Ilmu Limfatik – Bagian 2

ILMU LIMFATIK
(Bagian 2)

Pada bagian pertama saya jelaskan hal-hal yang berhubungan dengan sistem Limfatik atau apa yang kita kenal sebagai sistem Kelenjar Getah Bening. Saya coba ringkas ulang. Dalam tubuh manusia terdapat 2 sistem peredaran besar yakni sistem peredaran darah dan sistem kelenjar getah bening.

Sistem Peredaran Darah saya istilahkan dengan Sirkulasi Merah, sedangkan Sistem Kelenjar Getah Bening atau Limfatik saya istilahkan dengan Sirkulasi Putih. Keduanya memiliki manfaat yang saling melengkapi karena keduanya adalah satu kesatuan. Sirkulasi Merah berpotensi untuk menghasilkan energi. Namun setiap energi menghasilkan ‘limbah buangan’. Sementara Sirkulasi Putih berpotensi untuk melepas, membuang, menetralisir semua ‘limbah buangan’ yang dihasilkan oleh Sirkulasi Merah. Tidak hanya itu, Sirkulasi Putih juga menghasilkan kekuatan berupa daya imunitas tinggi manakala dijaga secara benar. Jika diibaratkan rumah, maka Sirkulasi Merah adalah ‘kran air’ sedangkan Sirkulasi Putih adalah ‘saluran-saluran’. Apabila ‘kran air’ macet, maka periksalah juga ‘saluran-saluran’nya karena bisa jadi macetnya kran ini karena salurannya tersumbat. Semua proses ‘memasak’ dan apapun yang terjadi didalam rumah umumnya akan ‘dibuang’ melalui ‘saluran-saluran’ ini. Maka menjaga kebersihan ‘saluran-saluran’ agar tidak tersumbat merupakan suatu keharusan.

Sirkulasi Putih memiliki panjang 2x atau lebih dibandingkan Sirkulasi Merah. Artinya, jalur Sirkulasi Putih yang dimiliki tubuh ini jauh lebih panjang dibandingkan sistem peredaran darah merah yang ada.

Dari literatur yang saya kumpulkan, proses pembersihan Sirkulasi Putih (Limfatik) terdapat paling tidak 15 (lima belas) cara sebagai berikut:

  1. Latihan fisik dan bergerak secara fisik
  2. Mandi air hangat kemudian air dingin
  3. Mengurangi konsumsi untuk semua jenis produk susu
  4. Pemijatan pada Sirkulasi Putih (kelenjar getah bening)
  5. Konsumsi cuka apel
  6. Mengurangi protein
  7. Sauna
  8. Astringen (melakukan kontraksi kulit)
  9. Menggosok lokasi kelenjar getah bening
  10. Herbal alami
  11. Sayuran dan buah-buahan organik (alami tanpa pestisida, dan bukan modifikasi genetik)
  12. Tidak menggunakan anti bau badan
  13. Berpikir positif
  14. Menghentikan penggunaan obat-obatan terlarang
  15. Seimbang dalam pola makan

Saya tidak ingin membahas semua namun hanya beberapa saja yang kebetulan saya jalankan di kelas Kebugaran saya yakni point 1, 4, 8, 11, dan 13.

Tinjauan pertama dilihat dari kaidah gerak yakni Latihan Fisik Yang Bergerak.

Apabila setelah bangun tidur kita merasa tubuh kita terasa kaku bahkan terasa sangat kaku di beberapa tempat maka berhati-hatilah karena Sirkulasi Putih (kelenjar getah bening) kita mulai ‘menjerit’. Kalau saat bangun tidur terasa kaku ringan-ringan saja, tidak ada nyeri atau diluar batas, maka itu artinya tubuh kita baru ‘berbisik’. Dengarkanlah ‘bisikan’ tersebut, jangan tunggu tubuh kita ‘menjerit’. Segeralah bergerak melakukan senam-senam ringan.

Apabila dilihat dari prinsip gerak, dalam pengalaman saya (sekali lagi ini adalah pengalaman pribadi yang bisa saja berbeda dengan yang Anda alami), gerakan Napas Pengolahan maupun Pembinaan belum cukup untuk membuat Sirkulasi Putih berfungsi maksimal. Pengalaman ini terjadi pada salah satu peserta yang mengalami masalah pada kelenjar getah beningnya. Gerakan napas Pengolahan maupun Pembinaan adalah bentuk gerakan Isometric yang menggunakan otot postural dalam mempertahankan suatu postur tertentu. Gerakan Isometric ini justru akan dominan mengaktifkan Sirkulasi Merah dibanding Sirkulasi Putih.

Lalu bagaimana solusinya? Yakni dengan melakukan Sirkulasi Merah terlebih dahulu barulah kemudian menjalani latihan Sirkulasi Putih. Dengan kata lain, melakukan olah napas terlebih dahulu baru melakukan rangkaian gerakan.

Gerakan yang bagaimana yang baik dilakukan dalam konteks ini? Dalam pengalaman saya, ada 2 jenis sebagai berikut:

  1. Melakukan latihan rangkaian gerak
  2. Berjalan kaki

Silahkan mana yang dipilih yang dirasa lebih mudah.

Dalam studi kasus saya, pendekatan point nomor 2 (berjalan kaki) menghasilkan pemulihan yang sangat cepat dibandingkan point nomor 1. Hal ini dikarenakan kecilnya ‘blocking’ pada pikiran ketika menjalani aktivitas nomor 2 dibanding nomor 1. Aktivitas berjalan kaki sangatlah mudah dilakukan dan hampir tidak ada beban apapun. Sementara aktivitas Rangkaian Gerak perlu adanya menghafal gerakan-gerakan tertentu lebih dahulu kemudian menirunya dan melakukan berulang-ulang. Bagi peserta manula, menghafal gerakan adalah masalah tersendiri. Sebuah latihan mesti dibuat sederhana namun berisi manfaat-manfaat maksimal.

Pada tata gerak MP memiliki karakter yang berbeda dengan tata gerak silat Sunda atau silat Minang. Pada silat Sunda atau silat Minang biasanya ada gerakan yang menepuk kulit atau bagian tubuh tertentu (sikut, telapak kaki, lengan, dada, rusuk dalam, dll) yang menimbulkan bunyi ‘plek’ atau ‘plak’ pada gerakan jurusnya. Beberapa silat Betawi juga melakukan ini. Dalam konteks sistem Limfatik hal ini sebenarnya masuk pada kategori Pemijatan Kelenjar Limfatik (salah satu aspeknya adalah pemijatan melalui tepukan). Namun rangkaian tata gerak MP tidak punya yang seperti itu. Maka gerakannya mesti dipilih sedemikian rupa yang mengenai bagian-bagian kelenjar getah bening dengan konsentrasi yang besar seperti di leher, ketiak, tengah dada, pangkal paha, dan limpa. Bisa dipilih gerakan-gerakan berdasarkan tata gerak MP seperti misalnya Tebasan Datar, Tebangan Datar, Tebangan Kebawah, Sodokan Melingkar, Sodokan Silang, Sodokan Keatas, Ujung Siku Keatas, Srimpet, dsb, yang memungkinkan konsentrasi kelenjar getah bening tersebut bergerak.

Pada saat melakukan aktivitas Napas Pengolahan maupun Pembinaan, terjadi pada diri kita kondisi yang disebut dengan Astringen (jaringan kulit berkontraksi) yakni pada saat pengejangan dan pengendoran. Saat bagian tubuh mengejang, maka bagian kulit ikut berkontraksi. Demikian juga saat mengendor, maka bagian kulit ikut juga berkontraksi. Pada saat melakukan gerakan tersebut rangsangan pada kelenjar getah bening (limfatik) terjadi.

Saat melakukan bentuk gerakan olah napas juga penting untuk menjaga pikiran agar tidak terbebani. Seringkali kita tidak sadar kalau olah napas itu sudah menjadi beban sedari awalnya. Mulut kita bisa saja mengatakan tidak, tetapi pikiran kita sesungguhnya menganggap gerakan itu sebagai beban. Beban pada pikiran akan otomatis ikut membebani tubuh. Maka diperlukan kondisi penyikapan yang tepat pada setiap latihan olah napas. Bagaimanakah kondisi penyikapan tersebut? Yakni melakukan latihan dengan pikiran positif dan dengan rasa senang gembira suka cita. Dengan demikian terjadilah reaksi pada Sirkulasi Putih melalui pikiran yang positif.

Kebahagiaan akan meningkatkan imunitas tubuh.

Sederhananya, kalau ingin terjadi peningkatan kesehatan secara maksimal pada kelas Kebugaran yang kita pegang (bagi yang melatih kelas Kebugaran MP), untuk pasien yg menderita masalah kelenjar getah bening maka lakukan terlebih dahulu olah napas (kadar ringan, sedang, atau berat bergantung waktu dan kebutuhan) dan setelah itu dilanjutkan dengan aktivitas Berjalan Kaki 10-15 menit.

Menjadi pertanyaan, apakah kalau langsung berjalan kaki saja hasilnya juga baik? Tentu saja. Namun dalam pengamatan saya (sekali lagi ini adalah pengalaman pribadi) hasil terbaik dicapai melalui pendekatan Olah Napas dulu baru kemudian Berjalan Kaki atau melakukan Rangkaian Gerakan tertentu yang dirancang sedemikian rupa.

Hal-hal lain yang menjadi perhatian saya adalah mengenai pola makan. Seperti yang pernah saya jelaskan sebelumnya mengenai konsep Aerobik dan Anaerobik di tulisan berjudul Napas Kering MP, bahwa terjadi irisan sedemikian rupa antara aerobik menunju anaerobik. Irisannya bisa saya jelaskan sebagai berikut, bahwa dalam latihan olah napas Pengolahan ketika napas sudah dirasa ‘habis’ maka praktisi mesti menahan lagi selama 3-5 detik terakhir sebelum kemudian membuang napas dan menstabilkan napasnya. Kondisi menahan lagi 3-5 detik adalah kondisi anaerobik ekstrim. Pada tahap itu, secara teoritis, darah berubah sifat menjadi lebih asam dibanding sebelumnya. Maka selesai latihan disarankan untuk mengkonsumsi buah-buahan atau sayuran atau makanan yang membentuk basa/alkali. Silahkan bisa dilihat artikel saya mengenai itu. Menjaga pola makan yang bersifat alkali/basa adalah juga sebagai perbaikan terhadap masalah kelenjar getah bening atau sirkulasi Putih ini. Dengan demikian, latihan Kebugaran MP memiliki manfaat yang optimal, menghasilkan percepatan pemulihan yang tinggi, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan dari sisi ilmu kesehatan.

Semoga bermanfaat.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →