Ilmu Jawa – Selamet

ILMU TANAH JAWA

Keselamatan adalah sesuatu yang selalu berusaha untuk diraih dalam bentuk apapun. Menjalani kehidupan didunia dengan selamat. Selamat, pada dasarnya adalah terhindar dari bencana, aman, sehat, sentosa, bahagia, sejahtera lahir dan batin dalam menjalani kehidupan di dunia sampai akhirat. Dalam ungkapan Jawa lazim disebut ‘slamet donya akirat’.

Apabila kita cermati, yang mengejar keselamatan hidup lahir batin dunia dan akhirat bukan hanya orang Jawa namun manusia diseluruh duniapun mendambakannya. Hanya, cara mewujudkan keselamatan tersebut berbeda-beda sesuai dengan kepercayaan, situasi kondisi lingkungan, sarana dan prasarana yang tersedia, penguasaan ilmu dan teknologi, pengalaman hidup, serta adat tradisi kebudayaan masing-masing.

Menariknya lagi, cita-cita dan upaya mewujudkan keselamatan ternyata bukan menjadi orientasi bagi “orang baik-baik” saja. Namun, juga sangat diharapkan oleh para penjahat atau orang-orang yang berbuat salah/buruk, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun selama menjalankan kegiatannya. Artinya, orang-orang jahat pun senantiasa berjuang juga dengan gigih mengupayakam agar dirinya selamat.

Jika diperhatikan lebih jauh lagi, binatangpun juga mempunyai keinginan yang sama dalam hal keselamatan diri. Namun cara binatang menyelamatkan diri semata-mata berdasarkan naluri belaka dan terlihat sangat sederhana. Ia diilhamkan demikian sebagai mekanisme pertahanan diri alamiah. Sementara manusia yang memiliki akal budi dan ilmu pengetahuan luas tentu akan mampu mencari dan menemukan berbagai macam strategi yang dinilai tepat untuk menyelamatkan diri mereka.

Seseorang ingin mencari selamat agar ia dapat menjalani setiap aktivitas dan kegiatan dirinya dengan baik dan mendapat manfaat secara optimal. Misalnya, apa gunanya harta kekayaan melimpah kalau diri sakit-sakitan melulu? Bagaimana menemukan kebahagiaan hidup kalau hampir tiap hari datang masalah yang mengganggu silih berganti? Bagaimana akan selamat kalau jauh dari perintah agama?

Dalam budaya Jawa, wujud keselamatan adalah kemampuan dalam meminimalisir gangguan hidup. Karena sekecil apapun gangguan tadi tentu akan membawa dampak yang tidak diinginkan. Keselamatan dapat juga diterjemahkan sebagai keseimbangan, yakni suatu rintisan untuk menuju ‘golek dalan padhang’.

Berdasarkan pandangan hidup orang Jawa, keselamatan dapat diperoleh dengan cara:

  1. Melakukan pengendalian diri dengan memperbaiki moral, akhlak, budi pekerti.
  2. Membangun dan menjaga harmonisasi dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam semesta.
  3. Mengamalkan ajaran agama dan atau kepercayaan sebaik mungkin dalam rangka membangun keselamatan dunia akhirat.

Dengan luasnya ruang lingkup keselamatan yang didambakan, maka dapat dibayangkan bahwa untuk mencapai keselamatan tersebut setiap individu perlu menjalani bermacam ‘laku’ sesuai dengan ‘angger-angger’ (hukum/undang-undang, atau sederhananya kaidah) atau ‘wewaler’ (larangan) yang menjadi rujukannya.

Karena itulah, dalam upaya mewujudkan laku yang layak dinilai sebagai ‘jalan terang’ atau ‘jalan yang lurus’, kehidupan orang Jawa sarat dengan bermacam ragam yang disebut dengan ‘tata urip, tata krama, tata laku’ agar menjadi ‘laku utama’. Proses transformasinya cenderung dimotori oleh berbagai kalangan yang dipercaya memiliki kualifikasi untuk ‘digugu’ dan ‘ditiru’ seperti orang tua, guru, tokoh masyarakat, ulama, raja, wali, dalang, pujangga, dan lain-lain.

Apabila diperhatikan dengan cermat, ada 3 nilai dominan yang menjadi acuan hidup orang Jawa yakni:

  1. Kolektivisme (kebersamaan)
  2. Spiritualisme (kerohanian)
  3. Rasa kemanusiaan (tenggang rasa)

Nilai-nilai tersebut dijabarkan sedemikian rupa baik berbentuk nasehat, latihan hidup, maupun tuntunan perilaku yang mengikat.

Merpati Putih, sebagai bagian dari keilmuan tanah Jawa pun tidak terlepas dari hal-hal yang saya sebutkan diatas. Nilai-nilai yang dapat digali dari latihan Merpati Putih sesungguhnya akan mengarah kesana.

Sebagai contoh, pada pandangan hidup orang Jawa mengenai pengendalian diri untuk memperbaiki diri lahir batin diatas dapat tercermin dari pola latihan Kebugaran MP misalnya melalui latihan olah nafas. Latihan ini hakekatnya bertujuan untuk memperbaiki kondisi perbaikan diri melalui pengendalian-pengendalian diri. Berlatih mengendalikan niat agar kuat dan dapat difokuskan pada satu tujuan. Berlatih mengendalikan imajinasi agar sesuai dengan apa yang diniatkan. Berlatih mengendalikan kehendak agar selaras dengan apa yang diniatkan dan apa yang diimajinasikan. Berlatih untuk mematuhi agar saat buang nafas ya buang nafas, agar saat tahan nafas ya tahan nafas, dan sebagainya. Berlatih untuk diam/meneng dari segala keinginan dan bayangan yang liar, ketakutan, dll. Lebih jauh lagi, berlatih untuk memasukkan nilai-nilai ketuhanan dalam semua jenis pengendalian diatas. Dan seterusnya sesuai dengan kadar dan pemahamannya. Maka latihan MP dapat menjadi sebuah ‘laku utama’.

Sehingga semua latihan-latihan MP yang keluar dari acuan-acuan umum Jawa diatas umumnya akan melahirkan anomali. Terlalu bernafsu mengejar kesaktian tanpa melibatkan aspek ketuhanan akan melahirkan orang yang tidak punya perasaan. Terlalu mengejar kesaktian tanpa melibatkan aspek kesehatan akan melahirkan bahaya diri. Apalagi dua-duanya.

Latihan MP, khususnya Kebugaran, adalah suatu latihan yang bersifat kolektivisme. Yakni memadukan potensi-potensi yang ada berupa kaidah (angger-angger), wewaler (larangan), didalam lingkungan mikrokosmos (jagat cilik) untuk menuju keselamatan. Maka semua latihan yang dirasa menjauh dari aspek keselamatan mestilah ditunda atau dihindari. Latihan juga semestinya bersifat spiritual dan memiliki dasar spiritual yang jelas dan terintegrasi didalamnya. Melepas aspek ini sama halnya melepas nilai acuan hidup ilmu Jawa. Latihan juga semestinya menghasilkan kemampuan tenggang rasa (tepo seliro) sebab ia mengolah rasa. Tepo seliro sederhananya adalah ‘iso rumongso, ojo rumongso iso’. Suatu istilah yang mudah dihafal namun sulit dijalani. Karena sulit inilah maka ia memiliki nilai yang tinggi.

Maka menggali semua hal-hal yang berhubungan dengan aspek-aspek tersebut diatas adalah suatu keharusan. Menjalaninya apalagi. Dengannya, ilmu MP akan bertransformasi menjadi ‘cara hidup’ atau ‘way of life’, bisa diterapkan dalam menyelesaikan permasalahan hidup praktisinya. Puncaknya memberikan pemahaman untuk selamat dunia dan akhirat.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
MG

(Ditulis di kereta Cirebon Ekspress CN-JKT, 31 Januari 2016 jam 20:00)

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →