Merpati Putih sebagai Seni Dalam Mengubah Diri

Tulisan ini saya ringkas dari buku saya yang berjudul “Kebugaran Merpati Putih” pada sub bab Landasan Teori. Selamat menikmati.


MERPATI PUTIH SEBAGAI SENI DALAM MENGUBAH DIRI

Segala sesuatu diciptakan mesti memiliki tujuan. Bumi dan seisinya, langit dan seisinya, seluruh alam semesta diciptakan memiliki tujuan. Bahkan penciptaan manusia juga memiliki tujuan. Pemahaman akan kaidah penciptaan ini akan mengarahkan kita pada jalur mana yang ingin kita capai. Demikian juga dengan penciptaan Merpati Putih.

Apabila kita mulai memahami mengenai kaidah penciptaan maka akan semakin jelaslah bahwa tujuan penciptaan ilmu Merpati Putih berdasarkan pengetahuan warisan dari para leluhur adalah empat sikap watak yang disebut dengan Amanat Sang Guru. Keempat sikap watak tersebut apabila dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi adalah merupakan sebuah seni mengolah diri yang luar biasa. Ia mempunyai tujuan yang jelas yang mengarahkan praktisinya menuju insan paripurna yang sempurna lahir batin berlandaskan aspek ketuhanan. Tidak ada tujuan yang menyatakan bahwa seorang pesilat Merpati Putih harus menjadi seorang ahli menghancurkan benda-benda keras atau menjadi seorang petarung hebat. Jikapun ia kebetulan harus melewati itu semua maka itu merupakan suatu perjalanan hidup yang harus dilalui namun bukan dibanggakan dan dijadikan kehebatan diri. Hal-hal yang tertuang pada empat sikap watak adalah tujuan utama dan suatu pencapaian jiwa yang luar biasa.

Agar dapat lebih memahami kaidah penciptaan ilmu Merpati Putih yang dominan pada pengolahan jiwa maka diperlukan sudut pandang dari aspek kejiwaan secara baik. Disiplin ilmu yang menurut saya paling tepat untuk diparalelkan dalam memahami ilmu Merpati Putih adalah disiplin ilmu psikofisiologis.

Psikofisiologi merupakan ide lama sejak tiga puluh tahunan lalu namun kemudian ia berkembang menjadi sebuah ilmu pengetahuan tersendiri. Ia mulai hadir sejak manusia mulai berusaha untuk mengenali dirinya sendiri sebagai sebuah obyek dari kesadaran diri yang dimilikinya. Saat seseorang mulai berusaha mengenai dirinya berdasarkan tanda-tanda intuisi yang didapatinya yang menyebabkan perubahan pada diri seperti adanya perubahan fisik yang terkait pada perasaan-perasaannya. Perasaan seperti sentimen, frustasi, cinta, dan lain sebagainya yang kemudian memiliki pengaruh pada fisik. Keduanya ternyata saling berpengaruh, dan kedua aspek fungsi manusia ini telah menjadi perhatian utama bagi para ilmuwan. (Greenfield & Sternbach, 1972, p. v)

Dimulai dari sekedar pengaruh antara perasaan dan raga secara umum, kemudian mulai berkembang menjadi lebih spesifik pada kaitan perasaan dan organ tubuh, pada jaringan tubuh, metabolisme, sistem kekebalan tubuh, sistem endokrin, sistem syaraf, bahkan hingga genetika dan banyak aspek dari biologi molekular. Area yang mampu dilingkupi oleh ilmu psikofisiologi berubah secara dramatis, termasuk juga disiplin ilmu penunjang lainnya. Aspek pengukuran menjadi berkembang sedemikian rupa pada abad ke dua puluh satu dimana proses perekaman, prosedur representasi signal, dan teknik-teknik maju yang digunakan dalam menganalisa statistik yang beragam telah mulai ditemukan. Peneliti kini sudah mulai dapat menemukan hubungan yang dapat lebih terukur antara otak, sistem syaraf otonom dan somatik, endokrin, imunologi, hingga sampai pada proses genetika. (Psychophysiological Science: Interdisciplinary Approaches to Classic Questions About the Mind, 1981, Cacioppo, Tassinary, & Berntson, p.1)

Dalam khasanah keilmuan Merpati Putih, khususnya ketika mulai bersentuhan dengan materi-materi sensitif seperti Pasir Besi, Getaran, atau yang lainnya, dan pada kebanyakan khasanah ilmu Jawa dikenal ada suatu latihan yang harus dilakukan dalam periode waktu tertentu seperti misalnya suatu latihan X harus dilakukan dengan menjalani latihan olah nafas selama 7 hari berturut-turut dengan niat A. Atau suatu latihan Z yang harus dilakukan dengan menjalani latihan olah nafas selama 14 hari berturut-turut dengan niat B, dan atau yang sejenis dengan itu dengan rentang periode waktu yang beragam dan dengan niat awal tertentu.

Proses-proses tersebut dibuat bukanlah tanpa suatu alasan. Seiring perjalanan waktu, proses tersebut dapat dilihat sebagai suatu proses untuk PEMBENTUKAN KEBIASAAN BARU dan PENGHANCURAN KEBIASAAN LAMA yang terjadi di dalam diri. Berbicara mengenai kebiasaan, ada puluhan mungkin ratusan kebiasaan yang kita lakukan sehari-harinya baik disadari ataupun tidak. Sebagian orang mampu bangun pagi dikala Subuh dan sebagian orang tidak. Sebagian lagi mampu bangun pada sepertiga malam, dan sebagian lagi tidak. Sebagian merokok, sebagian lagi tidak. Dan banyak lagi. Mana yang dianggap “bermanfaat” biasanya karena sudah paham manfaatnya, namun sebagian menganggap kebiasaan itu “biasa-biasa saja” karena memang dianggap seperti itu adanya. Seiring meningkatkan ilmu dan kesadaran akan pemahaman maka biasanya akan semakin “menjadi-jadi” atau malah terkoreksi.

Ada proses-proses khusus yang terjadi seperti misalnya suatu latihan dilakukan pada suatu area tertentu yang berisi unsur alam tertentu semisal dominan air, dominan angin, dominan api, dominan tanah, dan sebagainya. Termasuk pada kapan melakukan latihan tersebut, ada yang pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, atau tengah malam. Lokasi latihanpun dipilihlah berdasarkan kaidah tertentu seperti hutan, sendang (danau), pantai, gunung, dan lain-lain. Konsistensi juga demikian, ada yang di lokasi yang sama secara terus menerus tidak boleh berubah pada jam yang sama juga. Dan variabel-variabel lain yang menjadi pembeda antara satu latihan dengan latihan yang lain. Hal ini dapat disikapi sebagai bagian dari adaptasi diri. Adaptasi yang dimaksud adalah sebuah proses penyesuaian terhadap kondisi fisiologi, psikologi, alam, respirasi, rasa, dan sebagainya. Adaptasi ini akan membentuk pola kebiasaan baru yang akan dikenali oleh diri. Sebagai contoh, latihan Pasir Besi pada wilayah yang dominan panas, atau pada gesekan antara telapak tangan dengan material yang bersifat panas, dan atau yang sejenis dengan itu. Ada sebuah pembuatan kebiasaan baru berdasarkan suatu pola tertentu yang bersumber pada kearifan lokal keilmuan tanah Jawa disana.

Bagaimana ilmuwan melihat fenomena hal yang seperti ini?

Ada buku yang dikarang oleh Maxwell Maltz yang berjudul Psycho-Cybernetics yang sangat populer pada tahun 1960-an yang mengatakan bahwa kebiasaan seseorang akan berubah manakala ia berhasil melewati 21 hari dengan aktivitas yang sama terus menerus. Maxwell merupakan seorang dokter medis spesialis bedah plastik yang menemukan pola bahwa kebanyakan pasiennya merasakan perubahan permanen pada operasi plastik yang dilakukannya setelah 21 hari. Bertahun-tahun setelah itu, tepatnya pada tahun 2009 sekelompok peneliti dari University College London (Phillippa Lally, Cornelia H. M. Van Jaarsveld, Henry W. W. Potts, dan Jane Wardle) melakukan penelitian terhadap 96 orang selama 12 minggu menemukan bahwa terjadinya perubahan kebiasaan pada seseorang rata-rata selama 66 hari. Khusus untuk individual biasanya terjadi antara 18 hari hingga 254 hari.

Jadi, apabila ingin membangun suatu kebiasaan baru lakukanlah paling tidak 3 minggu hingga 2 bulan. Lebih lama lebih baik, dan kebiasaan baru itu akan terbentuk dengan sendirinya tanpa kita pikirkan.

Lalu bagaimana jika kita ingin mengubah suatu kebiasaan yang sudah ada yang tidak kita sukai misal, kebiasaan merokok, minum-minuman keras, narkoba, dan lain sebagainya yang buruk? Sederhananya, bagaimana untuk menghancurkan kebiasaan lama yang buruk dan berganti dengan kebiasaan baru yang baik?

Proses pembentukan kebiasaan baru tanpa adanya penghancuran kebiasaan lama yang sudah ada biasanya berlangsung relatif cepat. Sebab tidak ada bentrokan pada pemikiran dan pada dirinya pada apa-apa yang sudah dia jalani sebelumnya. Akan tetapi khusus untuk penghancuran kebiasaan lama maka diperlukan dua tahap proses yakni pembentukan kebiasaan baru terlebih dahulu baru kemudian penghancuran kebiasaan lama.

Seorang ilmuwan dalam bidang psikologis yakni Timothy A. Pychyl, Ph.D. dari Carleton University mengatakan bahwa membentuk kebiasaan baru dan menghancurkan kebiasaan lama merupakan dua sisi mata uang. Menghancurkan kebiasaan lama pada dasarnya adalah suatu proses membentuk kebiasaan yang baru, sebuah respon potensial yang baru. Pola respon lama berdasarkan kebiasaan lama masih ada di otak sebagai suatu pola syaraf namun sudah mulai tidak dominan lagi sehingga ia tidak lagi potensial untuk dijalankan oleh otak.

Ilmuwan neuroscience dari Departemen Psikologi Universitas Oregon, Elliot Berkman, Ph.D., mengatakan bahwa lebih mudah mengerjakan sesuatu yang baru dibanding menghentikan melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan tanpa melakukan penggantian kebiasaan. Lebih jauh lagi Elliot mengatakan bahwa setidaknya ada 3 faktor agar seseorang dapat menghancurkan kebiasaan lama. Pertama, adanya ketersediaan alternatif kebiasaan baru. Kedua, kuatnya motivasi diri untuk berubah. Ketiga, adanya kemampuan fisik dan mental untuk menghancurkan kebiasaan lama. Ia juga mengatakan bahwa suatu kebiasaan yang berlangsung terus menerus akan menetap pada level syaraf sehingga ia akan menjadi penentu munculnya suatu perilaku. Ia juga menambahkan bahwa orang-orang yang ingin menghancurkan kebiasaan lamanya karena ingin mengubah nilai-nilai pribadi pada dirinya akan memiliki peluang berubah jauh lebih besar dibanding orang-orang yang melakukannya karena faktor eksternal semisal tekanan dari orang lain.

Seorang professor psikologis dan ahli otak dari University of Massachusetts Amherst, Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., mengatakan bahwa menghancurkan sebuah kebiasaan berarti seseorang berusaha untuk menghancurkan hubungan antara kebiasaan hidupnya dan hasil yang didapati darinya. Tidak ada waktu pasti kapan sebuah kebiasaan akan terganti dengan yang baru. Bisa saja hal itu terjadi begitu cepat, namun bisa saja lambat. Ia menyarakan agar segera mulailah memberikan penghargaan dari mulai sekecil-kecilnya perubahan tanpa bosan sehingga kebiasaan lama dapat diruntuhkan penghargaannya dan digantikan dengan penghargaan pada semua aspek dari pembentukan kebiasaan baru tersebut. Dari penelitian profesor Susan didapati data bahwa paling tidak diperlukan paling tidak waktu 2 bulan agar sebuah kebiasaan lama hilang dan berganti dengan kebiasaan baru.

Thomas G. Plante, Ph.D., seorang ilmuwan dari Santa Clara University mengatakan bahwa tidak ada jawaban singkat mengenai bagaimana suatu kebiasaan dapat dihancurkan dan diganti dengan yang baru. Variabelnya begitu luas. Meski demikian, ia memberikan gambaran bahwa pertama, hal itu bergantung kepada seberapa banyak dan seberapa kuat seseorang ingin menghancurkan kebiasaan lamanya. Sebab seringkali perilaku orang membingungkan. Seperti misalnya seseorang ingin sekali tubuhnya kurus namun ia tetap saja makan banyak tidak terkontrol. Seseorang ingin sekali terbebas dari alkohol atau rokok, namun ia tetap saja masih mengkonsumsinya meski dalam jumlah sedikit. Kedua, bagaimana cara seseorang menyelesaikan suatu masalah dapat mempengaruhi bagaimana ia membentuk kebiasaannya. Sangat mudah untuk menghancurkan sebuah kebiasaan yang masih baru dibandingkan kebiasaan yang sudah lama dijalani. Ketiga, apa resiko apabila kebiasaan lama ini tidak dihancurkan? Apakah seseorang akan ditinggalkan pasangannya? Apakah akan kehilangan pekerjaan? Apakah akan jadi sakit? Apakah sesuatu yang buruk akan terjadi apabila tidak diubah? Sebagian orang benar-benar sangat kesulitan untuk mengubah kebiasaannya dan menganggapnya itu biasa-biasa saja, sementara bosnya, temannya, saudaranya, dan keluarganya menganggap kebiasaan itu sungguh sangat mengganggu dan berbahaya. Orang seperti ini merasa nyaman pada kebiasaan yang sesungguhnya tidak membuat nyaman lingkungan disekitarnya. Dalam kasus yang seperti itu, diperlukan tekad yang kuat secara biologis, psikologis, sosial, budaya, dan faktor lain untuk berubah.

Bahkan Prof. Kazuo Murakami dalam bukunya “Divine Message of DNA” mengatakan bahwa suatu kebiasaan akan memicu aktifnya gen tertentu. Pemicu gen menjadi aktif dimulai dari lingkungan dan niat hati yang kokoh. Maka, apabila gen positif ingin aktif (on) maka penting dalam menguatkan niat sedemikian rupa, lalu membentuk dan masuk pada suatu lingkungan yang mendukung. Bruce H. Lipton juga membenarkan, bahwa persepsi yang dibangun oleh seseorang akan menentukan bagaimana suatu gen bereaksi. Persepsi yang dibentuk pada lingkungan menentukan bagaimana DNA akan menduplikasi menjadi RNA lalu diterjemahkan oleh sel-sel tubuh menjadi ‘sesuatu’.

Ingatlah bahwa suatu kebiasaan yang berlangsung terus menerus maka secara literal akan berakar pada level syaraf sehingga ia akan menjadi dominan. Maka kuatkanlah niat dalam hal ingin berubah menjadi lebih baik.

Kalau dilihat dari keterangan para ahli, semuanya bermuara pada satu kesimpulan yang sama … yakni perubahan pada jiwa terlebih dahulu barulah kemudian semua ikut berubah. Para ilmuwan itu sejak tahun 1960-an hingga tahun 2013 terus berusaha merumuskan bagaimana cara mengubah diri. Sebab mengubah kebiasaan pada hakekatnya adalah proses mengubah diri. Namun, simaklah apa yang Allah sampaikan pada surat Ar Ra’du ayat 11 bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa-apa/keadaan yang ada pada diri suatu kaum kecuali kaum itu mengubah apa-apa/keadaan yang ada pada jiwa-jiwa mereka. Surat itu berisi jelas mengenai bagaimana cara mengubah diri, yakni ubah dulu jiwa kita terlebih dahulu lalu disusul raga kita. Jiwa diprioritaskan terlebih dahulu, barulah kemudian Allah akan mengubah semuanya. Yang perlu dilakukan oleh kita adalah mengubah jiwa kita terlebih dahulu.

Lalu apa yang mesti diubah?

Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu dipahami bahwa apa yang ada di dalam diri yang terkait dengan jiwa-jiwa adalah keadaan jiwa. Ada jiwa yang cenderung mengarah ke keburukan (ammarah bi su’), kemudian jiwa yang masih terombang-ambing antara perbuatan baik dan penyesalan (lawwamah), dan kemudian bila sudah dilewati akan menjadi jiwa yang tenang (mutma’innah). Sedangkan apa yang ada pada jiwa-jiwa tersebut adalah hawa nafsu. Maka kalau kita memperbaiki kondisi ketiga kondisi jiwa dan hawa nafsu kita maka dipastikan diri ini akan berubah menjadi lebih baik. Dalam kaidah klasik Jawa disimbolkan dengan warna Kuning, Merah, Putih, dan Hitam dimana sebagian penafsir mengatakan itu sebagai perlambang dari unsur Angin, Api, Air, dan Tanah. Maka sejatinya, apabila seseorang berlatih ilmu Pasir Besi dengan dominan elemen Api artinya adalah orang-orang yang semestinya sudah punya tahap pengendalian akan Amarah dirinya. Tanpanya, maka hal itu hanya akan merusak dirinya sendiri dan orang di sekitarnya. Menjadi pertanyaan, apa dan bagaimana cara pengendalian tersebut? Sudahkah dikenali ‘sang pengendali’nya? Kapan waktu nanti saya bahas secara terpisah.

Dasar mulai terjadi perubahan adalah lahirnya niat yang kuat dan teguh yang disertai dengan usaha pelaksanaan untuk mewujudkan niat tersebut. Ada tekad atau a’zam yang sangat kuat untuk berubah dan melakukan perubahan melalui ikhtiar pada saat itu. Niat adalah maksud hati yang diiringi dengan suatu perbuatan tertentu pada waktu yang sama (saat itu). Maka niat tidak sekedar hanya berucap dalam hati sebagai maksud tertentu, namun terdapat kondisi dimana seseorang setelah berniat harus terus dilanjutkan dengan melakukan suatu ikhtiar atau usaha tertentu secara maksimal. Maka setelah berniat dalam hati, selanjutnya adalah menyempurnakan ikhtiar.

Menjadi pertanyaan, bagaimana caranya agar suatu niat benar-benar dapat lahir pada diri dan membawa perubahan diri?

Diperlukan kondisi penyikapan hati sebelum suatu niat disusun. Kondisi penyikapan hati yang dimaksud adalah kesengajaan untuk memunculkan rasa rendah diri di hadapan Allah SWT, Tuhan Sang Maha Perkasa. Analoginya begini, di dalam wilayah dunia saat seorang karyawan ingin memberikan laporan kepada atasannya maka seringkali kita jumpai orang itu menundukkan kepalanya atau badannya di depan atasannya. Atau saat rakyat bersalaman dengan suatu publik figur maka biasanya ia membungkukkan badannya. Kepada para atasan, para pejabat, para publik figur saja kita dapat melakukan itu, apalagi kepada Allah SWT, Tuhan Sang Maha Pencipta Manusia. Maka proses merendahkan diri dapat dipandang sebagai proses mengakui kekurangan dan kelemahan diri bahwa memang manusia itu pada dasarnya makhluk yang lemah dan tidak ada daya upaya melainkan semuanya terjadi atas izin Allah SWT, Tuhan Sekalian Alam. Setelah hati mulai bisa ‘menunduk’, maka kemudian lakukan proses berniat pada saat itu. Susunlah niat dalam hati dengan menggunakan daya kehendak bebas untuk memilih. Apa yang harus dipilih? Yakni memilih untuk mengerjakan suatu ikhtiar atau usaha dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan niat tersebut. Bisa saja seseorang ketika berniat kemudian ia menyerahkan segalanya langsung kepada Allah SWT tanpa mau berusaha. Ia berharap agar Allah sajalah yang akan mengubah nasibnya. Hal itu tidaklah salah. Namun dalam konsep menyempurnakan ikhtiar hal itu dapat dipandang sebagai suatu kekeliruan. Dalam hal menyempurnakan iktiar, maka diperlukan daya juang dan daya gerak pada semua potensi diri yang manusia miliki untuk menuju apa yang diniatkan. Daya tersebut terbagi menjadi 3 bagian besar yakni daya hati, daya akal, dan daya fisik. Memilih untuk menyempurnakan ikhtiar berarti memilih untuk menggunakan ketiga potensi tersebut sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Inilah bentuk pilihan terbaik. Konsep menyempurnakan ikhtiar juga merupakan bagian dari menjalankan prinsip kesabaran. Sehingga berlatih olah nafas Merpati Putih sama halnya sebagai sebuah upaya atau ikhtiar dalam menguji diri secara sabar terus menerus.

Semoga bermanfaat.

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →