Isometric Exercise, Dynamic Exercise, dan Plyometric Exercise dalam Beladiri Timur – Bagian 2

ISOMETRIC EXERCISE, DYNAMIC EXERCISE, DAN PLYOMETRIC EXERCISE DALAM BELADIRI TIMURΒ 
(Bagian 2)

Oleh: Mas Gunggung

Jika pada Bagian 1 tulisan ini membahas apa dan bagaimana Isometric Exercise dan Plyometric Exercise dari sudut pandang mekanika otot, fisiologi latihan, dan dengan sampling beladiri timur Xinyiquan maka pada Bagian 2 kali ini saya akan bahas secara singkat bagaimana keterkaitan itu dari sudut pandang Merpati Putih.

Untuk menyegarkan ingatan, saya akan tulis kembali secara singkat apa itu Isometric Exercise dan Plyometric Exercise.

Isometric Exercise, ditinjau dari analisa mekanika otot, bertujuan melatih otot Postural yaitu otot-otot yang mempertahankan suatu postur tubuh secara keseluruhan. Dengan pelatihan Isometric ini bisa dikatakan seluruh otot tubuh yang digunakan untuk mempertahankan suatu postur dipaksa untuk bekerja. Agar dapat mempertahankan postur tubuh ini maka diperlukan kontrol melalui pikiran (Mind). Dengan adanya kontrol pikiran terhadap tubuh ini maka akan memaksa syaraf-syaraf di sepanjang otot Postural untuk lebih aktif. Pelatihan jenis ini menggunakan Pikiran secara dominan dibandingkan otot tubuh untuk merasakan tubuh sebagai satu kesatuan yang utuh. Pelatihan jenis ini sekaligus sebagai latihan dasar dari prinsip “Whole Body Movement”.

Plyometric Exercises, ditinjau dari analisa mekanika otot, bertujuan untuk meningkatkan kecepatan kontraksi otot sehingga tubuh bisa menghasilkan explosive power yang paling optimal. Cara kerjanya adalah dengan mengaktifkan (Stretching) terlebih dulu otot yang akan digunakan kemudian dengan melakukan suatu hentakan (Contraction) otot tersebut “dipaksa” untuk bergerak secara cepat dan explosive. Ketika otot melakukan Stretching maka system syaraf akan bekerja lebih aktif untuk melindung otot dari cidera. Ada semacam energi potential yang bekerja agar otot tidak over stretching. Hal ini dikenal dengan istilah Stretch Reflex. Stretch Reflex ini mengaktifkan lebih banyak serat otot yang akan menyimpan energi potensial yang siap digunakan untuk melakukan suatu aktifitas dan juga untuk melindung otot dari cidera. Hanya saja jika energi potential yang timbul sesaat akibat Stretch Reflex ini tidak dimanfaatkan dengan segera maka energi potential ini akan segera hilang. Plyometric Exercise merupakan latihan yang memanfaatkan energi potensial yang didapat dari Stretch Reflex ini.

Isometric Exercise dan Plyometric Exercise adalah suatu pola latihan yang berkesinambungan. Hal ini dapat dilihat pada hampir seluruh pola latihan berdasarkan ilmu fisiologi modern maupun berdasarkan studi kasus Kungfu China (Xinyiquan, Taijiquan, Bagua, dll). Memang agak sedikit berbeda dengan tradisi Yoga dari India yang sangat dominan dengan pelatihan berjenis Isometric Exercise.

Yoga dari India tidak memiliki bentuk latihan yang bersifat Plyometric Exercise. Tidak ada latihan yang menggunakan peregangan (Stretching) dan hentakan (Contraction) secara se-eksplosive mungkin. Bentuk-bentuk postur Yoga seperti misalnya Vajrasana, Sarvangasana, Bhujangsana, Sirsasana, Chakrasana, Halasana, dll, merupakan satu jenis latihan yang bersifat Isometric Exercise murni. Oleh karena latihan yang bersifat Isometric ini dominan menggunakan pikiran dalam melakukan kontrol terhadap tubuh dan merasakan otot sebagai satu kesatuan maka tidak heran para praktisi Yoga akan banyak mendapatkan penguasaan mengenai prinsip “Whole Body Movement”. Namun karena rangkaian Isometric Exercise pada Yoga ini tidak dilanjutkan dengan latihan berjenis Plyometric Exercise maka bisa dikatakan bahwa memang latihan Yoga bukanlah jenis latihan yang bersifat “beladiri” murni dimana ada unsur konversi dari energi statis/potensial menjadi energi kinetik. Kalaupun ada praktisi yang mempunyai daya linuwih adalah karena memang ada unsur latihan Pranayama (pernafasan) yang tentu saja menjadi relatif sangat mudah dipahami manakala seseorang sudah dapat memahami tubuhnya sendiri. Semakin dalam kesadaran dan penguasaan akan latihan Pranayama tentunya akan membangkitkan daya linuwih. Apalagi ditunjang oleh latihan Chakra yang sangat dominan dengan rasa. Maka Yoga lebih pas kalau disebut sebagai “jalan pencerahan” dibandingkan beladiri.

Di dalam keilmuan Merpati Putih, latihan yang tergolong kepada Isometric Exercise adalah Napas Pengolahan (baku maupun ‘pengayaan pribadi’ seperti Kawicaksanaan, Guntur Geni, dll). Napas Pembinaan juga sebenarnya masih tergolong pada jenis latihan Isometric namun dalam bentuk yang lebih dinamis. Berbeda dengan pelatihan Isometric ala China yakni Zhan Zhuang dan juga berbeda dengan pelatihan Isometric ala India yakni Yoga, Isometric ala Merpati Putih bisa dikategorikan Isometric yang bersifat ekstrim.

Mari kita lihat.

Mula-mula, Napas Pengolahan (Isometric) dilatih tanpa beban. Kemudian seiring dengan meningkatnya intensitas latihan mulailah ditambahkan beban. Beberapa beban yang dipergunakan di dalam latihan Napas Pengolahan (Isometric) adalah bola tenis, cor blok, cor bulat berlubang 5 jari, bambu raut+cor bulat, halter pinggir, halter tengah, gendewa, kembang payung, bangku kecil, dll. Berat beban yang dipergunakannya juga tidak main-main. Mulai dari 2 kg, 5 kg, hingga sepertiga berat badan, bahkan hingga sama atau melebihi berat badan. Pelatihan Isometric jenis ini tidak ada pada disiplin ilmu China atau disiplin ilmu India. Memang kita bisa menjumpai ada latihan khusus dengan menggunakan beban ala Kungfu China namun umumnya bersifat penguatan tenaga luar (weijia) seperti misalnya Kungfu Ngo Cho Kun, Lo Ban Teng, dll. Maka bisa disimpulkan bahwa pelatihan Isometric ala MP ini sesungguhnya adalah jenis pelatihan Isometric yang sangat ekstrim.

Apabila kita ingat bahwa pada pelatihan jenis Isometric ini memerlukan pengaturan Pikiran untuk melakukan kontrol terhadap otot-otot tubuh maka semestinya apabila kaidah ini dipahami oleh para praktisi MP dipastikan pesilat MP adalah orang-orang yang punya daya Pikiran yang sangat kuat dalam memahami tubuhnya sendiri. Namun kenyataan di lapangan hal itu tidak terjadi. Mengapa? Karena memang fokus yang dibentuknya tidak mengikuti kaidah Isometric. Ada bagian yang hilang di latihan Napas Pengolahan MP (Isometric) ini yakni pengkondisian Pikiran untuk merasakan tubuh bekerja sebagai satu kesatuan rangkaian otot ketika membentuk postur. Jika kita ingat bagaimana dulu Napas Pengolahan ini diberikan maka kita akan menjumpai adanya missing link ini. Mula-mula diajarkan bentuknya untuk ditiru, kemudian diajarkan cara nafasnya, kemudian nafas ditahan di dada terlebih dahulu, baru setelah itu menggunakan pola dada-perut. Tidak peduli bentuknya benar atau tidak, lakukan saja seperti yang diminta oleh pelatih. Hasilnya bisa dilihat, bentuk menjadi sangat tidak seragam. Berbeda dengan pelatihan Isometric ala Yoga dimana postur benar-benar mendapat perhatian utama sehingga hampir semua murid Yoga memiliki struktur dan bentuk yang sama dan enak dilihat secara umum. Lalu dimana missing link yang dimaksud? Yakni pada pengkondisian Pikiran untuk merasakan tubuh bekerja sebagai satu kesatuan rangkaian otot. Bagian inilah yang hilang. Fokus yang ingin ditekankan pada MP adalah bahwa Napas Pengolahan akan dianggap “menghasilkan” energi yang sangat besar. Pokoknya kalau diolah dengan cara begini begitu, maka Anda akan mendapatkan tenaga dahsyat. Semakin sering mengolah Napas Pengolahan maka akan semakin “sakti”. Demikianlah umumnya kita menilainya. Paradoxnya, latihan jenis ini adalah latihan yang sangat tidak disukai oleh anggota di lapangan. πŸ™‚

Maka, agar Napas Pengolahan dapat bersesuaian dengan kaidah Isometric Exercise perlu ditambahkan semacam SOP tambahan dimana bentuk/postur mesti dilatih dengan menyertakan Pikiran untuk merasakan bentuk tersebut sebagai satu rangkaian kesatuan tubuh yang utuh. Tambahan SOP ini diberikan sebelum dilakukan latihan Napas Pengolahan yang melibatkan pola nafas dada-perut. Hal ini dimaksudkan agar manakala didapatkan pemahaman akan prinsip “Whole Body Movement” maka mengolah napas dada-perut akan relatif lebih mudah dilakukan. Tentunya akan ada konsekwensi yakni pola latihan yang menjadi lebih lama. Dengan rentang waktu 6 bulan sesuai kurikulum baku rasanya ini akan sulit dilakukan, kecuali memang kita menjalaninya secara pribadi. Inilah missing link yang pertama.

Setelah pelatihan jenis Isometric dilakukan semestinya dilanjutkan dengan pelatihan berjenis Plyometric Exercise. Inilah juga missing link yang hilang di dalam pelatihan MP. Pelatihan MP memang sangat “kanuragan” yang dominan menggunakan pendekatan pemahaman akan energi dibanding prinsip mekanika otot. Bahkan, sangat umum di banyak kolat bahwa latihan Napas umumnya diletakkan diakhir. Setelah itu ditutup dengan Napas Pengendapan. Pada kondisi ini, benar-benar tidak ada sama sekali rangkaian yang terpadu dari Isometric Exercise menuju Plyometric Exercise. Pelatihan Getaran pun sesungguhnya menggunakan kaidah yang tidak berbeda dengan Isometric yakni mempertahankan postur tertentu lalu menggunakan Pikiran untuk melakukan kontrol terhadap tubuh. Hanya saja kontrol yang dimaksud adalah “energi” atau “getaran”. Maka bisa dikatakan, pada kondisi jenis ini latihan MP hampir mirip dengan pelatihan Isometric ala Yoga dari India. Sehingga tidak heran banyak orang yang menganggap sama antara latihan MP dengan latihan Yoga. Padahal MP itu adalah Beladiri, sedangkan Yoga jelas bukan. Jika MP sebagai beladiri maka rangkaian dari Isometric menuju Plyometric itu adalah suatu keharusan. Bisa dilihat pada tulisan saya Bagian 1 ketika membahas mengenai Tinju dan juga pedoman latihan ala MMA (mixed martial arts). Lain halnya kalau MP ingin diposisikan seperti “ala Yoga” maka Isometric Exercise saja sudah cukup menjadikan kemiripan MP dengan Yoga. Namun toh MP bukan Yoga. Bisa dilihat bahwa MP cenderung menggunakan pendekatan ala Yoga dalam menghasilkan daya linuwih yakni Isometric plus Pranayama namun dengan pemahaman filosofi yang bukan ala India. Di MP tidak dikenal pembangkitan kekuatan dengan membuka Chakra satu persatu dari dasar hingga ke mahkota. Apakah sudah terjadi akulturasi sebagaimana Walisongo melakukan akulturasi dari Hindu ke Islam. Ini sesungguhnya bisa ditelusuri. Kapan waktu nanti saya bahas secara terpisah. πŸ™‚

Jika dibandingkan dengan kaidah ala China, MP pun juga sesungguhnya tidak bisa dikatakan mirip. Meskipun ada area yang sama yakni pada titik dibawah pusar yang dalam kaidah China disebut dengan Dantian (gerbang langit) yakni ada Dantian bawah, Dantian tengah, dan Dantian atas. Namun prinsip latihan dan penggunaannya juga ya berbeda. Apalagi kalau dilihat dari filosofinya. Sangat jauh berbeda. Ini juga bahasan tersendiri. Kapan waktu nanti dibahas ya. πŸ™‚

Kalau tulisan saya diatas dibaca secara jernih, semestinya akan terlihat ada beberapa missing link yang terjadi.

Pertama, pelatihan Isometric yang tidak menggunakan kaidah prinsip “Whole Body Movement” dimana Pikiran digunakan untuk melakukan kontrol terhadap tubuh sebagai satu rangkaian kesatuan. Pelatihannya terlalu terburu-buru masuk pada tahap “energi”. Kedua, pelatihan Isometric yang tidak dibarengi dengan rangkaian pelatihan Plyometric untuk mengkonversi energi potensial menjadi energi kinetik melalui Tata Gerak.

Tentunya istilah “pikiran” yang saya maksud nantinya akan merujuk pada tiga “pikiran” yg ada di tubuh kita. Apabila merujuk ke kepala maka umumnya disebut pikiran, sedangkan apabila merujuk ke dada umumnya disebut Roso. MP melakukan banyak penekanan pada jenis “pikiran” yg berada di dada.

Bagaimana alternatif solusinya?

Nantikan tulisan saya dibagian ketiga. πŸ™‚

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →