Ada Apa Dengan Bawah Pusar

AADBP – ADA APA DENGAN BAWAH PUSAR?

Oleh: Mas Gunggung

Pada beladiri timur umumnya sangat familiar dengan titik dibawah pusar. Kalau didunia Kungfu disebut dengan Dantian (dantien/tantien tergantung logat), kalau di Jepang disebut dengan Hara, kalau di Merpati Putih disebut dengan ‘Ruang Pusat Getaran’ (istilah yang lebih ‘Indonesia’). Kalau di ajaran Kejawen Islam disebut dengan Betal Mukadas (kata serapan dari bahasa Arab yakni Baitul Muqodas). Masing-masing aliran memiliki teknik pelatihannya tersendiri.

Khusus pada Merpati Putih, bentuk napas yang umum yang terkait dengan lokasi tersebut adalah Napas Pengolahan dan Napas Pengendapan. Sebenarnya ada apa dengan titik dibawah pusar tersebut hingga menjadi lokasi yang cukup penting untuk dirasakan dan dipahami?

Seperti yang pernah saya jelaskan terdahulu, bahwa dalam tubuh kita paling tidak sudah ditemukan ada 3 jenis ‘otak’. Pertama, yakni otak kepala (head brain). Kedua, yakni otak jantung (heart brain). Ketiga, yakni otak perut (gut brain).

Disiplin ilmu yang membahas mengenai otak kepala sangat banyak. Darinya lahir psikologi, gelombang otak, kognitif, hormon, dan lain sebagainya. Dalam khasanah Jawa sering disebut dengan ‘PIKIR’ atau ‘Betal Makmur’ (serapan dari bahasa Arab yakni Baitul Makmur). Demikian juga disiplin ilmu yang membahas mengenai otak jantung sudah mulai banyak (pada awalnya dimulai oleh Dr. J. Armour pada tahun 90-an yang kemudian menggunakan istilah ‘heart brain’). Darinya lahir konsep rasa, intuisi, naluri, dan lain sebagainya. Dalam khasanah Jawa sering disebut dengan ‘ROSO’ atau lengkapnya ‘roso sak jroning roso’ atau ‘Betal Mukaram’ (serapan dari bahasa Arab yakni Baitul Muharram). Namun otak perut (gut brain) masih sedikit yang berusaha memahaminya sehingga seakan-akan menjadi asing.

Ilmuwan yang pertama meneliti dan mengistilahkan dengan ‘Gut Brain’ adalah Michael Gershon dari Columbia-Presbyterian Medical Center, New York. Ia mengatakan bahwa banyak sekali sinyal dan informasi yang dikirimkan dari usus menuju otak yang tidak lahir dari kesadaran pikiran. Terdapat sekitar 500 juta syaraf, lima kali lebih banyak dari syaraf otak.

Melekat pada dinding usus sesuatu yang disebut dengan ENS (Enteric Nervous System) yang pada mulanya diketahui berfungsi untuk melakukan kontrol terhadap proses pencernaan ternyata berpengaruh juga pada perkembangan fisik dan mental. Bahkan otak perut (gut brain) dapat bekerja secara independen tanpa pengaruh otak kepala. Jadi, saat Anda membaca tulisan saya sekarang ini maka otak perut (gut brain) Anda bekerja secara otomatis tanpa kendali otak kepala. Bahkan apabila seseorang mengalami ‘brain dead’ dan dimasukkan makanan ke dalam tubuhnya, pencernaan akan tetap bekerja dengan baik. ENS ini membantu kita dalam merasakan beragam ancaman lingkungan luar dan mempengaruhi bagaimana respon yang dibentuknya. Istilah Enteric Nervous System (ENS) pertama kali digaungkan oleh ilmuwan Inggris bernama Johannis Langley pada tahun 1907 melalui jurnal “The Abdominal and Pelvic Brain” dan Byron Robinson. Ia mengatakan bahwa ENS bekerja secara independen namun punya keterkaitan dengan otak kepala melalui sistem syaraf Vagus.

Otak perut (gut brain) menghasilkan 95% dari seluruh produksi Serotonin, bandingkan dengan otak kepala yang hanya 5% saja. Serotonin banyak ditemukan di saluran gastrointestinal (GI), trombosit, dan dalam sistem saraf pusat. Serotonin dikenal sebagai kontributor untuk perasaan sejahtera (bahagia), sehingga dikenal juga sebagai “hormon kebahagiaan” meskipun serotonin bukanlah hormon, memperbaiki kesedihan dan depresi. Dalam kaitannya dengan sistem syaraf pusat, Serotonin juga berperan dalam hal kontraksi otot. Lebih jauh lagi, Serotonin berperan dalam beberapa fungsi kognitif, termasuk dalam memori (daya ingat) dan belajar.

Apabila dilihat lebih dalam, antara otak kepala dan otak perut terhubung melalui syaraf tulang belakang. Syaraf yang berperan adalah syaraf Vagus. Otak perut (gut brain) akan bekerja dengan baik berdasarkan faktor ‘feel-good’ atau ‘merasa enak’.

Ilmuwan Pankaj Pasricha dari Johns Hopkins Center for Neurogastroenterology di Baltimore, Maryland, mengatakan bahwa apa-apa yang ada diluar tubuhmu itu ada didalam perutmu. Ia menambahkan, apa-apa yang terlihat bahaya dan terdeteksi oleh mata, terdengar oleh telinga, akan terasa oleh perut. Lebih jauh lagi ia mengatakan bahwa tidak ada kehidupan tanpa adanya perut. Bahwa perlu adanya hubungan yang sangat intim antara otak kepala dengan otak perut agar kehidupan manusia tetap harmoni, sehat, dan kuat.

Otak perut (gut brain) memiliki daya ‘instuisi’ nya sendiri secara khas. Ia ternyata punya ‘naluri’ yang khas.

Serotonin adalah neurotransmitter yang paling berpengaruh dalam pengembangan Enteric Nervous System (ENS) ini. Dan Serotonin dapat menurun kadarnya manakala seseorang mengalami stress. Hal-hal yang dapat meningkatkan kadar Serotonin adalah berolahraga yang nyaman dan tidak membuat Anda kelelahan, cahaya yang cukup, pijatan pada tubuh, menjaga pikiran optimis dan positif, dan menjaga pola makan.

Jika tulisan saya mengenai Isometric dibaca dengan seksama maka akan terlihat korelasinya yakni Isometric merupakan latihan mempertahankan postur tubuh tertentu selama waktu tertentu. Isometric umumnya menggunakan jenis Otot Postural. Latihan berjenis Isometric memerlukan ‘bantuan’ dari Pikiran untuk membayangkan, mengenali, dan ‘merasakan’ postur. Sinyal yang dikeluarkan Pikiran melalui otak kepala ini berfungsi untuk memperkuat instruksi kepada otot postural melalui syaraf Vagus. Sehingga latihan Isometric akan berusaha menyatukan pikiran dan tubuh secara unik melalui keterkaitan antara syaraf Vagus dan otot postural. Contoh latihan Isometric adalah Zhan Zhuang (dalam beladiri China), Yoga (dalam tradisi India), Napas Pengolahan (dalam keilmuan Merpati Putih).

Terkait dengan otak perut (gut brain), maka pada setiap pola latihan yang bersifat Isometric semestinya memfungsikan otak kepala dan otak perut (gut brain) melalui titik dibawah pusar. Hal ini dikarenakan keterkaitan antara otak kepala dan otak perut melalui sistem syaraf tulang belakang via jalur syaraf Vagus. Dan syaraf Vagus ini merupakan jenis syaraf yang banyak ada pada jenis otot postural. Dan latihan mesti dilakukan dengan penuh rasa senang gembira suka cita (tidak stress atau tertekan atau terbebani secara perasaan).

Demikian juga dengan latihan yang bersifat statis dan hanya mengkonsentrasikan pada titik dibawah pusar semisal meditasi (napas pengendapan) atau latihan sejenis itu. Diperlukan peran pikiran, rasa senang gembira suka cita, tidak tertekan, menikmati setiap prosesnya, merasakan lokasinya, setiap tarikan napasnya. Jikapun ada yang ‘terasa’ dan ‘berasa’ disana, biarkan saja dan tetap nikmati secara wajar. Hal ini bertujuan untuk membuat lebih sehat diri kita secara lahir batin, memproduksi Serotonin dalam jumlah cukup, mengurangi kesedihan dan depresi. Dengan demikian, latihan yang dilakukannya membuat lebih sehat dan bugar serta powerful.

Bagi para praktisi energi dengan pola titik dibawah pusar, terdapat keterkaitan antara pikiran dengan titik tersebut. Keterkaitan antara pikiran dengan titik dibawah pusar umumnya terjadi manakala praktisi terpancing emosi marahnya. Seketika marah keluar, maka dibawah pusar langsung menghangat. Reaksinya terpancing untuk ‘mengeluarkan’ energi tertentu. Kalau “Hati” tidak berhasil ‘mendamaikan’ keduanya maka yang terjadi adalah ledakan-ledakan amarah yang berdaya rusak sangat tinggi (karena diisi dengan sejenis energi tertentu hasil latihan). Maka, dalam hal ini Allah memberikan Hati sebagai ‘penengah’ dan ‘pengendali’ yang dapat melakukan ‘intercept’ atau pencegatan terhadap pikiran (otak kepala) maupun energi (otak perut). Kalau fungsi Hati ini gagal atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka yang terjadi adalah gabungan kekuatan pikiran dan energi sedemikian rupa tanpa kendali. Anda akan memukul sesuatu atau seseorang, dan fatal sekali akibatnya.

Keseimbangan inipun terjadi pada istilah ‘Cipta-Rasa-Karsa’, dimana kata ‘Rasa’ diletakkan ditengah antara Cipta dan Karsa. Maksudnya sebagai penengah, pengendali dari Cipta dan Karsa atau dari keduanya. Kalau ‘Rasa’ tidak dipakai, maka semua menjadi tidak terkendali. Maka memahami ketiga jenis otak ini beserta dengan fungsinya sangatlah penting. Pemahaman ini akan membawa kita menjadi lebih bijaksana dan mengetahui benar potensi yang ada pada masing-masingnya agar dipergunakan secara menyeluruh untuk kebaikan.

Pada tulisan yang lalu, saya memberikan data dan fakta bahwa titik dibawah pusar dapat menghasilkan hormon yang menghasilkan ‘kecanduan’ yang disebut dengan Benzadiazephine. Saya ingin menekankan pada kata ‘kecanduan’. Bahwa ketika suatu titik pusat energi sudah dikenali dan bisa dirasakan, maka artinya ia sudah ‘aktif’ dan dapat dipergunakan sesuka hati. Penggunaan ini kalau tidak hati-hati dan tidak dilandasi dengan kebaikan akan membuat orang ‘kecanduan’ pada hal yang keliru dan salah. Makin lama, ‘kecanduan’ itu akan makin parah dan sulit untuk kembali. Disinilah sesungguhnya peran Hati/heart brain/qolbu/roso sak jroning roso berperan. Sebagai penengah, pengendali. Lebih jauh lagi, dalam konsep Tasawuf, Hati adalah Raja. Sebagai RAJA yang ketika ia memerintahkan ‘menengo…!’ atau ‘tenang…!’ maka mesti tenanglah semua ‘alam semesta’ di dalam diri. Jika belum, maka lihatlah ke dalam Hati kita sendiri, koreksilah, perbaikilah terus menerus. Sertakan Hati dalam setiap latihannya.

Semoga bermanfaat.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →