7 Hormon

7 HORMON

Di dalam tubuh manusia terdapat ratusan hormon. Namun baru dalam hitungan puluhan saja yang sudah dikenali. Sebagian besar masih diteliti dan masih misteri. Kekuatan dan daya apa yang tersembunyi di dalamnya masihlah belum bisa dipecahkan secara utuh hingga saat ini. Merpati Putih, sebagai salah satu beladiri yang dikenal berdasarkan kaidah Olah Rasa, maka sedikit banyak mestilah harus belajar dan membuka diri untuk mengenal fungsi-fungsi hormon di dalam tubuh manusia. Hormon, oleh dunia modern dikenal sebagai “gerbang jiwa” atau “gerbang rasa”. Mempelajarinya paling tidak akan memudahkan seseorang mendapatkan pemahaman akan suatu kondisi kejiwaan seseorang dan dapat melakukan perbaikan apabila dirasa terjadi anomali atau ketidakseimbangan pada jiwa yang bersangkutan.

Berdasarkan pemahaman itu saya tuliskan dibawah ini 7 molekul otak (hormon) dan gambaran umum mengenai bagaimana ia dihubungkan dengan perasaan.

1. Endocannabinoids, dikenal sebagai “Molekul Kebahagiaan”. Pada awalnya diproduksi oleh sejenis tumbuhan yang masuk pada golongan “cannabis” dan memiliki reseptor CB-1 dan CB-2. Anandamide (dari bahasa Sansekerta ‘ananda’ yang artinya Bahagia) merupakan jenis endocannabinoid yang umum dikenal. Menariknya, paling tidak terdapat 85 jenis cannabinoid yang berbeda di alam ini yang diambil dari tumbuhan Cannabis. Setiap dari jenis cannabinoid ini akan menghasilkan efek bahagia yang berbeda kadarnya antara satu dengan yang lainnya dalam mempengaruhi kesadaran manusia.

Studi yang dilakukan oleh Universitas Arizona (publikasi bulan April 2012), menjelaskan bahwa Endocannabinoids kebanyakan dipergunakan sebagai bahan untuk “mabok berat” (istilahnya ‘fly’). Pada penelitian dengan manusia dan hewan (anjing) ditemukan bahwa kadar endocannabinoid pada saat seseorang mulai masuk fase mabuk menjadi semakin tinggi. Apapun penyebab mabuknya. Pada penelitian lain, ketika meneliti BBB (blood-brain barrier) atau Penghalang Darah dan Otak ditemukan bahwa molekul Endorphine terlalu besar untuk bisa masuk ke dalam jaringan BBB dan ia tidak bertanggungjawab terhadap kondisi ‘mabuk berat’ melainkan molekul Endocannabinoids lah yang paling bertanggungjawab dalam hal ini. Sehingga obat-obatnya yang diracik atau dibuat dari turunan tumbuhan Cannabis akan menghasilkan efek ‘mabuk berat’ yang luar biasa. Seakan-akan ia merasa ‘bahagia’ padahal sebenarnya itu adalah kebahagiaan semu karena ia tidak menyadarinya.

2. Dopamin, dikenal sebagai “Molekul Penghargaan”. Dopamin bertangunggjawab pada suatu kebiasaan-kebiasaan yang menghasilkan kondisi kesenangan/kenikmatan. Setiap jenis kegiatan yang diberikan suatu penghargaan tertentu akan meningkatkan level Dopamin ke otak. Jadi, jika Anda ingin membuat Dopamin muncul segera buatlah sebuah tujuan lalu raihlah tujuan itu.

Banyak dari obat-obatan terlarang seperti misalnya Kokain dan Methamphetamine bisa mempengaruhi sistem Dopamin secara langsung. Kokain akan melakukan ‘bloking’ terhadap penyerapan Dopamin, membuat sistem syaraf yang terkait kepadanya memiliki celah yang lebih besar. Pendekatan ini digunakan pada orang-orang yang memiliki mental ‘ekstrovert’ atau kepribadian yang sangat mudah untuk berekspresi atau mengekspresikan diri. Diketahui bahwa pada orang-orang yang mudah untuk mengekspresikan diri terjadi peningkatkan level dopamin di otaknya dibandingkan rata-rata orang normal. Membuat sebuah tujuan lalu berusaha meraih tujuan itu akan menyebabkan level Dopamin meningkat di otak.

3. Oksitosin, dikenal sebagai “Molekul Pengikat”. Oksitosin (oxytocin) merupakan hormon yang secara langsung terkait dengan rasa percaya dan kesetiaan. Pada beberapa studi ilmiah, kadar tinggi hormon ini akan berkorelasi dengan hal-hal romantis. Studi lain juga menunjukkan bahwa jika satu pasangan kekasih terpisah dalam waktu yang cukup lama maka kadar hormon Oksitosin menurun sehingga ia tidak dapat merasakan lagi ikatan dengan pasangannya. Kontak kulit, kontak mata, perhatian, rasa cinta kasih, dan keintiman hubungan adalah kunci dari rasa bahagia.

Di dalam dunia digital, dimana kita sering merasa “sendiri secara bersama” melalui peralatan digital, adalah sangat perlu untuk berkumpul membentuk kelompok dan secara tatap muka melakukan aktivitas fisik. Misalnya dengan berlatih silat bersama, atau olahraga bersama, atau joging bersama. Hal ini diperlukan agar hormon Oksitosin tetap terjaga kadarnya dalam kaitannya merasakan hubungan fisik antar manusia.

Studi ilmuwan yang dilakukan tahun 2003 pada majikan dan anjingnya menunjukkan bahwa level Oksitosin akan meningkat manakala antara majikan dan anjing sering melakukan aktivitas untuk saling berpelukan. Studi itu mengatakan bahwa jika seseorang tidak punya orang lain untuk dipeluk, maka carilah alternatif binatang peliharaan agar level Oksitosin tetap dapat terjaga.

4. Endorfin, dikenal sebagai “Molekul Penghilang Rasa Sakit”. Nama Endorfin diterjemahkan kedalam “self-produce morphine” atau “morfin yang dapat diproduksi secara mandiri”. Endorfin berfungsi seperti layaknya “candu” yang mempunyai manfaat analgesic (anti rasa sakit). Endorfin diproduksi oleh kelenjar Pituari dan Hipotalamus melalui suatu aktivitas fisik berat, aktivitas seksual bersama pasangan hingga orgasme. Apabila seseorang sering melakukan aktivitas fisik berat maka otak akan memproduksi hormon endorfin dalam jumlah cukup.

Endorfin jarang dikaitkan dengan kondisi “mabuk berat” dibandingkan dengan Endocannabinoids, namun ia terhubung pada aspek “tanpa rasa sakit” pada suatu latihan aerobik. Menariknya, endorfin akan dihasilkan dalam jumlah yang lebih banyak manakala latihan itu bersifat ‘high intensity anaerobic’, kardio, dan latihan penghasil kekuatan (power).

Tahun 1999, ilmuwan melaporkan bahwa memasukkan jarum akunpuntur pada titik tubuh secara spesifik akan meingkatkan produksi endorfin. Pada studi lain dikatakan bahwa level Endorfin yang lebih tinggi ditemukan pada cairan Cerebrospinal setelah pasien beberapa kali diterapi akupuntur.

5. GABA, dikenal sebagai “Molekul Anti-Gelisah”. GABA adalah sebuah molekul penghambat yang dapat menurunkan kemampuan syaraf dalam menghasilkan rasa tenang. Seseorang dapat meningkatkan hormon GABA melalui latihan-latihan seperti Yoga, Meditasi, atau menjalani latihan yang bersifat “Rest and Fullfillment Response”. Benzodiazephines (Valium dan Xanax) berfungsi sebagai zat anti gelisah atau anti depresi, ia meningkat jumlahnya di dalam tubuh manakala seseorang berlatih hingga kadar hormon GABA meningkat. Namun obat-obatan anti gelisah (Valium dan Xanax) akan menyebabkan terjadinya resiko ketergantungan, sedangkan zat alamiah tubuh tidak.

Studi yang dilakukan oleh “Journal of Alternative and Complementary Medicine” menemukan bahwa terjadi kenaikan 27% pada hormon GABA manakala seseorang berlatih Yoga selama 60 menit dibandingkan seseorang yang melakukan aktivitas membaca buku selama 60 menit.

6. Serotonin, dikenal sebagai “Molekul Rasa Percaya Diri”. Serotonin memainkan banyak peranan penting pada tubuh manusia. Kaitan antara level Serotonin yang tinggi dan kurangnya sensitivitas penolakan akan sesuatu membuat seseorang menempatkan dirinya pada situasi yang akan mempengaruhi penilaian akan harga dirinya, meningkatkan rasa kekhawatiran dan menciptakan rasa memiliki. Untuk meningkatkan kadar hormon jenis ini, tantanglah diri kita secara bertahap dan terus menerus pada suatu kondisi yang menghasilkan rasa memiliki akan sesuatu yang berarti. Sering berkata “Saya bisa!” pada suatu aktivitas yang sedang dilakukan terbukti akan menghasilkan kadar Serotonin yang lebih banyak. Ini juga sekaligus akan meningkatkan harga diri dan menimbulkan rasa aman dan tenang.

Berbagai variasi dari obat anti-depresan disebut dengan Serotonin-Specific Reuptake Inhibitors (SSRIs) seperti misalnya Prozac, Celexa, Lexapro, Zoloft, dll. Obat jenis ini memiliki indikasi utama untuk menangani masalah depresi (tekanan) seperti misalnya kegelisahan, panik, Obsessive Compulsive Disorder (OCD, yakni sebuah kondisi psikologis yang ditandai dengan perilaku pengulangan yang disebabkan oleh ketakutan akan pikiran yang tidak masuk akal), masalah makan, sakit yang parah, dan gangguan pasca trauma (PSTD).

SSRIs diberikan karena ia bekerja dengan cara menjaga Serotonin pada syaraf lebih lama dibanding pada umumnya ia dihasilkan sehingga reaksi ini akan memicu rasa lebih bahagia. Secara teoritis, jika Serotonin merupakan satu-satunya hormon yang bertanggungjawab untuk depresi, maka pengobatan jenis ini seharusnya dapat diberikan untuk siapapun. Namun bagaimanapun juga beberapa orang yang tidak merespon obat berjenis SSRIs ini, namun ia merespon pada pengobatan yang mempengaruhi hormon GABA, dopamin, atau Noreprinephrine.

Ilmuwan masih belum memahami seutuhnya apa peran utama dari Serotonin pada kasus gangguan kejiwaan seperti kenapa pada pasien yang begitu percaya pada dokter atau psikiater lalu diberikan obat tertentu akan lebih berhasil dibandingkan mereka yang tidak percaya. Ini menunjukkan bahwa bahkan obat anti depresi punn bekerja pada tiap orang secara berbeda-beda.

7. Adrenalin, dikenal sebagai “Molekul Energi”. Adrenalin, secara teknis dikenal sebagai Epinephrine (biasa disingkat “Epi-Pen”). Ia berperan besar pada mekanisme “Fight or Flight Response”). Telepasnya Epinephrine menyebabkan terjadinya luapan energi yang sangat tinggi. Adrenalin menyebabkan peningkatan detak jantung, tekanan darah, menyebabkan menyempitnya pembuluh darah yang kurang penting dan meningkatkan darah ke otot-otot yang lebih besar. Hormon ini sudah bisa diproduksi di laboratorium dan digunakan sebagai terapi pada reaksi alergi yang akut.

Apabila terjadi kondisi ketakutan yang luar biasa, maka tubuh akan membentuk mekanisme yang disebut dengan “Adrenaline Rush”. Ia akan dipicu oleh suatu kondisi yang dianggap sangat membahayakan diri. Seseorang dapat membuat sebuah kondisi yang bersifat “Adrenaline Rush” melalui bernafas cepat yang sangat pendek sembari mengkontraksikan otot-otot. Latihan ini dapat berguna sesekali khususnya pada saat tubuh kita butuh untuk segera bersemangat.

Sebuah lonjakan Adrenalin membuat seseorang merasa sangat bersemangat. Ia dapat menjadi obat bagi kebosanan, rasa tidak enak, dan kejenuhan. Mengambil resiko, dan melakukan hal-hal yang menakutkan yang membuat seseorang keluar dari zona nyaman akan meningkatkan kadar hormon ini dalam jumlah besar. Bagaimanapun juga, ada sebagian orang yang melakukan kegiatan-kegiatan penuh resiko tinggi untuk mendapatkan reaksi “Adrenaline Rush” ini seperti misalnya aktivitas Parkour, atau balapan kendaraan, atau aktivitas sejenis dengan itu.

KESIMPULAN

Tidak ada satupun sudut pandang di dunia ini yang dapat menjelaskan secara pasti bagaimana cara menyeimbangkan kondisi kimiawi tubuh yang terkait dengan sebuah rasa tertentu. Meskipun seluruh jenis hormon diketahui dan dapat dibuatkan sintesa di laboratorium, tetap saja ada banyak wilayah yang masih abu-abu yang menunjukkan bagaimana sesungguhnya semua hormon itu saling bekerja, saling mempengaruhi satu sama lain. Bagaimana bisa sekian ratus hormon itu ada di dalam tubuh manusia dan saling menyeimbangkan satu sama lain. Meski demikian, kita bisa mengambil pelajaran dari fungsi-fungsi spesifik setiap hormon untuk kasus per kasus.

Pada tulisan saya mengenai “Fenomena Tenaga Dalam” sudah saya jelaskan secara singkat bagaimana kecenderungan pengaruh hormon ini pada aktivitas yang sering dikenal dengan “kemampuan supranatural” atau “kemampuan manusia super”. Adrenalin Rush yang ditingkatkan sedemikian rupa membuat orang bisa melompat tinggi mendadak, berlari sangat cepat, atau mengangkat beban berat yang luar biasa. Kemampuan luar biasa dari fungsi hormonal ini terus diteliti secara ilmiah untuk menghasilkan ragam “manusia super”. Salah satu tools tradisional untuk menuju kesana adalah latihan Merpati Putih. Namun manakala melihat maksud dan tujuan penciptaan ilmu Merpati Putih berdasarkan Amanat Sang Guru yang berada pada jujur dan welas asih, percaya pada diri sendiri, selaras dan seimbang dalam kehidupan sehari-hari, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesungguhnya Merpati Putih tidak mengajarkan untuk menjadi seorang “manusia super”. Sehingga makna “Kembali ke Hakekat” adalah kembali bagaimana kita mengikuti dasar penciptaan ilmu MP ini. Dengannya, keseimbangan hormon dapat tercapai secara wajar. Terlalu mengejar kesaktian, menyebabkan terjadinya peningkatan “Adrenalin Rush” yang sangat tinggi. Karena lokasi hormon Adrenalin ini ada di atas Ginjal dan menempel, maka mudah bagi praktisi yang ambisinya kesana untuk terkena masalah pada Ginjal. Apalagi manakala tidak diparalelkan dengan pengetahuan mengenai ilmu Nutrisi. Demikian juga pada praktisi yang sangat mengejar ambisi untuk bisa “Getaran Tutup Mata” sehingga berlatih terus menerus secara mengurung diri dari dunia luar akan menyebabkan hormon Oksitosin menjadi melimpah ruah, akibatnya ia jadi sulit bersosialisasi dengan orang lain. Rasa percaya dirinya yang sangat tinggi menyebabkan otaknya menterjemahkan bahwa ia adalah orang yang hebat. Ini akan memutus ikatan antar manusia. Dan lain sebagainya. Maka solusi aman dari berlatih MP adalah … kembali ke Hakekat … sebagaimana Amanat Sang Guru dilimpahkan kepada kita semua.

Semoga bermanfaat.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →