Otak Kepala (Head Brain), Otak Jantung (Heart Brain), Otak Perut (Gut Brain)

Otak Kepala (Head Brain), Otak Jantung (Heart Brain), Otak Perut (Gut Brain)

Sejak awal peradaban, manusia selalu mengekspresikan perasaan-perasaan dalam bentuk Cinta, rasa sakit, marah, kesal, dan lain sebagainya dari hati dan beberapa rasa lain dari perutnya. Oleh karena itu seringkali perasaan-perasaan tersebut dikaitkan dengan lokasi dimana ia berada seperti misalnya sakit hati, cinta, dan lain-lain. Jika seseorang berasa sakit hati maka ia akan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa “nyeri”. Demikian juga saat ia merasa ketakutan, maka perut tiba-tiba merasa tidak enak dan lemaslah seluruh tubuh. Dahulu, para Rasionalis dan sebagian ilmuwan menganggap ungkapan tersebut hanyalah kiasan belaka. Namun seiring kemajuan ilmu pengetahuan ternyata ditemukan bahwa hal-hal tersebut ternyata memiliki penjelasan ilmiah.

Dunia Barat memahami bahwa ada rasa yang bisa disensor oleh Heart (selanjutnya saya sebut dengan “hati” yang merujuk pada qolbu) dan ada yang bisa disensor oleh Perut (Usus). Tentunya perkembangan ini muncul setelah penelitian yang sangat mendalam mengenai Brain (merujuk pada otak kepala), lalu penelitian mengenai Heart Brain (otak jantung), dan penelitian kemudian penelitian mengenai Gut Brain (Otak Perut).

Otak kepala, otak jantung, dan otak usus sesungguhnya saling bekerja sama. Namun mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Bahkan ketiganya dapat dianggap memiliki “pikirannya” tersendiri sesuai dengan fungsi spesifiknya. Ketiganya saling bekomunikasi dan selalu berusaha untuk mengarahkan pada kondisi terbaik pada tubuh, menjaga keseimbangan secara alamiah, dan menjadikan tubuh berbahagia. Namun kadang, kehendak manusia itu sendirilah yang sesungguhnya mengganggu jalinan komunikasi antara ketiganya. Ada sesuatu yang dapat mempengaruhi kualiats ”pikiran” dari ketiganya.

Menurut Anil K. Rajvanshi pada bukunya yang berjudul “Nature of Human Thought” (edisi kedua, 2011) dikatakan bahwa otak kepala umumnya berisi 100 milyar syaraf dan menjadi pusat pikiran bagi dirinya sendiri. Usus (meliputi system pencernaan tubuh) berisi tidak kurang dari 500 juta sel syaraf dan 100 juta neuron. Ia hampir seukuran otak kucing. Perut “bicara” dengan otak kepala tidak hanya secara kimiawi melalui pelepasan zat-zat kimia kedalam darah yang kemudian dibawa ke otak melainkan juga dapat mengirimkan sinyal listrik melalu syaraf vagus. Syaraf vagus sendiri merupakan jenis syaraf parasimpatik (bekerja dibawah sadar) yang sering terkait dengan kondisi “Rest and Fullfillment response”.

Istilah Vagus berasal dari Bahasa Latin yang berarti samar, tak berbatas, mengembara. Syaraf Vagus merupakan salah satu syaraf yang terpanjang didalam tubuh yang fungsi utamanya untuk menyampaikan informasi dan status dari organ internal seperti usus dan jantung ke otak. Dimulai dari kepala dan setelah melewati semua organ kemudian berakhir di dekat anus. Syaraf ini merupakan syaraf yang sangat penting di dalam tubuh karena ia dapat mengontrol detak jantung, pembuangan, dan fungsi mendasar tubuh lainnya termasuk kekebalan tubuh (imunitas).

Adam Hadhazy dalam bukunya “Think Twice: How the Gut’s Second Brain Influences Mood and Well Being” (2010) mengatakan bahwa kebanyakan dari neuron pada usus digunakan untuk proses pencernaan. Sistem usus sendiri merupakan sebuah mesin pemroses kimiawi yang sangat kompleks yang mampu memecah makanan, menyerap nutrisi, dan membuang limbahnya kebawah melalui kontraksi otot anus. Ditambah lagi system syaraf otonom yang dimilikinya memiliki kemampuan untuk bekerja secara berdiri sendiri dengan otak.

Lebih jauh lagi dikatakan bahwa ilmuwan telah menemukan sejumlah informasi khusus yang mengalir dari usus ke otak melalui syaraf vagus yang bersifat satu arah yakni hanya dari usus ke otak dan tidak kebalikannya. Sehingga meskipun otak manusia tidak berfungsi namun apabila tubuhnya dimasuki makanan maka usus akan tetap mencerna secara otomatis. Interaksi sebaliknya (dari otak ke usus) terjadi manakala kita merasa lapar dan otak memerintahkan tubuh untuk mendapatkan makanan atau ketika ada sesuatu yang bermasalah terjadi di dalam usus seperti rasa sakit atau diare yang memerlukan obat-obatan. Namun seringkali hubungan ini bisa rusak oleh satu dan lain hal. Kerusakan hubungan komunikasi ini menyebabkan masalah seperti misalnya Anorexia. Anorexia adalah gangguan psikis dimana penderitanya merasa bahwa dirinya terlalu gemuk dan membiarkan diri mereka kelaparan. Berbeda dengan puasa dimana puasa hanya mensyaratkan beberapa jam saja dan tetap ada waktu berbuka yang sudah ditentukan.

Dr. Michael Gershon, Professor of Anatomy and Cell Biology dari Columbia-Presbyterian Medical Center New York mengatakan bahwa secara structural dan secara syaraf kimiawi system syaraf usus adalah otak bagi dirinya sendiri. Didalam ‘tabung’ panjang usus terletak sebuah jaringan mikrosirkuit kompleks yang dikendalikan oleh satu atau lebih neurotransmitter dan neuromodulator yang tidak dapat ditemukan dimanapun pada system syaraf perifer (bagian dari syaraf yang didalam syarafnya terdiri dari sel-sel yang membawa informasi dari dan ke sistem syaraf pusat yang terletak diluar otak dan sumsum tulang belakang). Lebih jauh lagi, ia mengatakan bahwa otak perut memainkan peranan utama dalam kebahagiaan dan kesengsaraan.

Bukti-bukti penelitian seperti yang dilakukan oleh Paul Canali dari Evolutionary Healing Institute mengatakan bahwa ada dari emosi kita yang sebagian besar dipengaruhi oleh reaksi kimia dan syaraf di dalam usus. Banyak dari neurotransmitter utama seperti Serotonin, Dopamine (hormon kenikmatan dan rasa sakit), Glutamate (hormon pembelajaran dan memori), dan Norephinephrine (hormon stress) ditemukan disana. Produksi hormon Serotonin (dikenal sebagai hormone anti depresi) di tubuh kita ternyata 95% nya didapatkan dari usus. Bahkan Benzodiazepines yang merupakan bahan dasar dari obat psikoaktif untuk Xanax dan Valium ditemukan disana yakni zat yang menyebabkan terjadinya ‘kalem’ atau ‘tenang’.

Otak Kepala kita berkomunikasi dengan Otak Perut umumnya melalui Sistem Syaraf Otonom. Maka apabila Sistem Syaraf Otonom seseorang baik artinya kecenderungan hubungan antara otak kepala dan otak perut juga membaik. Otak Perut dibangun secara biologis untuk membuat kita selalu tetap dalam kondisi sehat dan memiliki kesadaran tinggi. Membuat kita bisa bertahan hidup dalam kondisi-kondisi yang menyulitkan selama dimengerti cara kerjanya.

Para leluhur kita sesungguhnya mengetahui hubungan antara otak-usus ini. Namun tentunya cara mereka mendapatkan pengetahuannya bukanlah dengan melakukan serangkaian penelitian ilmiah melainkan menggunakan olah rasa sedemikian rupa. Bahkan lebih jauh lagi dikenali dalam tubuh kita ada 3 otak yakni Otak Kepala (head brain), Otak Jantung (heart brain), Otak Perut (gut brain). Nanti akan saya tulis mengenai Otak Jantung atau heart brain dalam pembahasan tersendiri.

Kita bisa melihat, bahwa latihan MP pada dasarnya berusaha mengenali dan menggali potensi dan kemampuan dari 3 otak ini. Dilatih terus menerus hingga dikuasai potensinya. Artinya, seorang praktisi MP mesti memiliki minimal 3 jenis kecerdasan pikiran. Yakni kecerdasan pikiran yang ada di otak kepala (head brain, berhubungan dengan penggunaan imajinasi, angan-angan, akal, nalar, logika, olah nalar), kecerdasan pikiran yang ada di otak jantung (heart brain, berhubungan dengan olah roso), dan kecerdasan pikiran yang ada di otak perut (gut brain, berhubungan dengan makanan, nutrisi, kenikmatan, syahwat). Masing-masing dari kecerdasan ini tentulah memiliki tahapan atau tingkatannya dimana penguasaan terhadap salah satunya saja secara maksimal akan melahirkan suatu kemampuan yang “ngedhab-edhabi”. Apalagi manakala ketiga kecerdasan ini mampu disatukan, disinergikan sedemikian rupa dengan kaidah-kaidah tertentu.

Sebagai contoh, pada tingkat Dasar saja sudah dikenalkan dengan pelatihan untuk merasakan dan mengenali Otak Perut (gut brain) melalui Nafas Pengendapan. Kemudian berturut-turut mulai dikenalkan dengan Otak Jantung (heart brain) melalui Niat, dan Otak Kepala (head brain) melalui Imajinasi. Tranmisi energinya hampir seluruhnya menggunakan system syaraf Vagus. Maka dari itu dalam kaidah beladiri klasik Timur sering muncul istilah “tak terbatas” (sesuai dengan asal kata ‘vagus’ dlm bahasa Latin yang berarti ‘tak terbatas/hampa/mengembara’). Kita juga jadi mengerti kenapa banyak Nafas Pengendapan menyebabkan praktisi lebih kalem/tenang karena ada zat aktif yg dilepas disana yakni Benzodiazepines penghasil efek rasa tenang.

Kalau saya analogikan dengan smartphone, penambahan “otak” yang ada didalamnya akan meningkatkan kemampuan smartphone tersebut. Sebuah smartphone yang memiliki hanya 1 otak disebut dengan “single core”. Apabila memiliki 2 otak disebut dengan “dual core”. Artinya, smartphone yang dual core mestilah lebih baik dari smartphone yang single core. Selanjutnya, smartphone yang quad core mestilah lebih baik lagi dari yang dual core. Namun, banyaknya “otak” yang dimiliki ini apabila tidak dikenali betul cara pakainya hanya akan menyebabnya 70% fitur dari smartphone menjadi mubazir. Kebanyakan pengguna smartphone hanya memakai 30% dari fitur yang ada. Bagaimana caranya agar fitur smartphone itu terpakai secara maksimal? Cara adalah, KITA sebagai pengendali smartphone mulai belajar untuk mengerti fungsi-fungsi yang ada didalamnya. Semakin dipahami fungsinya, maka smartphone itu semakin nyamanlah kita gunakan dalam menyelesaikan problematika kehidupan yang ada. Jika smartphone itu hanya teronggok begitu saja tanpa bisa difungsikan, mestilah ada yang salah pada KITA sebagai pengendali smartphone itu. Atau jika smartphone itu berfungsi tidak sebagaimana layaknya, ada yang salah juga dengan diri kita. Semisal, smartphone dipergunakan untuk bergosip ria, menyakiti hati orang melalui sms atau tulisan, dan lain sebagainya. Maka kembali pada prinsip bahwa KITA sebagai pengendali smartphone yang memiliki sekian ‘otak’ mestilah memiliki pengetahuan agar smartphone itu dapat menjadi JALAN KEBAIKAN. Misal, dengan mengirimkan nasehat-nasehat baik melalui fitur atau aplikasi yang ada didalamnya (sms, whatsapp, facebook, dll).

Ada peribahasa, “baiklah sejak di pikiran”. Sekarang kita mulai paham pikiran yang mana yang dimaksudkan peribahasa tersebut.

Anda punya smartphone? Disitu ada kaidah ilmu MP di dalamnya, secara hakekat.

Semoga bemanfaat.

TAMBAHAN:
Ada disebut dalam khasanah Jawa dengan “Betal Makmur”, “Betal Mukarom”, dan “Betal Mukadas” berdasarkan klasik primbon Jawa. Kata Betal yg dimaksud mengacu pada kosakata Arab yakni Baitul atau Rumah. Betal Makmur yakni Baitul Makmur. Lokasi Betal Makmur di kepala, Betal Mukarom di dada, dan Betal Mukadas dibawah pusar. Itu kurang lebih sama dengan Head Brain, Heart Brain, dan Gut Brain dalam bahasa modernnya.

Kita jadi bisa mengerti kenapa Baitul Makmur diletakkan di kepala. Karena kalau pikiran kepala sudah bener maka makmurlah semua apa yg ada didalam diri kita. Kenapa? Karena otak kepala produksi enzym dan hormon. Hormon adalah zat utk komunikasi antar sel. Hormon juga gerbang jiwa. Memperbaiki pikiran artinya memperbaiki seluruh tubuh keseluruhan lahir batin.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →