Ubahlah Lingkungan Menjadi Lebih Baik

UBAHLAH LINGKUNGAN JADI LEBIH BAIK

Bruce H. Lipton, PHd, dalam penelitiannya mengenai genetika melalui pengembangbiakan stem cell menjelaskan bahwa sebuah sel yang didalamnya berisi gen tertentu lalu dibiakkan pada lingkungan yang berbeda akan menghasilkan jenis sel yang berbeda, padahal genetika sel itu sama. Hal ini menjadikan kesimpulan beliau bahwa ternyata Genetika dapat diubah. Bagaimana caranya? Yakni dengan mengubah Persepsi kita terhadap sesuatu.

Kesimpulan dari penelitian Bruce H. Lipton didalam buku setebal 203 halaman yang berjudul “The Biology of Belief” mengenai genetika adalah sebagai berikut:
1. Perception control behavior
2. Perception control genes
3. Perception rewrites genes

Apa itu Perception dalam pemahaman Bruce H. Lipton?

Perception didefinisikan sebagai “the ability to see, hear, or become aware of something through the senses” atau kalau saya terjemahkan sebagai suatu kemampuan untuk melihat, mendengar, atau menjadi peduli pada sesuatu melalui perasaan. Sederhananya, persepsi adalah cara pandang atau cara kita mensikapi sesuatu.

Kata kuncinya adalah dengan memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kita dan bagaimana perasaan kita berperan dalam mensikapi kebiasaan-kebiasaan tersebut. Perasaan, terkait erat dengan fungsi hormon. Maka berbicara perasaan tidak bisa lepas dari bagaimana fungsi hormon ditubuh kita. Sebab munculnya sebuah perasaan tertentu, akan mengaktifkan hormon tertentu. Aktifnya hormon tertentu akan mengaktifkan enzym tertentu.

Menurut Bruce, sel adalah miniatur manusia, didalamnya ada 2 golongan besar dari enzym yakni Receptor Enzym dan Effector Enzym yang lokasinya berada dipermukaan sel. Receptor Enzym atau enzym penerima, bertugas untuk menerima persepsi dari luar melalui perasaan tertentu. Kemudian hasil dari Receptor Enzym ini diberikan kepada Effector Enzym atau enzym yang bertugas untuk menimbulkan efek tertentu. Hasil dari Effector Enzym ini adalah produk yang bernama Protein. Ia akan masuk kedalam inti sel yakni Nucleus. Di dalam nucleus terdapat gen yang merupakan rantai helix dan terbungkus oleh protein. Protein yang dihasilkan dari Effector Enzym ini akan mencari protein yang cocok dengan yang membungkus gen. Setelah ketemu dengan protein yang tepat, maka pembungkus gen akan terbuka. Gen kemudian melakukan proses replikasi diri untuk ‘dibawa’ oleh protein tersebut ‘naik keatas’. Setelah selesai, maka protein pembungkus gen tadi menutup dan kembali membungkus gen. Nukleus kemudian menunggu atau bersifat ‘wait and see’ berdasarkan persepsi yang mencapai sel tersebut. Kemudian karakteristik sel dan sifatnya akan berubah mengikuti kode genetic apa yang dibawa oleh protein pembawa tersebut.

Pada belahan bumi yang lain, seorang ilmuwan dari Jepang bernama Prof. Kazuo Murakami yang juga berkutat pada bidang genetika melalui bukunya “The Miracle of DNA” dan “Divine Message of DNA”, menjelaskan bahwa agar suatu gen menjadi on atau off, diperlukan minimal tiga hal berikut ini:
1. Lingkungan
2. Mengubah kebiasaan
3. Niat dan tekad yang kuat

Padahal keduanya berada lingkup yang berbeda penelitiannya, akan tetapi melahirkan pendapat yang saling melengkapi. Dalam pemahaman Prof. Kazuo Murakami dikatakan bahwa timbulnya kanker adalah karena aktifnya gen kanker yang ada ditubuh seseorang. Timbulnya penyempitan jantung, gagal ginjal, dan lain sebagainya bermula dari lingkungan, kebiasaan, dan cara pandang atau cara mensikapi. Buku The Miracle of DNA tidak menjelaskan secara teknis bagaimana proses aktifnya gen kanker, tapi bisa dijelaskan dengan sangat baik berdasarkan penelitian Bruce H. Lipton.

Dalam konteks Merpati Putih, yang disebut dengan lingkungan terbagi menjadi dua yakni lingkungan dalam diri dan lingkungan diluar diri. Lingkungan didalam diri adalah hati, akal, dan panca indra. Ini disebut dengan mikrokosmos atau ‘jagat kecil’. Sedangkan lingkungan diluar diri adalah kebiasaan, pola makan, pola istirahat, masyarakat, alam sekitar. Ini disebut dengan makrokosmos atau ‘jagat besar’.

Hati dan Akal memiliki dunianya sendiri, memiliki lingkungannya sendiri. Maka berlatih untuk mengenali hati melalui niat, kemudian mengenali akal melalui imajinasi, kemudian menyatukan keduanya hingga menjadi sebuah keyakinan adalah suatu proses untuk membentuk lingkungan dan kebiasaan yang baru. Lingkungan dan kebiasaan yang baru ini dibentuk dan lahir dari niat dan tekad yang kuat. Panca indra merupakah ‘wadah’ yang sering kita sebut dengan raga atau badan atau tubuh, yakni tempat dimana trilyunan sel berada. Trilyunan sel ini kemudian membentuk satu kesatuan, saling terhubung satu sama lain. Maka jelaslah, bahwa dengan membentuk ‘lingkungan yang baru’ atau ‘lingkungan yang diciptakan baru’ oleh diri kita melalui penyatuan niat dan imajinasi menjadi sebuah keyakinan secara kokoh pada dasarnya akan mampu mengubah genetika di tubuh kita sendiri.

Lebih lanjut lagi, sel yang hidup akan menghasilkan gelombang elektromagnetik. Semakin sehat sel, maka semakin kuat gelombang elektromagnetik yang dihasilkan (kata pengantar alm mas Budisantoso dalam buku Normalisasi Diabetes yang diterbitkan yayasan Saring Hadipoernomo). Semakin kuat gelombang elektromagnetik maka semakin jauh pancaran transmisinya. Gelombang memiliki frekwensi, dan karakteristik dari frekwensi ini ditentukan oleh bagaimana cara kita menyusun gelombang tersebut. Kalau yang disusunnya agar rezeki bertambah, hidup membaik, lancar, dan sebagainya, maka itulah yang akan terjadi. Kaidah Niatingsun yang Nyawiji dalam istilah Jawa dikenal dengan nama modern Law of Attraction (LOA).

Kesemuanya kemudian “diikat” dan “dibungkus” dengan kuat menggunakan kaidah Ketuhanan agar energi yang dihasilkannya semakin bermanfaat pada lingkungan yang dibentuk tersebut. Menyadari betul bahwa semua terjadi atas izinNya, sedikit maupun banyak.

Semoga bermanfaat.

Avatar

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises. Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →