Pembaharuan, Kaidah Lama dengan Pendekatan Baru

PEMBAHARUAN, KAIDAH LAMA DENGAN PENDEKATAN BARU

Oleh: Mas Gunggung

Saya selip dengan satu selingan sebelum melanjutkan pembahasan mengenai Isometri Exercise dan Plyometric Exercise. Ini hanya sekedar untuk menyegarkan kembali ingatan dan bahwa memang istilah “history repeats itself” (sejarah itu berulang) sebenarnya ya ada benarnya. Mari kita mulai.

Dalam sejarah Merpati Putih, ketika awal mula guru besar mas Poeng hijrah ke Jakarta. Alkisah pada saat itu sedang ada tantangan dari ThaiBoxing mengenai pertandingan beladiri dimana penantang saat itu terkesan sangat merendahkan beladiri lokal (silat). Mas Poeng muda saat itu merasa “terbakar”. Harga dirinya sebagai seorang anak bangsa sekaligus pesilat terusik. Tantangan itupun dilayani mas Poeng. Lokasi tantangan ada di Senayan. Mas Poeng mengatakan dengan sangat lantang bahwa, “Saya Poeng dari Merpati Putih, akan menerima tantangan Anda!”. Namun saat itu sang penantang yang dari Thai Boxing segera “diamankan” oleh Garnisun dibawah pimpinan pak Eddy M Nalapraya. Tidak terima penantanganya menghindar, mas Poeng mengejar. Namun mas Poeng dihalang-halangi oleh banyak pasukan sehingga geraknya terbatas. Akhirnya sang penantang kembali ke Thailand. Sementara mas Poeng masih di Jakarta. Pak Eddy M Nalapraya saat itu segera kembali ke Senayan dan bertemu mas Poeng. Terjadilah dialog antara keduanya yang intinya adalah Mas Poeng mempertanyakan kenapa sang penantang malah diamankan? Padahal ia ingin turun tangan mencoba seperti apa kehebatan beladiri dari negeri 1000 gajah itu. Dijawab oleh pak Eddy M Nalapraya bahwa saat itu hanya untuk kepentingan marketing saja dan bukan sungguhan. Namun mas Poeng yang rasa nasionalismenya terusik tidak terima dengan hal itu. Kisah ini bukan karangan, namun nyata seperti yang dituturkan oleh mas Suprapto dan beberapa saya tanya ke pak Eddy M Nalapraya sendiri. Memang ada sedikit redaksi yang saya tambah, namun tidak mengurangi substansi dari kisah tersebut.

Nun jauh disana, dalam buku mengenai Yi Quan yang menceritakan perjalanan hidup dari Wang Xiangzhai, Yao Zongxun (murid utama Master Wang), dan juga si Kembar Yao (Dua Anak Kembar Yao Zongxun) bagaimana perjuangan Master Wang dan murid turunannya mempertahankan nama baik CMA (Chinesse Martial Arts) yang direndahkan praktisi beladiri asing yang mulai masuk China kala itu.

Pada saat itu mereka mempunyai ambisi menjadikan Yi Quan sebagai beladiri ketiga yang dikenal dunia barat setelah Judo dan Jiu Jit Su. Hanya sayangnya perkembangannya terhambat dengan adanya Perang Dunia ke-2, Perang Nasionalis Komunis dan juga Revolusi Budaya di China.

Dan Uniknya Yi Quan ini dikenal dunia barat justru lebih atas jasa Kenichi Sawai dengan Taikiken-nya. Master Sawai berkawan dekat dengan Mas Oyama Pendiri Karate Kyokushin. Banyak murid Kyokushin yang akhirnya berlatih Taikiken ini. Popularitas Kyokushin Karate di dunia beladiri internasional turut mempercepat dikenalnya Taikiken oleh praktisi beladiri dunia. Dari sinilah dunia barat mengenal Taikiken adalah turunan dari Yi Quan (dan Yi Quan pun memiliki kekerabatan dengan Xing Yi Quan).

Master Wang termasuk salah satu tokoh pembaharuan pelatihan CMA. Banyak kritik Master Wang terhadap pola latihan dan cara pikir para praktisi CMA pada saat itu. Dalam salah satu wawancaranya dengan Koran Beijing bernama Shibao, Wang Xiangzhai pernah mengatakan:

“Martial Art in China is in situation of chaos. People don’t know which path they should follow. Generally we can say, that essence is neglected and only what superficial is stressed. Japanese Judo and European Boxing, although they are not perfect, lacking the unified force, they have advantages. If you compare typical Martial Artists of our country with them, you will see that we are far behind. It’s such a shame ! We must put old teaching in order, improve them and develop. If we don’t do this, nobody will do it for us. Although I can not do much myself. I’m calling everybody to work together. This the goal of my criticism”

(Beladiri di China berada pada situasi yang tidak menentu. Banyak orang tidak tahu jalur mana yang harus mereka ikuti. Secara umum bisa dikatakan bahwa inti dari beladirinya diabaikan sementara hal-hal yang ‘klenik’ ditekankan. Judo Jepang dan Tinju Eropa, meskipun mereka tidaklah sempurna dan tidak punya pinsip penyatuan tenaga namun mereka memiliki keunggulan. Jika Anda membandingkan beladiri khas negara kita dengan mereka maka Anda akan melihat bahwa kita jauh dibelakang mereka. Ini sungguh sangat memalukan! Kita harus meletakkan teknik pengajaran kuno di dalam sebuah rangka baru, meningkatkan kemampuannya dan mengembangkannya. Jika kita tidak melakukan ini, maka tidak akan ada seorangpun yang akan melakukannya untuk kita kelak. Meskipun saya belum dapat berbuat banyak kepada diri saya sendiri. Saya mengajak siapapun untuk bekerja bersama. Ini adalah tujuan dari kritik saya)

Bukankah situasi di Indonesia sekarang ini sama seperti keadaan China pada masa hidup Wang Xiangzhai? Esensi beladiri (Pencak Silat) mulai dilupakan sedang hal yang superfisial (ajaib/’klenik’) yang lebih ditonjolkan. Derasnya MMA dan BJJ masuk ke Indonesia hampir tidak berbeda dengan masa itu di China.

Perbedaannya adalah pada saat itu ada seorang Master beladiri China seperti Wang Xiangzhai yang melihat permasalahan ini. Derasnya masuk ilmu beladiri luar seperti Judo dari Jepang dan Tinju dari Eropa membuat Master Wang mulai melihat perbedaan antara beladiri asing dengan beladiri China yang ada. Judo dan Boxing di mata Master Wang tetap tidak sempurna tetapi Master Wang juga melihat pola pelatihan mereka jauh lebih efektif dibanding pola pelatihan CMA. Bisa dilihat Judo dan Tinju jauh lebih bisa mempersiapkan praktisinya dengan ilmu beladiri yang efektif.

“If you compare typical Martial Artists of our country with them, you will see that we are far behind. It’s such a shame!” 
(Jika Anda membandingkan beladiri kita dengan mereka, maka Anda akan melihat bahwa kita jauh dibelakang mereka. Ini sungguh sangat memalukan!)

Pernahkah para Sesepuh Pencak Silat kita melihat permasalahan yang dihadapi dunia Pencak Silat kita seperti Wang Xiangzhai? Apakah ada Sesepuh Silat yang melihat secara umum kualitas Pesilat kita jauh di bawah praktisi beladiri asing lain?

Bahkan Master Wang termasuk salah satu Tokoh CMA yang berdiri di depan menghadapi tantangan para ahli beladiri luar yang memandang rendah CMA. Pada saat itu banyak sekali ahli beladiri luar yang memandang rendah CMA dan menganggap CMA tidak efektif digunakan dalam pertarungan sesungguhnya.

Sama seperti keadaan sekarang ini di Indonesia bukan? Banyak sekali praktisi MMA dan BJJ yang memandang rendah Pencak Silat dan mereka menantang praktisi Silat untuk bertarung. Banyak video di Youtube yang memperlihatkan praktisi Silat dipermalukan. Tapi pernahkah ada Tokoh Dunia Persilatan kita yang maju menjawab tantangan mereka dan membuktikan bahwa Pencak Silat adalah Ilmu Beladiri yang efektif digunakan dalam pertarungan seperti yang dilakukan Wang Xiangzhai?

Ya, memang kisah heroik mas Poeng dengan penantang dari Thailand kemudian diulang oleh mas Marsyel Ririhenna (MP Jakarta Selatan) ketika menjawab tantangan dari BJJ di arena oktagon Dharmawangsa Square dengan hasil kemenangan telak MP terhadap BJJ yang kemudian membuat MP merasa perlu membentuk divisi khusus MMA dan disahkan di Munas terakhir di Padepokan oleh mas Poeng. Kita bersyukur akan itu. Namun pada perkembangannya, MMA MP (yang disebut dengan MP Street Fighter) kurang berjalan sebagaimana mestinya. Saya pribadi mengikuti perkembangan itu karena kebetulan saya pernah terlibat didalamnya walau sebentar. Mulai dari konsep USMP (Urban Survival Merpati Putih) yang latihan di FX Plaza Senayan (lokasi yang sama dengan kejadian Mas Poeng menjawab tantangan Thai Boxing), hingga kemudian presentasi di depan Guru Besar dan Pewaris di Prapanca Jakarta Selatan, hingga kemudian disahkan di Munas dan dijadikan eksebisi pada saat kejuaraan dunia Lokawulung di Bandung. USMP adalah cikal bakal dari MMA MP yang sekarang dinamai MP Street Fighter dengan pusat latihan di ‘dojo’ milik mas Chandra MP jakarta selatan di Pondok Pinang, Jaksel.

Namun tidak berjalan sebagaimana mestinya MMA MP ini dalam analisa saya adalah karena belum dipahaminya secara utuh prinsip-prinsip dasar seperti yang saya jelaskan pada Bagian 3 mengenai Isometric dan Plyometric exercise ini. Apakah MMA MP ingin memulai dari Whole Body Movement ataukah Sectional Power? Apakah ingin bergaya ala Xinyi, ala Cikalong, atau bagaimana. Ini mesti didefinisikan dulu di awal sehingga nantinya rumusan latihannya akan sangat mudah dibuat dan jelas. Kalau prinsip dasar ini belum disepakati dan dipahami bersama, saya yakin metode latihannya akan menjadi ‘gado-gado’ seperti halnya MMA yang umum saat ini. Memasukkan sprawl, clinch, knee attack, ground fighting, locking, dll. Sementara teknik-teknik itu tidak dikenal dalam perbendaharaan kaidah keilmuan MP. Saya salut dengan semangat dan kegigihan tim mas Marsyel cs. Sayapun kalau tanding belum tentu bisa mengalahkan beliau. Namun yang diperlukan sebenarnya adalah bekerja sama, persis seperti ucapan Wang Xiangzhai dimana ia mengajak siapapun untuk bahu membahu merumuskan agar teknik tua ini bisa adaptable, peka zaman, dan terus menerus maju dan berkembang.

Kita kembali kepada kisah Wang Xianghai.

Ada beberapa contoh pertarungan menarik yang dilakukan Wang Xiangzhai untuk menunjukan CMA adalah ilmu beladiri yang efektif.

Seorang Juara Dunia Tinju kelas Berat Ringan sekaligus Juara Olimpiade yang berasal dari Hungaria bernama Imre mengajar Tinju di Shanghai Youth Union. Dia sudah beberapa kali bertarung dengan ahli beladiri China dan selalu memenangkan pertarungannya. Imre kemudian selalu sesumbar dan mengatakan CMA tidak ada kegunaan praktis dalam pertarungan. Mendengar ini Master Wang datang menantang Imre. Dan Imre pun dikalahkan dengan mudah. Mirip dengan kisah mas Marsyel MPJS yang mengalahkan praktisi BJJ bukan? Ya, history repeats itself. πŸ™‚

Setelah Kenichi Sawai (master Judo) dikalahkan Wang Xiangzhai (master Yi Quan), Sawai kemudian membawa seseorang bernama Hino yang merupakan Instruktur Judo dari Militer Jepang yang ada di Shanghai untuk bertarung dengan Master Wang. Menurut cerita pada saat itu Hino membawa seekor ayam jago untuk menangkal ilmu hitam dari Wang Xiangzhai. Mendengar bagaimana kekalahan Kenichi Sawai yang “aneh”, menurut Hino itu pasti disebabkan ilmu hitam. Kemudian Hino menyembelih ayam jago tersebut dan membuat lingkaran dari darah ayam Jago. Hino menantang Master Wang bertarung di dalam lingkaran.

Master Wang mengatakan dia tidak bisa ilmu hitam tapi jika Hino menantang dia untuk bertarung dalam lingkaran maka Master Wang akan menerima tantangan ini. Begitu pertarungan dimulai Hino segera memegang tangan Master Wang dan berusaha membantingnya. Tapi hanya dengan menghentakan pergelangan tangannya saja, Hino segera terlempar jauh keluar arena pertarungan. Hino menghantam keras pohon yang ada di dekat situ dan terjatuh dalam keadaan pingsan.

Walaupun Master Wang hanya menghentakan pergelangan tangannya saja tapi dengan prinsip “Whole Body Movement” bisa menghasilkan tenaga yang besar. Jadi bisa dibayangkan bagaimana hasilnya jika seorang sudah mampu menerapkan prinsip ini dengan benar.

Ichiro Hatta seorang Judo Master lainnya yang pada tahun 1929 ikut mempromosikan Judo ke USA, pada tahun 1932 mewakili Jepang dalam nomor Wrestling di Olimpiade, tahun 1935 melatih Team Jepang dalam Olimpiade Berlin. Ichiro Hatta adalah pemegang Dan 8 Judo, Dan 8 Aikido dan Dan 7 Kendo.

Kebetulan Ichiro Hatta mendengar pernyataan Wang Xiangzhai di koran Shibao yang saya tulis di atas yang mengatakan Judo dan Tinju memang baik tetapi tidak mengenal konsep Unified Force (Whole Body Movement). Hino kemudian menulis surat undangan kepada Wang Xiangzhai dan meminta untuk bertemu di suatu restauran di Shanghai. Ketika bertemu, Ichiro Hatta sangat terkejut melihat bahwa Master Wang ternyata seorang yang berperawakan kecil berbeda jauh dengan dirinya yang tinggi besar. Pada saat itu Ichiro Hatta secara langsung menantang Master Wang dan Master Wang menerimanya. Ichiro Hatta mengatakan kalau pertarungan bisa langsung dilakukan di dalam ruangan restauran yang sudah disewanya tersebut.

Pertarungan dimulai dan Ichiro Hatta dengan cepat berusaha memegang Master Wang untuk melakukan bantingan. Tapi dengan cepat Master Wang menghindar ke belakang Ichiro Hatta dan mendorongnya jatuh. Ichiro Hatta langsung berdiri dan menyerang Wang kembali, kali ini Master Wang menghindar sambil memukul ke arah tulang iga Ichiro Hatta. Ichiro Hatta masih sempat memblock pukulan Master Wang, akan tetapi yang terjadi adalah ketika tangan Ichiro Hatta menyentuh tangan Master Wang yang melakukan pukulan ternyata seperti ada tenaga yang berbalik menyerang hingga Ichiro Hatta pun terlempar oleh tenaga dorongan pukulan Master Wang dan jatuh menimpa meja yang ada di ruangan tersebut.

Ichiro Hatta belum menyerah, begitu bangkit dengan cepat ia berusaha mengambil kaki Master Wang untuk melakukan Take Down (jatuhan ground fighting). Kali ini Master Wang sama sekali tidak menghindar bahkan mengangkat salah kakinya agar mudah diambil Ichiro Hatta. Ketika ia berhasil memegang kaki Master Wang dengan cepat Master Wang mendorong kakinya ke arah perut Ichiro Hatta dan lagi-lagi Ichiro Hatta pun terdorong jatuh kembali.

Setelah beberapa kali gagal, Ichiro Hatta mengatakan bagaimana jika kali ini dia memegang ke dua pergelangan tanga Master Wang. Master Wang pun membiarkan Ichiro Hatta memegang ke dua pergelangan tangannya. Dan ketika Ichiro Hatta berusaha membanting Master Wang, dengan cepat Master Wang mengerahkan tenaga dengan prinsip “Whole Body Movement” nya dan melempar balik Ichiro Hatta membentur tembok hingga ruangan tersebut bergetar.

Wang Xiangzhai adalah tokoh CMA yang prihatin dengan keadaan CMA yang dianggap rendah oleh beladiri asing. Dan Master Wang berdiri di garis depan untuk mempertahankan nama CMA di mata Dunia. Walaupun begitu Master Wang juga tidak lupa melontarkan kritikan pedas pada dunia CMA.

“We must put old teaching in order, improve them and develop. If we don’t do this, nobody will do it for us. Although I can not do much myself. I’m calling everybody to work together. This the goal of my criticism”

(Kita harus meletakkan teknik pengajaran kuno di dalam sebuah rangka baru, meningkatkan kemampuannya dan mengembangkannya. Jika kita tidak melakukan ini, maka tidak akan ada seorangpun yang akan melakukannya untuk kita kelak. Meskipun saya belum dapat berbuat banyak kepada diri saya sendiri. Saya mengajak siapapun untuk bekerja bersama. Ini adalah tujuan dari kritik saya)

Akankah ada Tokoh Dunia Pencak Silat di Indonesia yang akan maju ke depan dan mengatakan hal yang sama untuk menghadapi derasnya MMA dan membuktikan Pencak Silat adalah Beladiri yang Efektif sejajar dengan Beladiri lain di dunia? Bersyukurlah, Merpati Putih memulai itu secara resmi dengan MMA MP (MP Street Fighter). Meskipun belum berjalan maksimal, namun paling tidak sudah ada ‘pentolan’ silat yang siap maju manakala kasus silat dianggap rendah oleh beladiri asing mengemuka kembali. Memang ada silat lain, namun sifatnya hanya personal. Atau bisa saja ada yang resmi yang saya belum tahu. Nanti saya cari info lagi untuk lebih detailnya. Sejauh ini, baru MP yang secara nyata dan terang-terangan membentuk divisi khusus MMA di dalam internal struktural perguruannya.

Pada tahun 1944 dalam buku karangan Bao Jia Cong yang berjudul “Yiquan cable theory: Yiquan ( Dachengquan ) Advanced awakened with point(Chinese Edition)” ada beberapa kritik Wang Xiangzhai yang diajukan pada CMA. Saya akan ambil beberapa.

“All greatest sciences and arts are simple in form, and rich in content. And what is complicated in form usually hasn’t got much essence. This is true not only in martial art. Think About it”

(Semua pengetahuan dan seni yang besar sesungguhnya sederhana dalam bentuk (jurus), namun kaya dalam isi. Dan apa-apa yang nampak rumit dalam bentuk (jurus) biasanya tidaklah punya banyak isi. Ini adalah kenyataan tidak hanya di dalam beladiri. Pikirkanlah.)

Kritik ini ditujukan pada CMA yang terlalu banyak menekankan Jurus yang terlalu rumit sehingga praktisinya kehilangan esensi beladiri itu sendiri yaitu efektifitas dalam pertarungan. Semua ilmu dan seni yang hebat itu sangat simple dalam bentuk tetapi sangat kaya akan isinya.

“As for jumping over walls and roofs, it is all fantasies from novels, you can only smile when you hear about it. As for those stories about crushing big rocks and resisting cuts of a sabre, those are the worst absurd inventions. There is no point discussing something like this “

(Seperti misalnya melompat melampaui pagar dan tembok yang tinggi, itu semua khayalan dari novel, dan Anda dapat tersenyum ketika mendengar mengenainya. Termasuk misalnya kisah mengenai penghancuran batu besar dan menahan tebasan golok, semua itu merupakan temuan yang sangat absurd. Tidak ada satupun titik diskusi mengenainya.)

Lihatlah, betapa kritikan pedas dilontarkan oleh Wang Xiangzhai mengenai bagaimana pola pelatihan Kungfu China yang kebanyakan bersifat “super human” atau berusaha membuat jadi manusia super dan mulai melupakan esensi bahwa tubuh manusia tersusun atas hal-hal yang nyata (otot, darah, daging, dsb). Tentunya kita tidak serta merta memvonis bahwa Wang Xiangzhai tidak memahami adanya Chi dan berbagai teknik pelatihan Chi. Namun kritiknya ditujukan bagi siapapun yang berpikiran dan berpandangan terbuka untuk mari sama-sama berkumpul dan mengembangkan konsep baru dari metode lama agar bisa adaptable dan fighting oriented berdasarkan kaidah-kaidah yang ‘membumi’.

Bukankah keadaan yang sama terjadi pada dunia Pencak Silat kita? Berapa banyak perguruan beladiri yang menjual fantasy? Kemampuan “menakjubkan” ilmu kebal, membakar kertas dengan tenaga dalam, berjalan di atas air, rogoh sukmo, meleburkan besi, membolongi batu dengan jari, membakar manusia, terbang melayang, dsb? Pertanyaannya adalah jika memang kemampuan seperti itu ada, apakah memang efektif digunakan dalam pertarungan? Jika ya … buktikan saja, jangan hanya menjual khayalan.

Hal seperti ini yang disebut superfisial bagi Master Wang dan bukan esensi dari ilmu beladiri itu sendiri.

Kadang saya sendiri sering berpikir Pencak Silat itu sebenarnya Martial Art (Dunia Beladiri) atau Witchcraft (Dunia Sihir). Pencak Silat itu dunianya para Knights atau dunianya para Sorcerers kalau kita pakai terminology film The Lords of The Rings.

Master Wang dengan tegas menolak fantasy seperti ini. Bukankah kita sekarang ini memerlukan Tokoh Pencak Silat yang membumi seperti Wang Xiangzhai ini?

Ada satu pertarungan menarik dari Master Wang yang mungkin bisa kita tarik pelajaran di sana. Pada tahun 1940-an Master Wang mengajarkan Zhan Zhuang secara terbuka di suatu taman di kota Beijing. Banyak orang yang lalu lalang di sana tertarik dan mengikuti pelatihan Zhan Zhuang ini. Wang Xiangzhai kala itu memang lebih menitikberatkan pelatihan Kesehatan untuk orang awam. Pelatihan beladiri sepenuhnya diserahkan kepada Yao Zhongxun muridnya.

Pada pelatihan kesehatan ini lebih dititikberatkan pada Zhan Zhuang dan beberapa teknik dasar beladiri seperti Tui Shou ” Pushing Hand ” (Usikan ala Cikalong) juga dilatih di sana. Tetapi sama sekali tidak diajarkan sparring untuk pertarungan. Jika ada yang tertarik dianjurkan pergi ke Yao Zhongxun untuk memperlajari lebih dalam lagi.

Pada saat itu seorang lelaki berambut putih yang tampak sudah cukup tua mendekati Master Wang dan menawarkan untuk “tukar ilmu”, tidak masalah siapa yang menang. Walaupun sudah tidak muda lagi orang tersebut tampak kuat dan percaya diri dan anehnya walaupun udara saat itu cukup hangat tetapi orang tersebut menggunakan sarung tangan kulit yang biasa digunakan pada musim dingin.

Akhirnya Master Wang memenuhi permintaan orang tersebut untuk bertarung. Dengan cepat orang tersebut mendekat dan menyerang dengan telapak tangan membentuk cakar elang. Master Wang menghindar dan mendorong orang tersebut dari belakang. Hingga orang tersebut offbalance dan terdorong menghantam pohon. Kali ini orang tersebut menyerang kembali dengan hebat menggunakan cakar elangnya ke arah wajah Master Wang. Karena orang tersebut menyerang ke arah wajah – setelah menghindari beberapa kali maka Master Wang kemudian menangkis dari arah bawah sambil mengerahkan tenaga dengan prinsip “Whole Body Movement” nya.

Orang tersebut kemudian terlempar ke atas akibat tangkisan tangan Master Wang ini, dan ketika orang tersebut terbanting ke tanah Master Wang dengan cepat mendekati untuk menolong orang tersebut. Orang tua itu menolak bantuan Master Wang, kemudian dia melepas sarung tangannya dan terlihatlah persendian jari tangannya yang rusak penuh dengan kapalan sangat tebal. Ternyata orang itu adalah Wang ‘Si Cakar Besi’. Orang tersebut mulai menangis dan mengatakan apa yang selama ini dia pelajari seumur hidupnya ternyata tidak ada gunanya.

Kembali di sini esensi ilmu beladiri adalah efektifitas dalam pertarungan. Dalam dunia beladiri pada akhirnya efektifitas dalam pertarunganlah yang dituju – jika latihan puluhan tahun tidak mengarah kepada efektifitas dalam pertarungan bukankah itu suatu kesia-siaan saja?

Ada sebuah kisah ketika seorang anak muda berdiri bersama seorang tua di sisi sebuah telaga. Keduanya ingin menyebrangi sungai. Kemudian datanglah seorang tua penarik rakit. Orang tua itu kemudian menaiki rakit dan membayar 1 sen kepada pemilik rakit. Sementara orang muda segera mengerahkan tenaga dalamnya dan berjalan diatas air. Sesampainya di ujung telaga, terjadi percakapan singkat antara orang muda dan orang tua tadi. Anak muda, berapa lama waktu kau butuhkan untuk punya kemampuan seperti itu? Dijawab kalau ia sudah berlatih bertahun-tahun dan dengan segenap pengorbanan agar bisa menguasai ilmu sakti ini. Orang tua itu menjawab, akupun bisa melewati telaga itu hanya dengan 1 sen saja.

Apa yang ingin saya tekankan, bukanlah kita menafikkan segala ilmu kesaktian yang ada. Ilmu-ilmu macam Lembu Sekilan, Bayu Seto, Pasir Besi, dll, adalah nyata adanya dan MP punya latihan untuk menuju kesana. Namun, seperti kritik dari Wang Xiangzhai, apakah semua jenis kemampuan luar biasa itu berguna dalam suatu pertarungan? Apakah bisa dibuat korelasinya dengan Sport Oriented, atau Fighting Oriented, yang bersifat Battle Tested? Barangkali itu perlu dipikirkan bersama. Kalaupun belum/tidak berjodoh dengan segala jenis ilmu seperti itu, tidak usah berkecil hati. Pelajari saja apa yang dimiliki, kuasai benar dari teori hingga aplikasinya, lalu amalkan. Maka ini menjadi sebaik-baik ilmu. Mirip dengan pendekatan mendiang guru besar Mas Budisantoso yang menggunakan pendekatan pragmatis dalam mengamalkan keilmuan yang bisa disusun sebagai suatu materi dan dapat dilatihkan hampir kepada siapa saja.

Semoga bermanfaat.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →