Ilmu Kramadangsa dan Mulat Sarira

ILMU KRAMADANGSA DAN MULAT SARIRA

Sebelum saya mengulas lebih jauh pada Bagian 4 mengenai sudut pandang saya terhadap MP, maka kali ini saya rasa lebih dulu mesti saya hadirkan pengetahuan yang sangat bagus berdasarkan ajaran dari Ki Ageng Suryomentaram dari Jogja. Karena ini nanti ada korelasinya dengan Bagian 4 yang akan datang. Ki Ageng Suryomentaram melahirkan banyak sekali ilmu-ilmu kebijaksanaan di tanah Jawa. Tidak kurang dari 40-an pemahaman yang disebut “ilmu” lahir dari beliau. Ajarannya dinamakan Suryomentaraman. Ilmu Mulat Sarira, Ilmu Kawruh Begja, Ilmu Kramadangsa, dll, adalah beberapa yang dihasilkan dari pengembaraan diri Ki Ageng. Pada artikel kali ini saya akan menulis mengenai Ilmu Kramadangsa dan ilmu Mulat Salira. Ilmu ini berisi pemahaman mengenai Jiwa atau Kejiwaan. Dalam bahasa modern disebut sebagai Psikologi. Jiwa yang dalam literatur tasawuf dan psikologi umum terlihat begitu rumit serta ‘njlimet’, oleh Ki Ageng disederhanakan hanya sebatas rasa. Karena rasalah daya yang mendorong semua makhluk untuk beraktivitas. Meskipun karya Ki Ageng Suryomentaram ini nyaris tanpa bumbu sastrawi dan jauh dari terminologi ilmiah, namun Kawruh Begja yang beliau ajarkan tidak kalah adiluhungnya dengan yang diajarkan oleh para filsuf dan pujangga termasyhur di dunia.

Dalam ilmu Kramadangsa diceritakan bahwa ada aktifitas yang sangat penting untuk dilakukan manusia yakni studi mengenai diri sendiri untuk mendapatkan pengetahuan mengenai diri sendiri. Lingkupnya adalah Jagad Alit (mikrokosmos). Pengetahuan ini didasarkan pada konsep ‘Sumarah’ yang berarti pasrah atau berserah. Menariknya, ajaran ini bukanlah ajaran rahasia atau yang dirahasiakan tingkat tinggi namun merupakan ajaran yang terbuka untuk mendiskusikan mengenai apa saja yang berhubungan dengan ajaran mereka. ‘Pangawikan Pribadi’ atau mempelajari mengenai rasa di dalam diri sendiri bisa disamakan dengan mempelajari manusia dan kemanusiaan.

Bahwa ketika kita bisa mempelajari rasa diri sendiri dan berhasil memahaminya dengan tepat, otomatis kita akan bisa memahami manusia pada umumnya. Inti ajarannya berada pada konsep SAIKI, NGENE, NENG KENE atau kalau saya bahasa Indonesiakan menjadi SEKARANG, SEPERTI INI (APA ADANYA), DISINI. Bagi Ki Ageng Suryomentaram, today atau hari ini adalah sesuatu yang harus dilalui dan dinikmati sebagai sebuah karunia Tuhan. Ilmu bahagia itu akan ketemu kalau meletakkan sesuatu apa adanya. Terlalu tinggi menaruh keinginan atau harapan-harapan akan membuat hati tidak bahagia dan kosong. Dengan demikian, alangkah eloknya jika pembelajaran ‘pangawikan pribadi’ dipelajari dari sekarang, disini, serta penuh keberanian menghadapai segalanya apa adanya.

Ajaran beliau juga mengatakan bahwa di dalam setiap diri manusia terdapat pencatat atau perekam yang merekam pelbagai keadaan dan peristiwa. Rekaman-rekaman itu awalnya tersusun secara acak tapi kemudian terorganisasi sesuai corak dan jenisnya. Pelbagai rekaman yang masih acak itulah yang kemudian melahirkan rasa ‘kramadangsa’, yaitu rasa keakuan atau ego, yang kemudian tumbuh sebagai pemikir yang mendominasi ruang rasa kita. Kramadangsa adalah aku, maka ketika bertemu dengan istilah tersebut gantilah kata kramadangsa dengan nama kita masing-masing. Jadi, ketika saya menulis dengan ‘si Kramadangsa’ itu artinya ‘si Agung’ atau ‘si Mirna’ atau ‘si Hasan’ dan sebagainya.

Sepanjang waktu, aktifitas si Kramadangsa adalah memperhatikan, memikirkan, menyeleksi, mengorganisasi, dan kemudian dengan senang hati menjadikan rekaman favoritnya sebagai tuan atau majikan yang dihambanya dengan penuh kerelaan. Bila beragam rasa yang muncul dari dalam diri kita bisa kita teliti dengan tuntas, penghalang yang berupa anggapan benar itu pun akan runtuh. Setelah hijab itu runtuh, kita pun leluasa menyaksikan kekeliruan rekaman-rekaman kita tentang segala sesuatu. Dengan demikian, keakuan si Kramadangsa (ego) yang sebelumnya selalu dominan pun tak lagi bertaji. Bersamaan dengan tak lagi berdayanya rasa si Kramadangsa, lahirlah rasa Manusia Tanpa Ciri.

Manusia tanpa ciri, atau manusia yang tak lagi memerlukan ciri-ciri (atribut), adalah manusia yang penglihatan mata hatinya tak lagi terpengaruh atau terhalangi oleh pelbagai rekaman dan catatan-catatan yang memenuhi ruang rasanya. Saat itu semua rekaman dan catatannya sudah tidak lagi memerlukan perhatian pikirannya. Sebagai hasil dari ‘pangawikan pribadi’ ini, seharusnya jiwa kita menjadi sehat. Beliau sengaja membuat bagan yang provokatif bahwa manusia tanpa ciri akan memiliki jiwa sehat 100%.

Beliau juga membagi gradasi rasa menjadi empat tingkatan.

Gradasi pertama disebut dengan dimensi tunggal. Dimensi yang berupa garis ini sebagai analogi untuk bayi, yang kemampuannya baru sebatas merekam berbagai rangsangan dari luar dengan panca inderanya.

Gradasi kedua disebut dengan dua dimensi. Seseorang dapat dikatakan memasuki gradasi kedua jika telah mampu mengorganisasikan atau membentuk tipologi dari berbagai jenis rekaman di dalam ruang rasa. Dengan kata lain, manusia pada tingkatan kedua ini mulai sedikit sadar untuk mengekspresikan rangsangan-rangsangan dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Namun dalam bertindak tersebut tidak berdasarkan akal dan hati, sehingga akibat reaksinya dalam menghadapi rangsangan sering melenceng.

Gradasi ketiga disebut dengan manusia tiga dimensi. Dalam fase ini, manusia sudah mampu memberdayakan akalnya untuk berfikir, sehingga dapat memahami hukum-hukum alam. Namun tidak dengan hatinya. Dengan demikian, manusia yang bertempat pada level ketiga ini hidupnya didominasi oleh ego, atau yang oleh Ki Ageng diistilahkan dengan ‘kramadangsa’ atau ego atau ke-aku-an.

Gradasi keempat yakni manusia empat dimensi, yakni manusia yang tidak hanya memiliki ukuran panjang, lebar serta tinggi dalam dimensi ruang dan waktu. Manusia pada tingkatan terakhir ini juga memiliki rasa yang dapat melintasi ruang dan waktu. Karena selain kemampuan analisisnya telah sampai pada hukum alam, manusia ini juga memiliki kebijaksanaan yang bersumber dari rasa, dari ‘krenteg ing ati’ atau ‘geteran’ atau ‘getaran’ atau ‘gerak hati’. Rasa inilah yang oleh Ki Ageng disebut sebagai rasa yang dapat berkembang, yakni rasa yang tidak mungkin dapat dirasakan hewan, apalagi tumbuhan.

‘Krenteg in ati’ (gerak hati) yang lahir dari dalam diri serta berasal dari rekaman ruang rasa memiliki dua potensi. Pertama, manusia akan kembali pada gradasi ketiga, yakni hidup dalam kendali kramadangsa. Semisal marah. Jika dalam keadaan marah justru memikirkan bagaimana cara melampiaskan marah, maka kembalilah manusi pada posisi ketiga. Namun sebaliknya, jika dalam keadaan marah yang terpikir adalah apa itu Marah, bagaimana karakter dan apa tujuannya, maka manusia menuju ke tingkatan tertinggi. Gradasi tertinggi ini adalah manusia yang telah terbebas dari dominasi egonya sendiri dalam bertindak. Ukuran terakhir ini oleh Ki Ageng disebut sebagai instrument dalam diri, yang berfungsi khusus untuk memotret diri orang lain. Keberhasilan seseorang dalam meraih puncak rasa merupakan suatu keistimewaan tersendiri. Karena jika bersinggungan dengan realitas (masyarakat), manusia tanpa ciri akan selalu merasa damai sebab tidak harus berselisih. Manusia tanpa ciri adalah manusia bumi yang mampu membumi.

Meski demikian, ada sebagian pemikiran Ki Ageng yang dianggap kontroversial, misalnya ia pernah dituduh tidak percaya terhadap kehidupan akhirat. Dan aliran yang dipimpinnya dicap tidak percaya kepada Tuhan dan sesuatu yang gaib. Namun bagi Ki Ageng, sebagaimana kehidupan di dunia, akhirat adalah sesuatu yang niscaya, karenanya tidak perlu lagi dipikirkan atau harus digambar-gambarkan dengan pelbagai tamsil, tanda-tanda, maupun persamaan yang kekanak-kanakan. Ki Ageng lebih mendahulukan “pengalaman” daripada “keyakinan”. Ia senantiasa berupaya mengalami terlebih dahulu, baru kemudian percaya dan yakin. Dengan demikian komunitas ‘Kawruh Begja’ yang diasuhnya tetap terbuka pada kepercayaan terhadap Tuhan dan agama. Hal ini mengingatkan saya pada Tri Prasetya MP yang pertama yakni TAAT DAN PERCAYA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA serta aspek universalitas MP yang diusungnya. Banyak yang menanyakan kenapa harus taat dulu baru percaya? Nah, penjelasan dari Ki Ageng Suryomentaran ini secara gamblang bisa menjelaskan hal itu. Anda lakukan segala latihannya, Anda alami sendiri rasanya, barulah didapat keyakinan versi diri sendiri. Nantinya keyakinan versi diri sendiri ini akan berkembang sedemikian rupa. Bisa menjadikan kita lebih bijaksana atau malah terjebak pada keyakinan si Kramadangsa yang menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar sedangkan yang lain ‘sesat’. Kalau itu sampai muncul, maka artinya seseorang belumlah mencapai tahap ‘Manusia Tanpa Ciri’ karena ia akan selalu menyelisihi apapun yang ditemuinya.

Contoh yang paling mudah bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Saya akan ambil beberapa gambaran. Semisal apabila kita membaca sebuah tulisan di Facebook lalu kemudian kita jadi merasa sebal dan kesal sama penulisnya, menganggap penulisnya seperti orang yang ‘sok pamer’ atau ‘sok pinter’. Ketika muncul rasa tersebut, tanyakanlah pada hati kecil kita … siapa sebenarnya yang kesal itu? Si Kramadangsa, atau emosi marah kita, atau ego kita yang merasa tersaingi, atau apa? Pemisalan lain manakala seorang laki-laki keluar rumah lalu melihat ada orang lalu lalang didepan kita dan tiba-tiba kita jadi merasa senang dengan seorang wanita yang berjalan melambai dengan rok mini dan kaos ketat lalu kemudian kita jadi merasa ‘gerah’. Ketika muncul rasa itu, tanyakanlah pada hati kecil kita siapa sebenarnya yang ‘gerah’ itu Si Kramadangsa, atau nafsu kita atau apa?

Jika misalkan tulisan seseorang itu tidak ada menyebut nama kita, tidak pula menyinggung keluarga kita, atau sahabat dekat kita, lalu tiba-tiba hati kita merasa tidak menentu, kesal, ingin marah, ingin mengatakan kepada penulisnya bahwa dia ‘sok tahu’, ‘sok pinter’, dan tiba-tiba muncul rasa ‘aku lebih tahu dan lebih pinter dari dia’, maka analisalah rasa itu datang dari mana? Jangan-jangan bukan dari diri kita sendiri.

Menjadi ‘manusia tanpa ciri’ yang berada pada gradasi keempat atau level tertinggi dalam ajaran ilmu Kramadangsa sungguh mengajarkan kita untuk bersikap natural, wajar, menghindari perselisihan, menjauhi ‘kebenaran versi sendiri’, bisa menerima kebenaran versi lain. Dan ini sungguh sangat menyehatkan. Untuk menjadi ‘manusia tanpa ciri’ secara mudahnya demikian, bahwa ketika kita menjumpai apapun yang kemudian memunculkan rasa ego di hati lalu kita berhasil menepisnya dan kita tersenyum secara tulus, maka disitulah kita berhasil menyingkirkan si Kramadangsa di diri kita. Kita terbebas dari ego dan kita akan merasa damai dengan tulisan atau kejadian jenis apapun.

Agar dapat mengenal dan memahami si Kramadangsa ini maka seseorang harus terus menerus berusaha untuk mengenal dirinya yang sejati. Untuk dapat mengenal diri yang sejati terlebih dahulu manusia harus belajar melalui ‘laku’ (jalan) pembelajaran diri setahap demi setahap. Pembelajaran diri ini merupakan tangga pendakian kualitas diri seseorang. Tangga ini disebut sebagai Ilmu Mulat Sarira sebagai berikut:

  1. Nanding Sarira, yaitu pembelajaran pertama dimana seseorang berusaha membanding-bandingkan dirinya dengan diri orang lain dan merasa dirinya lebih baik, lebih benar, lebih menang dibandingkan orang lain.
  2. Ngukur Sarira, yaitu pembelajaran kedua dimana seseorang berusaha mengukur diri orang lain dengan dirinya sendiri yang dijadikan tolok ukur.
  3. Tepa Sarira, yaitu pembelajaran ketiga dimana seseorang mau dan mampu merasakan perasaan orang lain. Belajar tenggang rasa, mengerti mengenai ‘unggah-ungguh’, bisa ikut merasakan susah dan senang hati orang lain. Belajar mengalah untuk dapat menyenangkan hati orang lain, sekaligus mengalah untuk tidak menyakiti orang lain.
  4. Mawas Diri, yaitu pembelajaran keempat dimana seseorang berusaha bisa memahami dan mengerti akan dirinya sendiri tanpa dipengaruhi oleh keadaan dan situasi dengan sikap jujur dan rendah hati. Belajar mengamati dirinya sendiri, melihat potensi-potensi yang ada didalam dirinya sendiri, apa kelebihan dan kekuatannya, apa kelemahan-kelemahannya, kekurangannya, kesalahannya, keburukannya, dan kemungkinan-kemungkinan yang lainnya. Belajar memperbaiki diri sendiri agar menjadi lebih baik dan berlaku benar dalam hidup ditengah masyarakat luas.
  5. Mulat Sarira, adalah laku utama orang Jawa yang tertinggi. Yaitu tahap pembelajaran kelima, tingkat kualitas diri yang lebih tinggi dari Mawas Diri dimana seseorang berusaha masuk ke dalam dirinya sendiri yang terdalaman masuk lebih jauh lagi. Ia menjelajah dan mengarungi lautan hati serta menyelam ke dasar samudera jiwa yang suci untuk menemukan diri sejati yakni identitas diri yang agung.

Semoga bermanfaat.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →