“Fight or Flight” dan “Rest and Fulfillment Response”

“FIGHT OR FLIGHT” dan “REST AND FULFILLMENT” RESPONSE

Oleh: Mas Gunggung

Dalam Psikologi dan Fisiologi dikenal ada 2 mekanisme yang ada pada tubuh manusia, yang juga kebetulan diwakili oleh 2 sistem syaraf yang berbeda, yaitu mekanisme yang dikenal dgn “Fight or Flight response” dan “Rest and Fullfillment response”. Mekanisme “Fight or Flight response” diwakili oleh sympathetic nervous system dan “Rest and Fulfillment response” yang diwakili oleh parasympathetic nervous system.

Secara alamiah sebenarnya 2 mekanisme ini berjalan silih berganti dalam siklus kehidupan manusia. Dalam kondisi terdesak secara natural seseorang akan melakukan mekanisme pertahanan diri “Fight or Flight Response” ini. Kemudian setelah kondisi yang dianggap membahayakan bisa dilewati biasanya secara Fisik dan Non Fisik seseorang akan mengalami suatu kelelahan yang luar biasa. Dan hal ini secara natural akan mengaktifkan pertahanan diri yang lain yaitu “Rest and Fulfillment Response” yang secara sederhana kita kenal sebagai kondisi istirahat penuh atau ‘deep sleep’. Pada kondisi “deep sleep” inilah tubuh berusaha mengembalikan lagi keseimbangan Fisik dan Non Fisik yang dialami setelah kondisi yang dianggap membahayakan tersebut dilewati.

Manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran cipta, rasa, dan karsa. Secara naluri manusia bisa memahami adanya “fight or flight response” dan “rest and fulfillment response” ini dan berusaha menduplikasikan fenomena ini secara sadar.

Penduplikasian mekanisme “Fight or Flight response” akan saya bahas nanti secara khusus beserta system hormon yang terlibat didalamnya. Sedang penduplikasian mekanisme “Rest and Fulfilment response” kita kenal dalam teknik pernafasan lain yang dikenal dgn Pernafasan Meditasi. Pernafasan jenis ini akan membawa pada kondisi relaksasi yang dalam yang menyerupai kondisi ‘deep sleep’. Dalam kondisi Meditatif inilah biasanya “Rest and Fulfillment response” bekerja optimal. Sensasi yang dirasakan para paktisi meditasi ini adalah rasa damai, peningkatan awareness (kesadaran), perubahan persepsi dan kognitif, dll.

Biasanya tujuan dari pernafasan meditatif adalah peningkatan awareness yang bagi sebagian kalangan seringkali disebut pencerahan.

Peningkatan Awareness pada pernafasan meditatif yang bersifat “Rest and Fulfillment response” dan melibatkan parasympathetic nervous system ini berbeda dgn peningkatan Awareness pada Pernafasan yang bersifat “Fight or Flight response” yang melibatkan sympathetic nervous system. Kondisi Awareness dalam keadaan “Fight or Flight State” lebih bersifat Kesadaran Aktif dimana seseorang secara aktif memilah informasi yang dianggap relevan sedang informasi yang tidak relevan akan cenderung diabaikan. Kondisi Awareness dalam tahap Meditatif lebih bersifat Kesadaran Pasif dimana seseorang menjadi lebih bisa menerima terhadap segala informasi yang ada baik internal maupun eksternal tanpa ada proses aktif untuk memilah.

Dalam Psikologi dikenal sebagai ‘Active Awareness’ dan ‘Passive Awareness’ atau ‘Kesadaran Aktif’ dan ‘Kesadaran Pasif’.

Sederhananya bisa dianalogikan sebagai berikut : dalam situasi “Fight or Flight Response” seseorang yang mengalami peningkatan awareness bisa mendengar adanya suara nafas lawan yang bersembunyi dibalik air terjun. Secara selektif suara air terjun diabaikan dan tidak terdengar lagi oleh orang tersebut. Yang hanya didengar adalah suara nafas lawannya saja. Tetapi dalam kondisi “Rest and Fulfillment Response” yang bersifat meditatif, seseorang bisa mendengar suara nafas lawan yang bersembunyi dibalik air terjun tanpa mengabaikan suara air terjun itu sendiri. Bagi orang tersebut, suara air terjun ataupun suara nafas lawannya seperti suatu paduan suara musik orchestra yang saling mengisi.

Bisa menerima segala informasi yang ada disekitar kita dan keseluruhan informasi ini menjadi satu orchestra yang harmonis inilah yang memberikan rasa damai dan kesatuan antara pengamat dan yang diamati. Bisa dikatakan secara subyektif bahwa sensasi dalam kondisi meditatif yang dirasakan adalah adanya penyatuan antara mikrokosmos (tubuh) dan makrokosmos (alam semesta) karena pada kondisi meditatif ini mikrokosmos (tubuh) menjadi sangat receptive terhadap informasi yang ada pada makrokosmos (alam semesta) – seakan tidak ada batas lagi antara keduanya.

Istilah jawa “cedak tan senggolan, adoh tan wangenan”, dibilang dekat, tidak bersinggungan, dibilang jauh, tidak ketahuan jaraknya.

Secara psikologi memang terdapat perbedaan sensasi yang dirasakan pada kedua mekanisme ini.

Secara alamiah sebenarnya kedua mekanisme ini saling melengkapi satu sama lain dan memiliki fungsinya masing-masing dan bukan sesuatu yang bertentangan.

Sebenarnya sudah cukup banyak penelitian tentang Meditasi dilakukan oleh para Scientists di dunia barat. Pendekatan yang dilakukan sudah cukup beragam pula. Ada penelitian dgn metode pendekatan fisiologi hormon tubuh yang diakibatkan pengaruh Meditasi. Ada juga metode pendekatan neurology pada Meditasi, pendekatan psikologi, dsb. Penelitian ini menarik karena berusaha untuk memahami lebih jauh bagaimana tubuh ini bekerja dalam kondisi meditatif. Penelitian ini melibatkan praktisi meditasi dari berbagai macam kalangan baik itu Yogist, Zen Buddist, Tao, dsb.

Dari penelitian Neurology bisa diketahui pernafasan Meditasi yang bersifat “rest and fulfillment response” mengaktifkan parasympathetic nervous system yang berbanding terbalik dgn sympathetic nervous system yang dilakukan pada situasi “fight or flight response” mechanism. Dari sisi metabolism tubuh pada kondisi meditatif terjadi penurunan konsumsi oksigen, detak jantung, tingkat pernafasan dan tekanan darah. Dari sisi gelombang otak terjadi peningkatan gelombang alpha, theta dan delta yang menunjukan adanya penurunan tingkat stress. Beberapa penelitian menunjukan pernafasan meditatif juga bisa mengontrol tingkat gula darah pada penderita diabetes dikarenakan penurunan metabolism tubuh pada kondisi meditatif ini.

Dari penelitian hormon, pernafasan meditasi pada tingkat gelombang alpha dan theta pada otak akan berakibat pada peningkatan hormone DHEA (40-90%) dan Melatonin (90-300%). Peningkatan DHEA akan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Sedang hormone Melatonin bersifat sebagai antioksidan alami tubuh. Dalam kondisi meditatif pada tingkat gelombang delta pada otak akan berakibat pada peningkatan hormone HGH (Human Growth Hormone). Fungsi HGH meningkatkan kekuatan otot dan tulang, mengurangi lemak tubuh, dan meningkatkan fungsi otak serta bersifat antiaging (anti penuaan) tubuh yang alami. HGH biasanya banyak dihasilkan pada usia anak-anak dan semakin berkurang pada usia lanjut hingga 50% pada usia 50 tahun ke atas. HGH yang bersifat antiaging dipercaya sebagai penyebab para praktisi meditasi tingkat advanced seringkali berusia panjang.

Sayangnya penelitian yang sama belum pernah dilakukan pada MP. Jika kita amati Sistem Pernafasan MP, selain yang melibatkan sistem “Fight or Flight response” seperti Pernafasan Power, MP juga memiliki sistem pernafasan yang melibatkan “Rest and Fullfilment response” yang bersifat meditatif. Latihan olah nafas seperti pengendapan dan Getaran adalah salah satu pernafasan MP yang bersifat Meditatif. Selama ini belum ada penelitian ilmiah yang dilakukan untuk memahami pernafasan MP ini baik yang bersifat “Fight or Flight response” maupun “Rest and Fullfillment Response”. Dan ini area yang bagi saya menarik untuk dilakukan kajian.

Sampai saat ini, MP baru melakukan penelitian dari sisi ATP yang dihasilkan dalam Pernafasan Power MP seperti yang dilakukan pada Operasi Seta I. Belum ada lagi penelitian tentang pernafasan MP dari sudut Muscle Fibers (serabut otot) yang digunakan, Lactate Threshold (ambang batas asam laktat), dll. Begitu pula belum pernah dilakukan penelitian terhadap sistem hormon tubuh dan hubungannya terhadap pernafasan MP baik yang bersifat Power maupun Meditatif. Sehingga kita bisa tahu mengapa banyak praktisi yang “bludrekan”, “gampang emosian”, “cepat naik pitam”, “mutungan”, dan sejenisnya.

Konon ada keluhan dari praktisi power MP, bahwa latihan getaran menurunkan power mereka. Jika kita asumsikan pernafasan getaran bersifat meditatif maka bisa dimengerti mengapa pada latihan Getaran ada keluhan terjadinya penurunan Power pada praktisi MP. Dari sisi hormon, pernafasan meditatif akan mengaktifkan hormon yang bersifat menurunkan hormon yang dihasilkan oleh pernafasan power dan sisi neurology pernafasan meditatif akan mengaktifkan parasympathetic nervous system yang akan menurunkan aktifitas sympathetich nervous system yang digunakan pernafasan Power. Hal ini bisa dipahami karena memang pernafasan yang bersifat meditatif (Rest and Fulfillment Response) bekerja sebagai counter balance dari pernafasan Power yang bersifat “Fight or Flight Response”. Pernafasan pengendapan atau getaran yang bersifat meditatif adalah penyimbang bagi pernafasan power MP. Sama seperti halnya “Rest and Fulfillment Response” adalah penyimbang dari “Fight or Flight Response” yang biasanya terjadi secara natural dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, kita jumpai pula praktisi MP yang mumpuni baik dari sisi power maupun getaran. Nah, bagaimana kalau seperti itu? Kapan-kapan akan saya coba urai lagi. Karena ini bagian yang tidak kalah menarik.

Semoga bermanfaat.

Sehat, Bugar, dan Powerfull bersama Kebugaran Merpati Putih!

Salam hangat,
MG

About MG

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by MG →