologi Jawa) maka pada dasarnya ia berusaha sedang menggali potensi Taufik pada dirinya. Sementara kegiatan-kegiatan untuk mendengarkan wejangan, berdiskusi, membaca, mentadaburri alam semesta, atau sejenis dengan itu (pemikiran, perenungan) merupakan jalan untuk mendapatkan Hidayah. Dan Hidayah selalu akan menghasilkan bangkitnya potensi Taufik. Produknya adalah terwujudnya nilai-nilai kebaikan atau ketaatan dalam berbuat baik sesuai jalan ketuhanan (titising hening).

Reaksi orang-orang yang mendapatkan Taufik dan Hidayah mirip seperti reaksi atom dimana ego orang itu akan luluhlantak tergantikan menjadi suatu kebaikan menuju jalan Tuhan (titising hening) atau menjadi semakin tumbuh subur dan menguatnya keyakinan seseorang dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan baik. Kedua proses ini (Fusi maupun Fisi) menghasilkan sejumlah energi yang sangat besar. Semakin kuat dan berantai reaksi nuklirnya maka semakin besar juga energi yang dihasilkan.

Hati kita, hakekatnya adalah “hati nuklir”. Didalamnya terdapat dan terjadi reaksi Fusi dan atau Fisi secara terus menerus tanpa disadari. Baik itu reaksi secara fisik maupun hakekat. Sebagai sebuah “hati nuklir” maka perubahan seseorang manakala mendapatkan Taufik dan Hidayah akan sangat dahsyat dan menghasilkan energi yang begitu besar. Terbentuknya banyak “inti atom” kebaikan yang memecah sedemikian rupa dengan energi tinggi. Mudahnya melakukan kebaikan dan mewujudkan kebaikan. Pikiran kita, hakekatnya juga “pikiran nuklir” yang manakala sudah terbuka maka ia akan menjadi lompatan-lompatan energi baik dan berwujud menjadi pikiran baik.

Sama halnya dengan ‘Iqro (bacalah) atau bisa kita maknakan dalam bahasa Jawa dengan ‘mersudilah’, namun ‘Iqro tidak akan bisa dilakukan dengan baik manakala ‘bismi robbik’ tidak dijalankan. ‘Iqro (bacalah) baru bisa dimengerti dan dipahami ketika kita ‘membaca dengan nama Tuhanmu’. Arah dan tujuannya jelas. Sangkan paraning dumadi, tahu darimana dan kemana ia akan kembali. Mersudi, tidak akan bisa dilakukan dengan baik manakala tidak dengan ‘titising hening’. Maka dalam khasanah Islam selalu kita diajarkan untuk berdoa “tunjukilah kami jalan yang lurus” atau dengan kata lain kita selalu meminta agar mersudi kita ditunjukkan berdasarkan dan menuju titising hening.

Seseorang bisa melakukan proses ‘mersudi’ untuk menggali potensi Taufik pada dirinya. Namun tanpa adanya wujud amal-amal baik maka proses ‘mersudi’ ini akan sulit untuk berkembang menjadi Hidayah. Jadi, ketika seseorang mengatakan bahwa ia sedang mersudi maka pada hakekatnya ia sedang melakukan dua hal yakni berusaha menggali Taufik dan atau berusaha mendapatkan Hidayah.

Sekali lagi, penjelasan itu adalah dari sudut pandang pribadi. Kalau ada yang keliru, jangan diambil. Sekedar perjalanan pribadi dalam memahami. Tidak lebih.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →