Ilmu Kekebalan Tubuh

ILMU KEKEBALAN TUBUH

Pada tulisan sebelumnya saya membahas mengenai Sirkulasi Merah dan Sirkulasi Putih dimana sirkulasi merah merupakan sirkulasi sel darah merah yang dimulai dari jantung dan kembali ke jantung melalui pembuluh sedangkan sirkulasi putih merupakan kelenjar getah bening (limfatik) yang menghasilkan kemampuan perlindungan terhadap semua limbah beracun dan berbahaya yang dihasilkan oleh sirkulasi merah.

Salah satu aspek yang dimiliki oleh sistem Limfatik adalah kekebalan tubuh. Maka penting untuk memahami bagaimana kekebalan tubuh ini bekerja.

Didalam tubuh kita terdapat sistem yang disebut dengan sistem kekebalan tubuh atau yang sering kita kenal dengan istilah sistem imun. Tubuh manusia adalah ciptaan Allah SWT yang luar biasa kompleks namun sempurna. Dihadirkan olehNya sebuah sistem pertahanan nan canggih dalam melawan berbagai bakteri, virus, dan penyakit. Kehidupan kita di dunia tidak akan terlepas dengan berbagai hal yang membahayakan diri seperti misalnya para pembawa infeksi dan bibit penyakit. Untuk itulah sistem imun dihadirkan secara berlapis-lapis dalam rangka menjadi sebuah mekanisme pertahanan.

Sistem kekebalan pada tubuh atau saya singkat saja sistem imun terdiri dari 2 (dua) golongan besar yakni Sistem Imun Bawaan (SIB) dan Sistem Imun Adaptif (SIA). Sistem Imun Bawaan merupakan pertahanan pertama terhadap semua organisme yang akan berusaha menimbulkan kerusakan di tubuh kita. Sementara Sistem Imun Adaptif berfungsi sebagai pertahanan lapis kedua terhadap jenis-jenis penyakit yang menyerang Sistem Imun Bawaan. Pada keduanya terdapat komponen selular dan cairan tubuh yang bertugas membawa fungsi perlindungan. Sebagai tambahan, Sistem Imun Bawaan juga memiliki kemampuan anatomi yang berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi. Meskipun kedua sistem ini memiliki fungsi yang yang berbeda namun ada hubungan yang saling mempengaruhi diantara keduanya. Misalnya, komponen pada Sistem Imun Bawaan dapat mempengaruhi Sistem Imun Adaptif dan demikian juga sebaliknya.

Meskipun kedua sistem imun ini memiliki fungsi yang sama untuk melindungi tubuh terhadap serangan organisme penyebab penyakit, mereka memiliki karakteristik yang berbeda pada keduanya. Sistem Imun Adaptif memerlukan beberapa waktu untuk bereaksi dalam menghadapi organisme penyebab penyakit, sementara Sistem Imun Bawaan umumnya akan langsung bereaksi secara otomatis dan termobilisasi untuk langsung menghadapi organisme penyebab penyakit tersebut. Sistem Imun Adaptif merupakan sebuah antigen (antibody generator) spesifik yang hanya akan bereaksi dengan organisme penyebab penyakit tertentu yang memicu respon. Sebaliknya, Sistem Imun Bawaan bukanlah sebuah antigen spesifik dan ia akan bereaksi secara sama baiknya terhadap beragam jenis organisme penyebab penyakit. Sistem Imun Adaptif menunjukkan sebuah kemampuan dalam menyimpan apa yang disebut dengan “memori kekebalan tubuh”. Ia akan mampu “mengingat” apa-apa yang menyerang dirinya, dan bagaimana mekanisme pertahanan diluncurkan. Berikutnya, ia akan menjadi lebih aktif dan lebih cepat dalam melawan organisme penyebab penyakit yang sama. Sebaliknya, Sistem Imun Bawaan tidak memiliki kemampuan “memori” tersebut.

Kedua sistem ini memiliki kesamaan yakni bahwa terdapat kemampuan melakukan adaptasi terhadap perubahan jenis organisme penyebab penyakit. Namun tahap adaptasi ini berbeda-beda setiap orang. Seperti kita ketahui bahwa organisme penyebab penyakit mampu melakukan pengubahan sel agar tidak dikenal oleh sistem imun. Namun karena sistem imun punya kemampuan deteksi terhadap adaptasi perubahan ini maka ia akan mampu melakukan mekanisme pertahanan baru untuk melawan organisme penyebab penyakit yang telah mengalami modifikasi ini. Misalnya, seseorang yang mampu bertahan terhadap penyakit campak akan memiliki daya imunitas terhadap sakit ini di kemudian hari. Hal ini dikarenakan pada sistem imunitasnya telah mampu melakukan adaptasi terhadap jenis penyakit tersebut. Bisa dikatakan bahwa Sistem Imun Adaptif yang bekerja pada mekanisme seperti itu yakni untuk menghancurkan setiap molekul beracun dan berbahaya yang asing bagi tuan rumah. Kemampuan untuk membedakan apa yang asing dari apa yang asli pada diri adalah kemampuan mendasar dari Sistem Imun Adaptif.

Tentu saja, tidak semua organisme dan molekul yang masuk ke dalam tubuh dianggap berbahaya bagi tubuh. Pada saat organisme itu dianggap berbahaya bagi tubuh maka barulah Sistem Imun Bawaan diaktifkan. Apabila Sistem Imun Bawaan “menganggap” organisme berbahaya ini dapat diselesaikan dengan Sistem Imun Adaptif maka ia akan memanggil respon Sistem Imun Adaptif pada organisme yang sudah dikenal oleh “memori kekebalan tubuh” tersebut. Artinya, akan ada kondisi dimana ketika Sistem Imun Bawaan kita sangat kuat maka Sistem Imun Adaptif menjadi kurang begitu responsif. Hal ini tidak masalah mengingat Sistem Imun Adaptif sebagai lapis kedua pertahanan setelah Sistem Imun Bawaan. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Sistem Imun Adaptif memiliki kemampuan dalam “mengenali” dan “menyimpan memori kekebalan tubuh” akan suatu organisme dan molekul berbahaya yang pernah masuk ke dalam tubuh.

Setiap segala sesuatu yang mampu memunculkan kemampuan Sistem Imun Adaptif disebut dengan Antigen atau antibody generator. Dalam hal ini, para ilmuwan melakukan banyak sekali percobaan melibatkan hewan untuk menguji sejauh mana tubuh makhluk hidup menghasilkan antigen. Biasanya dengan cara menyuntikkan organisme berbahaya yang disertai sedikit sel imunitas pada tubuh hewan percobaan lalu melihat reaksi/respon imunitas tubuhnya. Kita akan sangat terkejut bahwa banyak sekali kemampuan makhluk hidup dalam menghasilkan antigen. Artinya, daya adaptasi sel memang luar biasa. Pendekatan ini kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai Imunisasi.

Sistem Imun Adaptif dibawa oleh sel darah putih yang disebut dengan Limfosit. Terdapat dua jenis response pada Sistem Imun Adaptif ini yakni respon antibody (sel B) dan respon yang diperantarai oleh sel (sel T). Manakala respon antibody terjadi maka sel B akan diaktifkan untuk mengeluarkan antibodi sejenis protein yang disebut Immunoglobulin. Immunoglobulin ini kemudian akan beredar dalam aliran darah (Sirkulasi Merah) dan menyerap cairan tubuh lainnya termasuk antigen asing. Penyerapan dan pengikatan ini akan melemahkan dan menonaktifkan virus dan mikroba beracun dengan cara memblokir kemampuan virus dan mikroba tersebut untuk mengikat reseptor pada sel inang. Sedangkan pada respon imun yang diperantarai oleh sel (sel T), sel T akan bereaksi langsung pada setiap organisme asing yang ada di permukaan sel inang untuk segera dibasmi sebelum virus mampu melakukan replikasi sel.

Dalam pemahaman saya, sederhananya, Sistem Imun Bawaan (SIB) didapat oleh Sirkulasi Merah sedangkan Sistem Imun Adaptif (SIB) didapat oleh Sirkulasi Putih. Hal ini sedikit banyak bisa menjelaskan kenapa pelatihan olah napas Merpati Putih akan mampu memperkuat imunitas karena fungsi dan kemampuan sel darah merah meningkat. Namun sebagai produk buangannya akan terdapat banyak limbah beracun hasil sirkulasi merah yang harus ditangani benar oleh Sirkulasi Putih sedangkan Sirkulasi Putih dapat ditingkatkan kemampuannya dengan cara menggerakkan seluruh tubuh. Maka memang idealnya latihan untuk pola Kebugaran adalah melatih tata napas dulu barulah kemudian tata gerak dan diakhiri dengan meditasi. Dan latihan juga tidak bisa hanya meditasi statis saja terus. Ada bagian tubuh yang harus digerakkan untuk memaksimalkan fungsinya. Statis dan dinamis harus seimbang agar sirkulasi merah dan sirkulasi putih juga seimbang. Khusus mengenai meditasi kapan waktu akan saya bahas secara terpisah.

Menjadi pertanyaan, apakah yang saat ini berjalan secara umum dimana tata gerak dulu dilatih baru kemudian tata napas itu salah? Ini juga ada beberapa rekan yang menanyakan. Jawaban saya adalah bahwa ada hal-hal yang bersifat baik dan ada yang bersifat baik dan optimal. Yang sudah berjalan selama ini tentu sudah baik, sudah melahirkan banyak kebaikan dan prestasi. Tidak ada masalah dengan itu. Namun apabila ingin dibuat optimal, maka polanya semestinya adalah tata napas dulu barulah kemudian tata gerak dan diakhiri dengan meditasi. Landasan ilmiahnya sudah pernah saya kemukakan, baik itu berdasarkan ilmu Fisiologi mengenai Isometric dan Plyometric ataupun berdasarkan sistem sirkulasi tubuh. Saat ini, saya dan tim kecil sedang menyusun panduan kebugaran berdasarkan kaidah-kaidah yang saya pernah jelaskan sebelumnya. Beberapa malah sudah diujicobakan dengan hasil yang sangat baik. Kapan waktu nanti akan saya bahas secara terpisah.

Lebih jauh lagi, secara hakekat, kemampuan pada Sistem Imun Adaptif yang tinggi ini akan membuat kita memiliki ‘Krei Wojo’ atau ‘Tirai Baja’. Krei Wojo yang dimaksud dalam konteks hakekat Kebugaran ini adalah kemampuan tubuh membendung segala macam penyakit yang akan menyerang dan menyakiti diri. Kemampuan pertahanan diri yang meningkat dan mampu beradaptasi pada semua organisme penyebab penyakit. Krei Wojo jenis ini bukanlah krei wojo dimana tubuh kita kebal dengan pukulan atau senjata tajam, namun memiliki mekanisme pertahanan tingkat tinggi dalam melawan berbagai jenis penyakit.

Sejauh ini, dalam pemahaman saya, terdapat 3 macam jenis ‘Krei Wojo’ yakni Krei Wojo sebagaimana adanya ia dinamakan pada konsep kanuragan yakni kemampuan bertahan dari segala serangan pukulan tendangan dan senjata tajam, lalu Krei Wojo sebagai hakekat Kebugaran yakni kemampuan bertahan dari segala serangan organisme yang menyebabkan penyakit. Dan terakhir, Krei Wojo dalam pemahaman ajaran Ki Ageng Suryomentaram yang menjelaskan adanya kemampuan membendung/menahan serangan pemikiran-pemikiran yang cenderung menyebabkan kerusakan kepribadian sikap watak dan karakter.

Sekali lagi, apa-aa yang saya jelaskan ini sekedar hasil mersudi dan penelitian pribadi dan yang benar-benar saya terapkan pada kelas kebugaran saya. Adapun apabila ada manfaatnya silahkan diambil sebanyak-banyaknya dan apabila ada kekurangan dan kesalahannya silahkan dikoreksi atau diperbaiki. Mari kita sama-sama berbuat memberikan sumbangan bagi Merpati Putih dalam banyak hal termasuk sumbangan pemikiran, sedikit maupun banyak.

Semoga bermanfaat.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →